Yakin Qodarullah: Dalam Hal Apapun

(UINSGD.AC.ID) — Jadi ingat sebab turunnya ayat. Surat Al-Kahfi ayat 23-24. Itulah yang saya ingat dan rasakan, weekend ini. Jauh-jauh hari sudah dijadwalkan. Ikut acara rapat koordinasi dengan para pimpinan kampus lainnya. Minggu-Rabu di Puncak Bogor. Bahkan sampai hari Jum’at lalu. Ketika ada rapim di pagi hari, di kampus di Bandung. Masih sangat yakin akan ikut rombongan. Minggu ba’da dzuhur. Berangkat dari kampus dua.

Tapi rupanya takdir berkata lain. Ba’da Jum’at. Dapat chat WA dari si bungsu. Yang sedang mencari ilmu di pondok, di Kuningan. Menanyakan, bolehkah di test Hb. Sedang di klinik pondok. Karena dari pagi terasa lemas. Pusing tujuh keliling. Serasa mau jatuh, lirihnya. Ikuti saja saran dokter, itu jawaban saya. Hasilnya mengagetkan. Hb nya sangat rendah. Dokter memberi saran. Segera dirujuk ke UGD rumah sakit. Perlu transfusi secepatnya.

Dengan kabar itu. Sebagai orang tua. Tidak pikir Panjang. Langsung tancap gas. Lewat tol baru. Cisumdawu, disambung Cipali. Sangat efektif. Yang biasanya perlu tiga bahkan empat jam. Sekarang cukup dua jam saja. Dari Bandung ke Pondok Ananda. Tidak mau diajak ke UGD, oleh teman-temannya. Oleh ustadzahnya. Oleh sodara sekalipun. Tetap mau nunggu kami.

Langsung kami bawa ke UGD. Rumah sakit terdekat. Dokter jaga mengatakan, harus rawat inap. Perlu tiga labu darah transfusi. Dalam tiga hari ke depan. Sampai sore ini. Yang seharusnya sudah di Puncak Bogor. Ikut rapat itu. Kami masih menemani. Sang buah hati. Di rumah sakit. Itulah takdir. Itulah qodarullah.

Peristiwa apapun. Kegiatan apapun. Kita tidak bisa mengelak. Kalau Tuhan mentakdirkan. Maka ikuti takdir-Nya. Ambil hikmahnya. Ambil pelajaran darinya. Banyak hikmah yang saya dapat. Selama tinggal di rumah sakit. Pelajaran tentang kesabaran. Pelajaran tentang pengabdian. Tentang tanggung jawab pekerjaan. Yang ditunjukkan oleh para tenaga medis. Salut atas pengabdian mereka. Tidak mengenal lelah. Tidak mengenal jadwal weekend. Tidak mengenal jam berapa bekerja. Siang jadi malam. Malam jadi siang. Komitmen atas profesi pekerjaan.

Peristiwa ini. Seperti saya sebut di awal tulisan. Mengingatkan atas dua ayat surat Al-Kahfi itu. Tentang teguran Allah kepada Sang Rasul Agung. Ketika ditanya oleh para pemimpin Quraisy. Untuk membuktikan kerasulannya. Tiga pertanyaan yang diajukan: tentang kisah pemuda-pemuda dalam sejarah, yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka; tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi atas diri mereka; Dan terakhir, tentang ruh. Jika Muhammad bisa menjawab pertanyaan itu. Maka betul beliau seorang Nabi dan Rasul. Itulah saran seorang Pendeta Yahudi kepada utusan Quraisy. Yang datang bertanya kepadanya.

Ketika utusan Quraisy itu menghadap Rasul. Untuk meminta jawaban atas tiga pertanyaan di atas. Rasul Agung menjawab dengan yakin: “Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok.”

Ternyata, diceritakan dalam sebuah riwayat, setelah lima belas hari. Sang Rasul belum mendapat wahyu. Untuk menjawab tiga pertanyaan kaum Quraisy. Padahal Manusia Agung itu. Sangat yakin bahwa Jibril akan membawakan wahyu untuknya. Dari Sang Maha Pencipta. Dari Sang Maha Tahu.

Tentu olok-olok lah yang diterima sang Rasul. Dari para pemimpin Quraisy. Karena janji satu hari bisa menjawabnya, tidak terpenuhi. Turunlah teguran Sang Khaliq. Kepada manusia Mulia. Dengan surat Al-Kahfi ayat 23-24 itu.

“Dan janganlah mengatakan sesuatu yang engkau berniat untuk melakukannya: aku akan melakukan sesuatu itu besok. Kecuali engkau menggantungkan ucapanmu dengan kehendak Allah.”

Insya Allah. Itulah phrase terkenal. Ketika kita berjanji. Atau akan melakukan sesuatu. Jangan terlalu yakin. Bisa mengerjakannya. Tanpa bersandar. Kepada kekuasan Allah. Kepada takdir Allah. Phrase Insya Allah itu. Harus dimaknai positif. Bahwa komitmen kita. Keyakinan kita. Akan sungguh-sungguh siap. Mengerjakan sesuatu. Tetap memberi ruang, jika Allah berkehendak. Bukan mengatakan Insya Allah. Yang basa-basi. Padahal tidak berniat. Untuk menepati janji.

Kembali ke kisah Nabi. Memang pada akhirnya. Allah mengutus Jibril dengan menurunkan wahyu. Pemuda yang bepergian itu dijawab sebagai Ashabul Kahfi (QS 18:9-26); pengembara itu adalah Dzulqarnain (QS 18:83-101); dan jawaban atas pertanyaan apa itu ruh (QS 17:85). Jawablah pertanyaan tentang ruh itu, hanya urusan Rabb-mu.

Menurut mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Jaami’ul Bayan. Kisah tentang sebab turunnya ayat di atas mengandung hikmah, “Pengajaran Allah kepada Rasulul-Nya agar jangan memastikan. Suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah.”

Dalam Bahasa Ulum al-Qur’an, sebab turunnya ayat itu, disebut Asbab Al-Nuzul. Tujuh kitab yang saya ingat. Ketika dulu di pesanten. Ketika dulu kuliah di Tafsir Hadits.  Ada Asbab al-Nuzul karya Al-Wahidi (w. 468 H); al-‘Ujab fi Bayan al-Asbab karya Ibn Hajar Al-‘Asqalani (w. 852 H); Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul karya Jalaluddin Al-Suyuthi (w. 911 H); Tashil al-Wushul ila Ma’rifah Asbab al-Nuzul karya Khalid Abdurrahman al-‘Ikk (1419 H); al-Sahih al-Musnad min Asbab al-Nuzul karya Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (1422 H); Al-Isti’ab fi Bayan al-Asbab karya Salim bin I’d Al Hilali dan Muhammad bin Musa Alu Nashr (1425 H); Yang terakhir berbahasa Indonesia. Karya Muhammad Chirzin (2015 M). Mengerti Asbabun Nuzul, judulnya.

Kalau Rasul saja ditegur. Apalagi kita manusia biasa. Kita tidak bisa memastikan. Apa yang akan kita kerjakan. Jangankan besok hari. Minggu depan. Bulan depan. Tahun depan. Satu menit dua menit ke depan saja. Hanya Allah yang tahu. Poinnya hanya karena kehendak dan ijin Allah lah kita beraktivitas.

Memang dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan takdir ada ayat yang mengatakan. Sesugguhnya ‘nasib’ suatu kaum tidak akan berubah. Jika kaum itu tidak mengubahnya oleh diri mereka sendiri (QS 13: 11). Tapi jangan lupa ada ayat lain. Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan (QS 37:96)

Dua perbedaan tafsir. Atas dua ayat di atas. Menimbulkan perbedaan madzhab pemikiran. Dalam sejarah theology Islam. Tapi tidak perlu dipertentangkan. Perlu pembahasan khusus. Tentang tafsir ini. Perlu rujukan dan membaca lagi kitab-kitab tafsir.

Secara sederhana. Anggap saja QS Ashafat ayat 96 ditujukan bagi mereka yang sombong. Yang menganggap hasil prestasinya hasil keringat mereka sendiri. Tidak ada campur Tuhan di dalamnya. Sementara QS Ar’Ra’du ayat 11 ditujukan, bagi mereka yang malas berusaha. Jika kamu hanya tidur. Tidak melakukan aksi. Maka takdir mu tidak akan berubah. Perlu ilmu dan kebijaksanaan. Dalam memahami ayat Al-Qur’an. Perlu tahu ilmu Asbab AL-Nuzul. Selain ilmu-ilmu tafsir lainnya. Ada tafsir tekstual. Ada Tafsir kontekstual. Ada sabab nuzul mikro, ada asbab nuzul makro, demikian kata Fazlur Rahman.

Mudah-mudahan Allah segera mentakdirkan kesembuhan Ananda. Sehingga proses jihad mencari ilmunya tidak terganggu, Amiin Ya Rabb.

Prof. Ahmad Ali Nurdin, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *