Ketika Ruang Kelas Berpindah ke Tengah Kehidupan
UINSGD.AC.ID (Humas) — Ruang kuliah menjadi tempat mahasiswa mengenal teori, menyusun gagasan, dan melatih cara berpikir. Namun, ada satu pelajaran yang tidak dapat sepenuhnya ditemukan di balik meja perkuliahan, yaitu memahami kehidupan melalui pengalaman nyata bersama masyarakat. Di titik inilah Kuliah Kerja Nyata (KKN) menghadirkan makna yang berbeda.
Sering kali mahasiswa datang ke lokasi KKN dengan keyakinan bahwa mereka akan memberikan kontribusi kepada masyarakat. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat justru menjadi guru yang mengajarkan banyak hal.
Masyarakat mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau konsep yang rumit. Di berbagai desa, misalnya, kebersamaan menjadi modal utama dalam menyelesaikan persoalan bersama. Nilai tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak hanya terletak pada sumber daya yang dimiliki, tetapi juga pada rasa saling percaya dan kepedulian antarsesama.
Pengalaman KKN memperlihatkan bahwa setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam mempertahankan identitasnya. Tradisi lokal, bahasa, kesenian, hingga kebiasaan sehari-hari menjadi bukti bahwa keberagaman bukanlah sekadar perbedaan, melainkan kekayaan yang perlu dipahami dan dihargai.
Ketika mahasiswa mau mendengarkan cerita para tokoh masyarakat, para orang tua, maupun generasi muda di desa, mereka sedang mempelajari sejarah yang hidup di tengah masyarakat. Pengetahuan semacam ini sering kali tidak tertulis dalam literatur akademik, tetapi diwariskan melalui pengalaman dan nilai-nilai kehidupan.
Di sisi lain, masyarakat mengajarkan arti kesederhanaan. Tidak sedikit keluarga yang hidup dengan keterbatasan ekonomi, tetapi tetap mampu menunjukkan sikap ramah, terbuka, dan penuh rasa syukur. Dari situ mahasiswa belajar bahwa ukuran kesejahteraan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya materi yang dimiliki.
KKN menjadi ruang untuk melatih kemampuan berkomunikasi secara nyata. Berinteraksi dengan masyarakat berarti belajar menyesuaikan bahasa, memahami cara berpikir yang beragam, serta menghargai setiap pendapat.
Mahasiswa UIN SGD Bandung jurusan Jurnalistik, Aisyah Hana, menjelaskan bahwa KKN menjadi ruang untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam yang moderat dan membawa manfaat bagi lingkungan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari proses membangun hubungan yang harmonis antara mahasiswa dan masyarakat.
“Kenangan dari KKN pasti akan selalu ada, tetapi yang lebih penting itu nilai yang kita dapat selama KKN harus diterapkan setelah programnya selesai. Misalnya jadi lebih peduli sama masyarakat, lebih peka sama masalah di sekitar, dan lebih terbiasa kerja sama dengan orang lain. Jadi KKN bukan cuma buat dikenang, tapi jadi bekal untuk kehidupan kita ke depannya,” ujarnya saat diwawancarai, Senin, (20/7/2026).
Pada akhirnya, KKN bukan hanya tentang berapa banyak program yang berhasil dilaksanakan atau berapa lama mahasiswa tinggal di lokasi pengabdian. Lebih dari itu, KKN adalah perjalanan yang mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Mahasiswa mungkin datang dengan membawa ilmu dari kampus, tetapi mereka pulang dengan membawa pengalaman, kebijaksanaan, serta pemahaman baru tentang arti hidup berdampingan dengan masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki makna ketika mampu berpijak pada realitas kehidupan. Sebab, masyarakat bukan hanya objek pengabdian, melainkan mitra belajar yang menghadirkan pelajaran tentang kebersamaan, ketulusan, ketangguhan, dan nilai-nilai kemanusiaan. (Fitri Awaliyah / Magang)


