MIRAJ KOMUNIKASI VERTIKAL DAN HORIZONTAL

(UINSGD.AC.ID)-Belum lama ini, umat muslim kembali memperingati hari besar dalam perjalanan agama, yaitu Isra Miraj. Inilah peristiwa besar kenabian ihwal perjalanan malam dari Masjidil Haram, Mekkah, menuju Masjidil Aqsa, Palestina. Pada Isra Miraj ini, Nabi Muhammad naik menembus langit menghampiri Sang Ilahi, dan menerima perintah-Nya untuk shalat sebagai bentuk kebaktian hamba kepada Sang Khaliq.

Pasca peristiwa besar ini, umat muslim wajib menunaikan shalat 5 waktu tanpa kecuali. Dalam kondisi sakit pun tetap diwajibkan untuk menunaikannya. Selain, ada reward dan punishment di balik perintah untuk shalat, juga ada manfaat besar ketika umat muslim menunaikan shalat 5 waktu. Sebagaimana makna dari miraj, yaitu naik. Setiap tahun umat muslim memperingatkannya, diharapkan adanya peningkatan dalam ibadah shalat yang berdampak dalam peningkatan kualitas kehidupan lainnya.

Ibadah shalat sejatinya ialah komunikasi seorang muslim dengan hamba-Nya. Lima waktu shalat merupakan waktu-waktu yang tepat dan makbul untuk mengkomunikasikan isi hatinya pada Sang Maha Rahman Rahim. Dengan disampaikannya pesan-pesan kepada Penguasa Alam, bisa meringankan beban dan meyakinkan bahwa segala persoalan hidup bisa teratasi. Meskipun tidak langsung komunikasi secara interaktif dengan Sang Khaliq, namun ada perasaan yang lebih tenang, adem, tentram, dan yakin setelah menyampaikan pesan-pesan dari lubuk hati.

Efek meningkatkan kualitas komunikasi vertikal ialah kita semakin sadar akan kekurangan diri, dan segala kekhilafan yang pernah dilakukan beberapa waktu silam. Akhirnya kita menjadi orang yang lebih bijak, lebih hati-hati lagi dalam bertindak, berbuat adil kepada sesama, dan tidak banyak merugikan orang lain yang mungkin selama ini sering kali kita lupa.

Miraj juga diharapkan adanya peningkatan kualitas komunikasi horizontal dengan sesama. Sebagaimana Sang Khaliq memerintahkan umat muslim untuk segera melakukan muamalah dengan sesama, setelah urusan komunikasi vertikalnya selesai. Tidak semata-mata terus berkomunikasi vertikal, namun juga diperintahkan berkomunikasi horizontal.

Komunikasi horizontal dengan sesama apakah sudah berjalan baik atau belum. Atau jangan-jangan kita banyak disibukkan dengan urusan duniawi sehingga tidak memperhatikan orang sekitar kita. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, target, dan impian-impian lainnya sehingga mengabaikan orang-orang penting dalam lingkaran kita yang seharusnya kita sapa, perhatikan, dengar, dan respon berbagai keinginan dan kebutuhannya.

Kita juga ketika di dalam rumah suka sibuk sendiri, padahal orang-orang rumah kangen canda tawa, obrolan santai yang menghibur. Kita asyik chat dan berkomunikasi dengan orang jauh. Walhasil orang jauh menjadi dekat, sementara orang dekat teralienasi sehingga menjadi jauh.

Dengan hadirnya teknologi komunikasi digital, orang semakin terampil berkomunikasi horizontal bermedia, namun kurang memperhatikan etika, norma, dan sopan santun budaya. Tidak sedikit di antara mereka berani memperolok-olokkan orang lain, berani pula mengkritik tanpa ada bukti dan data yang kongkrit. Bahkan seringkali memproduksi berita, informasi, konten, dan pesan-pesan bohong demi kepentingan atau keuntungan pribadi, sehingga merugikan dan memperkeruh suasana.

Memperingati peristiwa miraj diharapkan tidak sekedar ritual, semoga saja bisa menyadarkan kita untuk meningkatkan kualitas komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal. Kedua komunikasi ini harus berjalan seirama. Jangan hanya fokus pada komunikasi vertikal dan mengabaikan komunikasi horizontal. Keseimbangan komunikasi ini bisa membantu meningkatkan kualitas dalam kehidupan.

Encep Dulwahab, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber, Ayo Bandung Senin 20 Februari 2023.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *