Sertifikasi Kompetensi Perkuat Profesionalisme Penulis dan Penyunting di Era Konten Digital

UINSGD.AC.ID (Humas) — UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus memperkuat budaya mutu melalui penyelenggaraan Uji Sertifikasi Kompetensi Penulis Buku Nonfiksi dan Penyunting (Editor) Buku bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional (LSP PEP), Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), serta Career Development Center (CDC).

Kegiatan yang berlangsung di Aula FTK, Rabu (8/7/2026) ini menjadi ikhtiar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memastikan para penulis dan penyunting memiliki kompetensi yang diakui secara nasional sesuai standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Dalam laporannya, Ketua Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBI) FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dr. Hj. Yeti Heryati, S.Ag., M.Pd., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada tim asesor dan admin LSP PEP serta seluruh peserta yang berasal dari berbagai institusi.

“Atas nama Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, kami mengucapkan selamat datang kepada tim asesor dan admin dari LSP. Para peserta berasal dari berbagai institusi, yaitu dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (TBI, PBI, PBA, dan PAI), dosen Fakultas Ushuluddin, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Wakil Rektor III Universitas Cipasung Tasikmalaya, dosen Telkom University, serta rekan-rekan dari Yayasan Akselerasi Insan Indonesia. Kehadiran Bapak dan Ibu menunjukkan komitmen bersama untuk terus meningkatkan kompetensi profesional di bidang kebahasaan,” ujarnya.

Kegiatan ini menghadirkan dua klaster sertifikasi yang sangat relevan dengan kebutuhan akademik dan profesional saat ini, yaitu Penulisan Buku Nonfiksi dan Penyuntingan Naskah.

“Kedua skema tersebut bukan hanya menjadi bentuk pengakuan atas kompetensi yang dimiliki, tetapi menjadi ikhtiar bersama dalam meningkatkan mutu karya akademik, publikasi ilmiah, dan ekosistem literasi di perguruan tinggi maupun masyarakat,” jelasnya.

Mewakili Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa Dr. H. Dedih Wahyudin, M.Ag. menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, sertifikasi profesi merupakan bagian dari komitmen FTK dalam mendukung program peningkatan kompetensi dosen yang menjadi salah satu prioritas pengembangan sumber daya manusia di lingkungan fakultas.

Penguatan kompetensi dosen melalui sertifikasi tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga berkontribusi terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan publikasi ilmiah.

“Fakultas memberikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap program peningkatan kompetensi dosen yang menjadi salah satu prioritas utama FTK. Sertifikasi profesi seperti ini menjadi langkah konkret untuk memastikan dosen memiliki kompetensi yang terstandarisasi sesuai tuntutan dunia akademik dan profesi,” ungkapnya.

Uji sertifikasi kompetensi ini sangat relevan dengan implementasi Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 3.0 yang menekankan pentingnya kompetensi dosen yang terstandarisasi, baik pada tingkat nasional maupun internasional.

“Kegiatan ini sangat linier dengan kebutuhan akreditasi program studi berbasis standar 3.0 yang mensyaratkan kompetensi dosen terstandarisasi, baik pada level nasional maupun internasional. Karena itu, kami berharap semakin banyak dosen FTK yang mengikuti sertifikasi profesi sebagai bagian dari peningkatan mutu berkelanjutan dan penguatan daya saing institusi,” tambahnya.

Kepala Career Development Center (CDC) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Heri Gunawan, S.Pd.I., M.Ag., menegaskan bahwa sertifikasi profesi memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas publikasi akademik dan mendukung reputasi institusi di tingkat nasional maupun internasional.

Terdapat tiga manfaat utama dari pelaksanaan sertifikasi kompetensi bagi dosen dan tenaga akademik. Pertama, peningkatan mutu dosen, karena sertifikasi menjadi bukti objektif bahwa dosen memiliki kompetensi yang mumpuni dalam menghasilkan literatur serta menyunting karya ilmiah sesuai standar nasional. Kedua, meningkatkan daya saing institusi, dengan menghadirkan tenaga pendidik dan lulusan yang unggul, kompetitif, serta adaptif terhadap perkembangan dunia literasi dan pendidikan. Ketiga, mendorong produktivitas akademik, khususnya dalam penulisan buku nonfiksi dan penerbitan karya ilmiah yang berkualitas sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Tim Asesor LSP PEP, Yadi Mulyadi, Ph.D., menegaskan bahwa sertifikasi kompetensi bukan sekadar memperoleh sertifikat, melainkan bentuk pengakuan profesional terhadap kemampuan yang dimiliki seorang penulis maupun penyunting.

Mengingat masih banyak penulis dan penyunting yang mempertanyakan pentingnya mengikuti sertifikasi, terutama mereka yang telah lama berkarya dan memiliki pengalaman yang luas.

“Ada sebuah pertanyaan yang sering disampaikan kepada kami, ‘Saya sudah menulis bertahun-tahun, karya saya sudah banyak, saya juga sudah senior dalam penulisan dan penyuntingan, mengapa harus mengikuti kegiatan sertifikasi ini?'”

Menjawab pertanyaan tersebut, Yadi menjelaskan bahwa sertifikasi memiliki sedikitnya tiga manfaat utama. Pertama, memberikan pengakuan formal terhadap kompetensi penulisan dan penyuntingan sehingga keahlian yang dimiliki memperoleh legitimasi secara nasional dan profesional. Kedua, menjadi instrumen peningkatan standar kerja karena sertifikasi membuktikan bahwa seseorang bekerja berdasarkan standar kompetensi yang terukur, bukan semata-mata berdasarkan pengalaman atau intuisi. Ketiga, menjadi benteng kualitas di tengah derasnya arus konten instan yang beredar di ruang digital.

“Di tengah gempuran konten instan, Anda adalah para profesional yang menjamin bahwa apa yang dikonsumsi masyarakat adalah karya yang bergizi,” tegasnya.

Keberadaan penulis dan penyunting yang tersertifikasi memiliki peran strategis dalam menjaga mutu informasi yang beredar di masyarakat. Sertifikasi kompetensi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi dan publikasi yang berkualitas, kredibel, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan mengapresiasi tingginya antusiasme peserta yang mengikuti uji sertifikasi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Menurutnya, semangat tersebut menunjukkan komitmen sivitas akademika untuk terus meningkatkan kapasitas dan profesionalisme di bidang kepenulisan dan penyuntingan.

“Saya sangat senang melihat antusiasme peserta Uji Sertifikasi Penulis dan Penyunting di UIN SGD. Mari kita warnai dunia dengan tulisan yang menginspirasi, dan kita rapikan dunia dengan suntingan yang presisi,” bebernya.

Kegiatan ini diikuti dosen dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga, di antaranya dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Cipasung Tasikmalaya, Telkom University, serta Yayasan Akselerasi Insan Indonesia. Para peserta mengikuti asesmen berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) pada skema Penulis Buku Nonfiksi dan Editor Buku.

Dengan adanya kolaborasi antara LSP PEP, Program Studi Tadris Bahasa Indonesia FTK, dan Career Development Center (CDC), UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap semakin banyak dosen, tenaga kependidikan, dan lulusan yang memiliki kompetensi terstandarisasi di bidang penulisan dan penyuntingan.

“Sertifikasi ini diharapkan mampu mendorong lahirnya buku, karya ilmiah, dan berbagai publikasi berkualitas yang memperkuat budaya akademik, meningkatkan reputasi perguruan tinggi, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan literasi nasional dan daya saing sumber daya manusia Indonesia di era transformasi digital,” pungkasnya.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *