Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga pada hari Jumat yang penuh keberkahan ini kita masih dapat melaksanakan ibadah salat Jumat dengan khusyuk dan penuh ketundukan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Sebab ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan bekal utama menuju kebahagiaan akhirat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Beberapa hari yang lalu jutaan jamaah haji dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci menunaikan rangkaian ibadah haji. Mereka meninggalkan keluarga, harta, jabatan, dan berbagai urusan dunia demi memenuhi panggilan Allah SWT. Namun sesungguhnya tujuan terbesar haji bukan sekadar menyelesaikan rangkaian manasik, melainkan melahirkan pribadi yang bertakwa dan memperoleh predikat haji mabrur. Rasulullah SAW bersabda:
اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
Artinya: “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pertanyaannya, bagaimana menjaga kemabruran setelah kembali ke tanah air?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada empat pelajaran penting yang dapat kita renungkan.
Pertama, Istiqamah dalam Ibadah.
Istiqamah dalam ibadah adalah kunci untuk meraih ketenangan hidup dan keridaan Allah SWT. Kuncinya adalah konsisten menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya secara terus-menerus, tanpa terputus oleh perubahan waktu atau kondisi. Allah SWT berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
Artinya: “Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.” (QS Hud: 112).
Kemabruran tidak diukur oleh banyaknya gelar yang disandang, tetapi oleh konsistensi dalam beribadah. Orang yang mabrur akan berusaha menjaga salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, sedekah, dan berbagai amal saleh sebagaimana yang dibiasakan selama berada di Tanah Suci.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua, Menjaga Lisan dan Akhlak.
Menjaga lisan dan akhlak adalah cerminan utama keimanan seorang muslim. Lisan yang tidak terkontrol dapat merusak amal ibadah, sementara akhlak yang mulia menjadi penentu beratnya timbangan kebaikan di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemabruran akan tampak dari perubahan perilaku. Lisan yang dahulu mudah menyakiti berubah menjadi santun. Hati yang dahulu mudah marah menjadi lebih sabar. Orang yang mabrur akan menjauhi ghibah, fitnah, permusuhan, serta berbagai perilaku yang merusak persaudaraan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga, Mempererat Silaturahmi dan Persaudaraan.
Mempererat silaturahmi dan persaudaraan adalah jembatan utama untuk merajut kebersamaan, membangun kerukunan, serta menumbuhkan rasa empati dan kasih sayang di tengah masyarakat. Praktik ini berfungsi sebagai fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang harmonis, saling menghargai, dan damai.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di Arafah seluruh manusia berdiri sejajar tanpa membedakan warna kulit, bangsa, dan kedudukan sosial. Pesan besar haji adalah persaudaraan. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat: 10).
Karena itu, haji mabrur harus melahirkan pribadi yang rendah hati, mudah memaafkan, mempererat hubungan keluarga, menghormati tetangga, serta menjaga persatuan umat dan bangsa.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat, Menebar Manfaat bagi Sesama.
Menebar manfaat adalah hakikat kehidupan yang bermakna. Konsep ini selaras dengan pepatah urip iku urup (hidup itu menyala dan memberi cahaya bagi sekitarnya). Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesamanya. Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Kemabruran tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi harus diwujudkan dalam kepedulian sosial. Membantu fakir miskin, mendukung pendidikan, menjaga lingkungan, membangun kerukunan, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa merupakan bagian dari buah kemabruran.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di tengah era digital dan berbagai tantangan menuju Indonesia Emas 2045, bangsa ini memerlukan lebih banyak pribadi-pribadi mabrur. Mereka yang jujur dalam bekerja, amanah dalam memimpin, adil dalam mengambil keputusan, santun dalam berkomunikasi, dan peduli terhadap sesama.
Haji mabrur bukan sekadar prestise sosial, melainkan transformasi spiritual yang melahirkan akhlak mulia dan manfaat sosial. Karena itu, marilah kita terus menjaga kemabruran dalam kehidupan dengan istiqamah beribadah, menjaga lisan, mempererat silaturahmi, dan menebarkan manfaat bagi sesama.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah para jamaah haji, menganugerahkan kemabruran kepada mereka, dan menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wallahu A’lam bishawab.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung