Kantin Kampus: All You Can Eat

(UINSGD.AC.ID) — Ini cerita sederhana. Tentang tempat makan di kampus. Bicara makanan memang menarik. Dan penting tentunya. Apalagi ketika kita jauh dari rumah. Jauh dari negeri sendiri. Salah satu yang dikangenin adalah makanan. Apalagi bagi mahasiswa/i yang anak mami. Pasti kangen akan masakan ibunya.

Saya iseng-iseng. Tanya teman-teman yang pernah bersama. Mengambil short course Politik Amerika. Di UMass, University of Massachusetts, Amherst. Kami 18 orang. Dari delapan belas negara yang berbeda. Tentu dengan tradisi dan kesukaan makanan yang berbeda pula. Apa dua tempat yang diingat tentang UMass?. Kampus di Massachusetts itu, tanya saya. Mayoritas memiliki jawaban yang sama. Dua yang diingat di Amherst: Pertama perpustakaan. Yang kedua UMass Dining alias kantin tempat makan.

Saya mengerti, mengapa perpustakaan disebut pertama. Bukan apa-apa, tapi karena gedungnya yang menonjol. Perpustakaan UMass itu, terutama perpustakaan pusatnya yaitu W. E. B. Du Bois Library adalah gedung paling tinggi di UMass. Perpustakaan itu berlantai 28. Bisa anda bayangkan tingginya. Untuk level perpustakaan di kampus.

Memang tingginya kalah oleh perpustakaan nasional Indonesia yang di Jakarta itu. Tingginya 126 meter kalau tidak salah. Sementara perpustakaan Du Bois hanya 88 meter. Tapi perpustakaan di Jakarta hanya 24 lantai. Koreksi kalau saya salah. Begitu juga perpustakaan Shanghai Library di China. Tingginya 106 meter. Tapi lantainya sama 24 seperti yang kita punya di Jakarta. Artinya perpustakaan UMass adalah perpustakaan tertinggi ketiga di dunia, tapi pertama di dunia dari sisi jumlah lantai yaitu 28.

Bangunan kedua yang banyak diingat adalah UMass Dining. Kampus dengan motto Ense petit placidam sub libertate quietem, memang dikenal akan variasi makanan yang disediakan dan pelayanan kantinnya.

Tahun ini saja, UMass dining meraih penghargaan yang ketujuh kalinya secara berturut-turut. Sebagai Best Campus Food di Amerika yang dikeluarkan oleh The Princeton Review. Princeton Review mempunyai laporan setiap tahun. Tentang hal-hal terbaik di kampus-kampus Amerika. Mereka sebut sebagai “Best Colleges”. Salah satunya tentang kantin dengan makanan terbaik di kampus. Untuk tahun ini, perankingan itu didasarkan kepada survey lebih dari 165.000 mahasiswa.

Princeton Review meranking beberapa bidang di kampus seperti akademik, administrasi, kualitas hidup, politik, kehidupan kampus, dan extra kurikuler. Dari masing-masing bidang itu dipecah lagi menjadi beberapa kategori kecil. Kategori best food di kampus masuk bagian quality life. Selain best food kampus, yang masuk kategori ini adalah mahasiswa paling bahagia, mahasiswa paling ramah, dan asrama kampus paling hebat.

Perangkingan dibuat berdasarkan jawaban atas survey yag disebarkan kepada para mahasiswa. Perankingan ini tidak mengurutkan semua ranking kampus yang ada secara hirarkis dari urutan satu sampai tiga ratus delapan puluh sembilan. Princeton Review hanya mengurutkan 25 kampus terbaik dalam satu kategori.

Saking pentingnya urusan perut. Ternyata ada perankingan layanan makanan di kampus di Amerika. Saya belum tahu apakah perankingan ini ada juga di kampus-kampus di negara lainnya. Yang pasti kalau di kita belum saya dengar.

Beberapa prinsip penyajian makanan di kantin UMass ini adalah bahannya adalah bahan-bahan yang fresh. Berasal dari bahan baku local. Menyediakan makanan laut yang variatif. Dan menawarkan beberapa makanan dari berbagai benua. Mereka menyebutnya global cuisine.

Yang saya ingat bukan hanya variasi makanan yang tersedia. Tetapi juga pelayanan yang menarik. Mungkin bisa kita tiru. Kalau kita pergi ke kantin UMass, penyediaannya parasmanan dan all you can eat. Ruangannya sangat-sangat besar. Meja dan tempat duduk yang tersedia sangat nyaman. Dan kita bisa makan sepuasnya. Apa yang disajikan bisa kita makan. Ada stand makanan Asia. Ada stand makanan Barat. Makanan China, Italia dan lain-lain. Makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup. Dua bulan saja tinggal di Amersht, berat badan saya naik signifikan. Mungkin karena tidak ada masalah dengan makanan. Semua jenis makanan ada dengan variasi rasa yang memanjakan perut.

Ada hal lain yang menarik dari tata cara pembayaran makanan, di UMass Dining. Kita tidak bayar cash di kasir. Tetapi setiap mahasiswa membayar fasilitas makan di UMass dining disatukan dengan pembayaran SPP. Kalau tidak salah. Artinya mahasiswa membayar dimuka dengan jumlah tertentu. Kemudian diberi kartu sebagai bukti sudah membayar. Dan Ketika datang ke kantin tinggal scan kartu dan mereka bisa makan sepuasnya apa saja yang ada di kantin.

Nampaknya ini menarik. Mungkinkah di kampus-kampus di kita menggunakan sistem ini. Atau mungkin sebenarnya sudah ada. Tapi saya belum tahu. Kampus menyediakan kantin yang representative. Mahasiswa yang akan makan di kantin diminta untuk membayar dimuka. Bisa diatur berapa kali makan dalam satu bulan atau satu semester. Kemudian kampus menyediakan makanan terbaik. Sehingga sama-sama senang. Mahasiswa dan seluruh insan kampus senang karena mudah mendapatkan akses untuk makan. Kampus juga diuntungkan karena bisa menjual makanan ke mahasiswa dan seluruh civitas akademika. Keuntungannya bisa masuk kas BLU universitas.

Tinggal menghitung dan pengelolaannya saja yang professional. Menurut saya hal ini tidak mustahil untuk dilakukan. Coba perhatikan sambutan Direktur executive Umass Dining dalam menyambut penetapan kantin kampus terbaik di Amerika berikut ini: “I’m extremely proud of our dedicated, talented, and hardworking team whose commitment to excellence has been instrumental in our continued success…”

Ini artinya bahwa apapun, termasuk kantin yang nyaman, bisa kita sediakan. Asal pengelolaannya penuh dedikasi, dilakukan secara professional dan oleh orang-orang berbakat, dengan kerja keras tim yang penuh komitmen. Maka apapun itu akan bisa menghasilkan kesuksesan.

Sangat menarik. Kampus bukan hanya konsen dengan urusan akademik. Urusan perut pun perlu diperhatikan. Dengan perut kenyang, pekerjaan bisa diselesaikan dengan aman dan nyaman. Mungkin itu philosopinya. Mungkin juga mereka mempraktekan ungkapan you are what you eat. Sebuah phrase yang pertama kali digunakan dalam Bahasa Inggris tahun 1900an. Ungkapan ini merujuk kepada ide bahwa makanan akan mengontrol kesehatan seseorang. Kesehatan anda akan tergantung kepada apa yang anda makan. Prase ini juga digunakan di Francis dan Jerman pada tahun 1800an. Di eranya kaum hippy tahun 1960an, ungkapan ini diadopsi oleh kaum hippies sebagai slogan untuk makan sehat.

Hidup kantin kampus. Demi hidup sehat, anda perlu memperhatikan apa yang anda makan.

Prof. Ahmad Ali Nurdin, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *