Kebaikan dan Dosa

(UINSGD.AC.ID)-Diriwayatkan dari Nawwas bin Sam’an r.a: Aku tinggal bersama Rasulullah SAW, di Madinah selama satu tahun. Yang membuatku tidak mau pergi dari beliau adalah hanya ingin bertanya tentang pengetahuan. Sedangkan apabila seseorang di antara kami berhijrah, tidak pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang apapun. Lalu aku bertanya kepada beliau tentang kebaikan dan dosa. Rasulullah bersabda, “Kebaikan ialah budi pekerti yang luhur, sedangkan dosa ialah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam hatimu, dan engkau tidak suka kalau hal itu diketahui orang lain (HR. Muslim).

Kebaikan itu menebarkan kemanfaatan dan kenyamanan. Setiap manusia dari hati terdalamnya akan mengakui dengan jujur dan ingin mengikutinya sebagai teladan.  Menentramkan jiwa dan memberi bahagia. Selaras dengan Yang Maha Pencipta dan alam ciptaan-Nya.

Dosa itu membuat diri merasa bersalah dan kalah. Ketentraman jauh dari hati, yang ada gelisah dengan penyesalan diri. Hati yang keras dan diliputi kesesatan akan merasa biasa. Hati yang masih dinaungi iman akan merasa tak biasa. Membersihkannya dengan cara bertaubat. Tak mengulangi lagi dan berusaha terus menebar manfaat.

Berdoalah selalu agar diberikan petunjuk pada jalan yang lurus. Dalam sebuah riwayat, sekali waktu Rasulullah SAW duduk pada suatu tempat, dikelilingi oleh banyak sahabat. Beliau mengambil garis-garis pada pasir, satu di antaranya lurus sementara yang lainnya bengkok dan berkelok. Kemudian beliau berkata,”Yang satu ini jalanku, sedangkan yang lain bukan jalanku.”

Dari kisah ini dapat dipahami bahwa jalan lurus yang sempurna itu memerlukan teladan dan petunjuk Nabi. Para nabi lah yang dapat menunjukkan jalan yang lurus. Manusia dapat memilih jalannya sendiri. Seharusnya memilih menuju jalan yang membawanya pada kesempurnaan. Mulai segala sesuatu dengan membaca bismillaah. Berniat dengan segala kebaikanya karena Allah SWT. Tiada hari tanpa kebaikan dan mengabdi kepada-Nya.

Selain itu, agar terpelihara kebaikan, berteman dengan orang soleh dan banyak berada di majelis ilmu. Bersama orang soleh kita akan dapat saling mengingatkan dalam kebaikan dan sabar. Dalam majelis ilmu, setiap saat mendapatkan pencerahan diri. Agar saat berkelok, segera ingat dan jalan lurus dipilih kembali.

Diriwayatkan dari Abu Musa r.a, dari Nabi SAW: Beliau bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan teman baik dan teman jahat yaitu seperti teman penjual minyak harum dan teman pandai besi. Teman penjual minyak wangi adakalanya mengolesi minyak wanginya kepadamu atau kamu membeli minyaknya, atau kamu mendapatkan bau harum darinya. Adapun teman pandai besi, adakalanya membakar pakaianmu atau kamu mendapatkan bau busuknya (HR Muslim). Wallaahu’alam

Iu Rusliana, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sumber, Republika 21 Februari 2022

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *