4 Hasil Monitoring KKN Tematik Moderasi Beragama UIN Bandung di Desa Pangandaran

UINSGD.AC.ID (Humas) — Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Moderasi Beragama UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Desa Pangandaran menunjukkan kontribusi nyata dalam memperkuat kerukunan masyarakat melalui dialog lintas agama, penguatan toleransi, serta pelestarian budaya lokal.

Hasil monitoring menegaskan bahwa keberagaman sosial-keagamaan di wilayah pesisir Pangandaran menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk mempraktikkan nilai-nilai moderasi beragama secara langsung di tengah masyarakat.

Monitoring KKN Tematik Moderasi Beragama itu dilaksanakan melalui kegiatan Dialog Lintas Agama di Kantor Desa Pangandaran, Kamis (13/8/2026). Kegiatan dihadiri aparat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya lokal, serta mahasiswa peserta KKN Tematik Moderasi Beragama UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., MA., bertindak sebagai pemantik sekaligus moderator. Dengan mengajak para narasumber membahas pemahaman moderasi beragama, landasan keagamaan yang digunakan, serta pengalaman dalam menerapkan nilai-nilai moderasi beragama di tengah masyarakat.

Dari kegiatan monitoring itu, terdapat empat hasil utama yang menjadi capaian KKN Tematik Moderasi Beragama di Desa Pangandaran.

Pertama, memperkuat dialog dan kerukunan lintas agama. Mahasiswa KKN memfasilitasi ruang silaturahmi antara tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan perangkat pemerintahan desa untuk membahas berbagai isu kerukunan di tingkat lokal. Forum ini menjadi ruang bersama untuk membangun komunikasi, saling memahami, dan menjaga hubungan harmonis di tengah keberagaman masyarakat.

Ketua MUI Desa Pangandaran, Ustadz Ahbab Hambali, menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjalankan ajaran agama secara benar dan berusaha menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungan. Menurutnya, pemahaman agama secara utuh menjadi salah satu kunci agar nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kedua, menguatkan praktik toleransi melalui dialog lintas agama. Pendeta Gereja Kristen Protestan, David Setiawan, menyampaikan bahwa ajaran pokok Kristen menekankan kasih sayang kepada Tuhan dan sesama makhluk. Tentunya sebagai bagian dari kelompok minoritas, umat Kristen mengikuti aturan pemerintah, termasuk ketentuan yang berkaitan dengan pendirian rumah ibadah.

Dialog itu memperlihatkan pentingnya komunikasi antarumat beragama sebagai sarana membangun pemahaman bersama dan mencegah munculnya prasangka maupun konflik di tengah masyarakat.

Ketiga, memperkuat budaya gotong royong dan kebersamaan warga. Program KKN turut mendorong penguatan tradisi gotong royong sebagai praktik sosial yang mampu mempererat persaudaraan warga. Pendekatan inklusif yang digunakan mahasiswa menempatkan tradisi kebersamaan sebagai ruang interaksi seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama maupun kelompok.

Keempat, mengakomodasi dan merawat kebudayaan lokal. Tokoh budaya lokal, Edi, menjelaskan bahwa tradisi Hajat Laut merupakan warisan para sesepuh yang mengandung pesan syukur atas rezeki yang diperoleh masyarakat dari laut. Selain memiliki nilai budaya, tradisi ini memiliki dimensi ekonomi karena dapat menjadi daya tarik wisata bagi Pangandaran.

Pemaknaan terhadap tradisi lokal tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan moderasi beragama, terutama dalam mengakomodasi budaya masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan bersama. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana program, tetapi berusaha belajar memahami konteks sosial, agama, dan budaya masyarakat secara langsung.

Kegiatan monitoring berlangsung lancar dan memberikan tambahan wawasan bagi mahasiswa maupun masyarakat. Dialog lintas agama dan penguatan budaya lokal menjadi ruang strategis untuk mempererat hubungan antarkelompok dan meneguhkan empat pilar moderasi beragama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal.

Dengan adanya KKN Tematik Moderasi Beragama, UIN Sunan Gunung Djati Bandung mendorong mahasiswa untuk menjadikan keberagaman bukan sebagai sumber perbedaan, melainkan sebagai kekuatan dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, inklusif, dan harmonis.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *