RESPEK DALAM BERKOMUNIKASI

(UINSGD.AC.ID)-Kata maneh sudah begitu familiar di masyarakat Sunda. Banyak yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Baik di kalangan anak-anak, muda, maupun generasi orang tua. Namun kata maneh mendadak viral gara-gara memiliki kekuatan yang sanggup mengakibatkan seorang guru dipecat. Banyak orang juga yang mencari tahu makna kata maneh.

Maneh merupakan bahasa Sunda yang maknanya sama dengan kata anda, kamu, ente, antum, dan elu. Masalahnya ada pada penempatan dan konteks komunikasi yang tidak pas, sehingga penggunaan kata maneh berbuntut panjang. Kalau digunakan pada situasi dan kondisi yang tepat, tidak akan terjadi polemik.

Padahal anak-anak ketika bermain dengan sebanyanya kemudian menggunakan kata maneh akan biasa-biasa saja. Para remaja pun ketika berkumpul dengan teman seusianya, dan berbicara ke temannya dengan kata maneh, maka tidak akan terjadi penuntutan. Hal yang sama juga para orang tua ketemu dengan sesamanya dalam sebuah acara informal, panggilannya pun menggunakan kata maneh, dan sah-sah saja.

Kejadian ini mengingatkan akan pentingnya pemahaman dan penggunaan bahasa Ibu di masyarakat. Bahasa ibu di Indonesia cukup banyak. Setiap tahunnya terus mengalami penurunan karena tersisihkan dengan bahasa asing, lahirnya bahasa baru, sementara penutur bahasa ibu semakin berkurang.

Wajar saja kalau terjadi kesalahan dalam berbahasa lokal atau daerah. Di rumah, di sekolah, dan di lingkungan tempat kerja atau tempat tinggal sudah jarang ditemukan orang menggunakan bahasa ibunya, sebagai bahasa pengantar sehari-hari dalam berkomunikasi.

Di dalam bahasa Ibu sangat kental dengan undak unduk bahasa. Mengedepankan adab dan etika dalam berbahasa. Ada tatakrama yang harus dipakai ketika berkomunikasi. Bagaimana memberi penghargaan yang lebih pada orang yang lebih tua ketika berbahasa. Ketika berkomunikasi dengan orang tua, akan berbeda dengan komunikasi dengan sebaya atau dengan usia yang berada di bawahnya.

Oleh karenanya orang tua akan tersinggung ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih bawah secara usia, dipanggil maneh, kamu, atau elu. Akan berbeda kalau berkomunikasi dengan orang yang selevel atau seusia dan dipanggil maneh.

Di Sunda kata maneh itu pada umumnya tidak pantas dialamatkan kepada orang yang lebih tua usianya, apalagi kalau orang yang diajak bicaranya itu ialah memiliki kedudukan dan posisi yang cukup terpandang. Hal yang sama juga di Jakarta, kata elu itu pun tidak akan diterima dengan baik oleh orang tua, ketika berkomunikasi dengan anak di bawah, baik usia ataupun pengalamannya.

Namun kembali kepada masing-masing para pelaku komunikasinya. Kalau memang orang yang ketika berkomunikasi dengan siapa pun begitu bebas, tanpa hierarki bahasa, maka sah-sah saja penggunaan maneh. Tidak sedikit pula orang yang tersinggung bahkan marah karena orang tersebut menginginkan dihormati, kemudian dipanggil maneh.

Bagaimana pun, tetap saja ketika berkomunikasi, harus bisa membaca situasi, memahami konteks komunikasi, dengan siapa berkomunikasi, sampai berusaha mendudukan orang yang diajak bicara itu lebih atau memberikan respek kepadanya. Pada prinsipnya menghargai orang lain dengan penggunaan istilah yang pantas dan proporsional.

Di era seperti sekarang, sepertinya tidak ada batasan dan filter dalam berkomunikasi.

Kebebasan berekspresi dalam berkomunikasi ikut mendorong terhadap pelanggaran-pelanggaran adab dan etika berkomunikasi. Sopan santun dalam berkomunikasi sudah menjadi barang yang mahal.

Orang bisa dengan mudah memaki orang lain, memberi label kepada orang lain, mencibir orang lain, menghujat, membully, dengan berbagai istilah atau bahasa yang tidak sepantasnya diumbar ke publik. Semua itu terekspresikan ketika ada perasaan kesal atau merasa terdzalimi orang lain.   

Bagaimana pun kita orang Indonesia yang sangat mengedepankan sopan santun, etika dan adab, dan keramahaman dalam kehidupan sehari-hari. Tidak terkecuali dalam berkomunikasi dengan siapa pun. Kalau kita penuh respek pada orang lain ketika berkomunikasi, maka respek itu sejatinya untuk diri kita sendiri. Respeklah kepada semua level orang dalam berkomunikasi. Karena respek berkomunikasi hakekatnya untuk semua kalangan.

Dr. Encep Dulwahab, M.Ikom | Pakar Ilmu Komunikasi UIN Bandung

Sumber, Ayo Bandung 24 Maret 2023.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *