UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Riset UIN SGD Bandung, Kefir Susu Bisa Cegah Stunting

[www.uinsgd.ac.id] Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung telah berhasil melakukan penelitian mengenai manfaat kefir susu. Salah satunya untuk mencegah kasus stunting alias anak bertubuh pendek. Setelah penelitian, UIN Bandung pun memperkenalkan maaf itu ke masyarakat.

Pengenalan ini dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) 2018. Kegiatan dilakukan di Desa Mitra Kampus Pusat PkM Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Desa Pasir Biru, Kecamatan Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (17/7).

“Kegiatan pengenalan dan pembuatan produk fermentasi susu dengan probiotik kefir ini bertujuan untuk mencegah terjadinya stunting pada balita melalui intervensi tingkat pertama, yaitu perbaikan asupan nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan. Sasaran kegiatan ini adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita 6 hingga 24 bulan.

Peserta kegiatan ini melibatkan 2 orang bidan desa, 11 orang kader PKK, kader Pos Yandu, 4 orang pendampingan Program Keluarga Harapan (PKH), dan 43 keluarga penerima manfaat PKH Kemensos,” jelas Dr Neneng Windayani, peneliti UIN Bandung, Rabu (18/7).

Materi yang disampaikan ke masyarakat berupa pengantar pencegahan stunting dan pengenalan kefir susu seperti asal usul, karakteristik, manfaat, dan cara pembuatannya. Semua peserta mempraktikkan pembuatan kefir susu menggunakan bibit praktis kefir prima dan grain kefir.

Hasil praktik selanjutnya dibawa ke tempat asal masing-masing untuk dilanjutkan fermentasi hingga tuntas dan hasilnya dimanfaatkan sebagai asupan nutrisi harian.

“Ketua Tim Peggerak PKK Desa Pasir biru menyambut positif kegiatan ini, karena sangat bermanfaat dan mudah diaplikasikan apalagi. Kemudian, Kepala Desa Pasir Biru berencana membuka peternakan kambing perah untuk bersinergi, memasok bahan baku agar kegiatan ini dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat pada jangka panjang,” jelas dosen Kimia Organik dan Kimia Bahan Alam tersebut.

Kepala UPT Puskesmas Rancakalong berharap, kegiatan itu dilanjutkan pada scope yang lebih luas dan kerja sama yang berkelanjutan. Kegiatan itu dianggap penting mengingat tingkat prevalensi stunting di Kabupaten Sumedang cukup tinggi.

“Adapun hasil kegiatan ini akan ditindaklanjuti pada tahap kedua PkM berupa pendampingan pembuatan kefir susu, baik secara online menggunakan media sosial maupun secara offline kepada setiap kelompok di tempat masing-masing. Kegiatan tahap kedua juga bersamaan dengan pendataan kondisi awal khalayak sasaran serta pendampingan pemanfaatan kefir susu untuk tujuan kesehatan,” jelas Neneng.

Untuk tahap ketiga nanti, kegiatannya berupa pendampingan pembuatan produk turunan kefir susu dan pemanfaatan kefir untuk tujuan lain, seperti kecantikan atau wirausaha. Semua tahap ini berlangsung mulai 17 Juli hingga 18 Agustus 2018 dan diakhiri dengan evaluasi program yang telah dilaksanakan. “Pengabdi berharap agar tercipta masyarakat yang lebih sehat dan produktif melalui pemanfaatan kefir berbasis bahan baku lokal,” tutup Neneng. [ian]

Sumber, RMOL RABU, 18 JULI 2018 , 22:12:00 WIB