MENGEMBANGKAN DIRI MELALUI IBADAH RAMADHAN

(UINSGD.AC.ID)-Beruntunglah kita kaum muslimin. Ada waktu dimana dalam sebulan yaitu Ramadhan, digembleng untuk berkembang menjadi pribadi yang selalu menebar kebaikan (muhsinin) dan meraih ketakwaan.

Bukan berarti bulan lain tidak istimewa, semuanya juga sama. Bukan pula di bulan lain boleh berbuat dosa seenaknya. Hanya saja ada waktu khusus. Shalat ada waktunya, berzakat demikian juga, pun dengan ibadah haji. Banyak ibadah baik wajib maupun sunnah, dengan waktu yang telah ditentukan.

Waktu dan ketertiban, begitulah kita diatur untuk taat menjalankan perintah Tuhan. Ramadhan itu spesial dan ada proses pelatihan pengembangan diri terbaik untuk menjadi umat terbaik.
Pengembangan diri seorang Muslim tidak hanya bersifat personal duniawi, tapi juga spiritual ukhrowi. Ibadah puasa ini istimewa, karena langsung untuk Allah SWT.

Keistimewaan Ibadah Puasa Ramadhan
Berbeda halnya dengan ibadah lain, Allah Yang Maha Rahman dan Rahim menegaskan kalau shaum langsung untuk-Nya. Karena itu bersungguh-sungguhlah karena buahnya adalah ridho Allah SWT. Itu lah puncak segala kenikmatan kehidupan.

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra, bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman kepada penghuni surga: Hai penghuni surga! Mereka menjawab: Kami penuhi seruan-Mu wahai Tuhan kami, dan segala kebaikan ada di sisi-Mu. Allah melanjutkan: Apakah kalian sudah merasa puas? Mereka menjawab: Kami telah merasa puas wahai Tuhan kami, karena Engkau telah memberikan kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu. Allah bertanya lagi: Maukah kalian Aku berikan yang lebih baik lagi dari itu? Mereka menjawab: Wahai Tuhan kami, apa yang lebih baik dari itu? Allah menjawab: Akan Aku limpahkan keridaan-Ku atas kalian sehingga setelah itu Aku tidak akan murka kepada kalian untuk selamanya,” (HR. Muslim).

Ridho Tuhan akan melahirkan kemuliaan. Allah SWT berfirman, “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya,” (Al-Baqarah: 207).

Shaum (puasa) itu benteng (pelindung dari saksi neraka). Semua pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Pada saat ibadah shaum, hawa nafsu dikendalikan. Baik itu nafsu seksual maupun amarah kepada sesama.

Dengan istri pun, terlarang berhubungan badan di siang hari, kecuali sesudah berbuka puasa. Demikian pula, kita diajarkan untuk mengalah, tidak berbuat gaduh. Apabila ada yang memaki dan mengajak bertengkar, tidak usah diladeni apalagi sampai terjadi tawuran, naudzubillaah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a: Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman, semua amal untuk Adam itu untuk dia sendiri, kecuali shaum karena shaum itu untuk Ku, dan Aku lah yang membalasnya. Shaum itu benteng (pelindung dari siksa neraka). Oleh karena itu, apabila kamu sedang shaum, jangan bersetubuh dan jangan pula berbuat gaduh. Apabila seseorang memakimu atau mengajak bertengkar dengan kamu, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini sedang shaum.’ Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan (kekuasaan)-Nya, bau mulut seorang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat nanti daripada harum kasturi. Selain itu, orang yang shaum mendapatkan dua kali kegembiraan, yaitu apabila saat berbuka, dia bergembira dengan buka shaumnya, dan apabila kelak bertemu Tuhannya, dia bergembira dengan shaumnya,” (HR Muslim).

Jujur pada Diri
Shaum itu melatih diri untuk mengenali kemampuan, kapasitas dengan jujur. Dalam perjalanan, kita dapat memilih, shaum atau tidak. Sebenarnya bukan shaum atau tidaknya, tapi ini lah cara menguji kejujuran, kemampuan diri untuk tetap berpuasa atau tidak.

Kalau secara fisik sudah payah, bukanlah sebuah kebaikan shaum dalam perjalanan. Tapi kalau fisiknya masih baik, teruskanlah menjalankan ibadah shaum.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah r.a: Rasulullah SAW, pernah dalam suatu perjalanan melihat seorang laki-laki yang sedang dikerumuni orang-orang yang menaunginya dari sengatan panas matahari. Kemudian beliau bertanya, “Apakah yang terjadi dengannya?” Sahabat menjawab, “Dia sedang berpuasa.” Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah suatu kebajikan kamu berpuasa dalam perjalanan,” (HR Muslim).

Pada saat itu, teknologi kendaraan untuk perjalanan tidak secanggih sekarang. Oleh karena itu, lagi-lagi, ini soal kejujuran diri. Fasilitas diberikan, tapi bagi yang kepayahan. Itulah kehebatan Islam, tidak pernah memberatkan. Kepedulian kepada yang menjalankan ibadah shaum mendapatkan penghargaan. Memilih tidak shaum demi melayani yang shaum dan hewan yang dikendarai dalam perjalanan merupakan kebaikan.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a: “Kami pernah bersama Nabi SAW, dalam perjalanan, di antara kami ada yang shaum dan ada pula yang berbuka. Lalu kami singgah di suatu tempat pada hari yang terik, banyak orang yang berteduh dengan pakaiannya, bahkan di antaranya hanya berlindung pada naungan tangannya, lalu orang shaum roboh tidak bekerja apa-apa. Sedangkan yang tidak shaum tetap tegap sehingga mereka dapat memancangkan tenda-tenda untuk mereka dan memberi air minum kepada untanya. Kemudian beliau bersabda: “Hari ini orang yang tidak shaum pergi dengan membawa pahala (sempurna),” (HR Muslim).

Nilai dan Proses Pengembangan Diri
Dengan demikian, nilai pengembangan diri dari ibadah shaum antara lain berupa kesungguhan dalam beribadah, kemampuan mengendalikan nafsu seksual, mengalah-memaafkan, jujur dengan diri sendiri dan peduli sesama. Sungguh karakter mulia yang menjadikan kita selalu berusaha menghindari dosa, berintegritas dan menyenangkan sesama.

Semua proses pengembangan diri ini sesungguhnya melatih seorang Mukmin untuk terus meraih derajat ketakwaan. Dalam Al-Quran, dijelaskan bahwa untuk bertakwa, tidak cukup hanya dengan beriman, kita juga dituntut untuk berbagi. Memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, pemberi terbaik saat sempit dan lapang, menyantuni anak yatim dan orang miskin, membantu musafir, peminta-minta, memerdekakan hamba sahaya, memberikan zakat dan menepati janji.

Sikap mental kesehariannya selalu memaafkan. Mampu menahan kebencian dan tetap berbuat baik kepada yang telah zalim kepadanya sekalipun. Manusia bertakwa dicintai Allah SWT. Mendapatkan kebahagiaan abadi, kemenangan dan selalu dilindungi. Diberikan kelebihan berupa anugerah petunjuk untuk membedakan kesalahan dan kebenaran. Mendapatkan jalan keluar pada setiap kesulitan dan dimudahkan segala urusan.

Dengan demikian, madrasah Ramadhan ini benar-benar untuk pengembangan diri. Lulusannya diharapkan meraih ketakwaan. Meraih berkah kehidupan dan mendapat bahagia saat bertemu Tuhan. Wallaahu’alam.

Iu Rusliana, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber, Kompas, 18 April 2023

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *