melalui Seminar Islam-Budaya Sunda
UINSGD.AC.ID (Humas) — Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggandeng The Southeast Asian Studies Regional Exchange Program (SEASREP) Foundation untuk memperkuat jejaring akademik internasional melalui seminar dan diskusi akademik yang membahas hubungan Islam dan budaya Sunda. Kegiatan berlangsung di Aula FAH UIN Bandung, Jumat (24/7/2026).
Pertemuan itu membahas peluang kolaborasi dalam bidang penelitian, pertukaran akademik, penguatan jejaring internasional, serta pengembangan kajian Asia Tenggara. Kerja sama ini diharapkan membuka ruang lebih luas bagi dosen dan mahasiswa FAH UIN Bandung untuk terlibat dalam berbagai program akademik dan penelitian berskala regional maupun internasional.

Kegiatan diikuti sekitar 30 peserta dari Jepang, Filipina, dan Vietnam yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan pendamping. Forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan lintas negara sekaligus memperkuat jejaring akademik antara FAH UIN Bandung dengan mitra dari kawasan Asia Tenggara dan Jepang.
SEASREP Foundation merupakan yayasan dan jejaring regional independen yang berfokus pada pengembangan kajian Asia Tenggara melalui perspektif masyarakat Asia Tenggara. Lembaga yang didirikan pada 1995 ini menjadi wadah pertukaran dan kolaborasi akademik melalui berbagai program, antara lain pertukaran akademik, dukungan beasiswa pendidikan pascasarjana, hibah seminar, pelatihan bahasa kawasan melalui pendekatan Traveling Classroom, serta riset kolaboratif lintas negara.
Dalam sambutannya, mewakili Dekan FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum., Wakil Dekan I FAH, Dr. Rohanda, M.Ag., didampingi Kepala Bagian Tata Usaha H. Asep Hadiat, S.H., M.H., menegaskan komitmen fakultas untuk terus membuka diri terhadap internasionalisasi dan membangun iklim akademik yang dinamis.

“Atas nama pimpinan Fakultas Adab dan Humaniora, kami mengucapkan Wilujeng Sumping, selamat datang di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung kepada seluruh rombongan delegasi internasional dan nasional. Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi fakultas kami dapat menjadi tuan rumah bagi akademisi dan mahasiswa dari berbagai institusi di Asia Tenggara dan Jepang,” ujarnya.
Kehadiran rombongan SEASREP menjadi momentum penting untuk memperkaya wawasan keilmuan mahasiswa, khususnya dalam bidang sejarah, kebudayaan, sastra, dan studi kawasan.
“Fakultas Adab dan Humaniora selalu berkomitmen untuk membuka diri terhadap internasionalisasi dan pengembangan iklim akademik yang dinamis. Kehadiran rombongan SEASREP hari ini memegang peranan penting dalam memperkaya wawasan keilmuan mahasiswa kami, khususnya dalam bidang sejarah, kebudayaan, sastra, dan studi kawasan,” katanya.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mengikuti seminar, tetapi menjadi momentum membangun kolaborasi akademik melalui diskusi mahasiswa lintas negara serta penguatan kerja sama yang dapat diimplementasikan secara nyata. “Kami berharap agenda ini menjadi awal dari kolaborasi akademik jangka panjang yang saling menguntungkan,” ujarnya.

Islam dan Budaya Sunda dalam Perspektif Sejarah
Acara dihadiri akademisi lintas negara yang memperkuat jejaring studi kawasan. Dari Filipina, hadir delegasi The National Historical Commission of the Philippines (NHCP), yakni Mr. Josef Alec Dizon Geradila, Mr. Gerwill Isidro Cruz, Milagros Canlas Aguilar, dan Girard Jeune Reyes Bauyon.
Dari Jepang hadir perwakilan Yamagata University, Prof. Go Matsumoto dan Mr. Masao Imamura. Sementara dari Indonesia hadir Kepala Departemen Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Abdul Wahid.
Hadir pula jajaran sivitas akademika FAH UIN Bandung, di antaranya para ketua dan sekretaris jurusan, dosen, serta tenaga kependidikan. Suasana diskusi semakin dinamis dengan kehadiran mahasiswa dari Filipina, Jepang, dan FAH UIN Bandung yang antusias mengikuti kegiatan.

Sesi utama seminar menghadirkan dosen senior FAH UIN Bandung, Moeflich Hasbullah, sebagai narasumber dengan Dr. Ruminda, M.Ag., Sekretaris Jurusan Sastra Inggris, sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Moeflich Hasbullah mengangkat tema “Islam dan Budaya Sunda: Memahami Perkembangan Sejarah, Integrasi Budaya, dan Ekspresi Islam Kontemporer di Jawa Barat.”
Hubungan Islam dan budaya Sunda merupakan salah satu contoh penting integrasi budaya yang berlangsung secara damai di Asia Tenggara. Islam berkembang di Jawa Barat melalui proses panjang interaksi, adaptasi, dan akomodasi antara ajaran Islam dengan tradisi lokal.
“Transformasi keagamaan di Jawa Barat merupakan salah satu contoh penting dari proses islamisasi yang berlangsung secara damai di Asia Tenggara. Islam dan budaya Sunda saling berinteraksi dan beradaptasi, bukan saling menegasikan,” ujar Moeflich.

Pesan Sejuk bagi Dunia Multikultural
Menurutnya, kehadiran Islam di Tanah Pasundan tidak serta-merta menghapus tradisi setempat. Islam justru meresap secara bertahap melalui berbagai saluran sosial dan budaya, seperti perdagangan, hubungan kemasyarakatan, pendidikan, serta peran ulama dan pemimpin lokal.
Penyebaran Islam, terus berkembang melalui interaksi berbagai elemen masyarakat, mulai dari pedagang, ulama, cendekiawan, pemimpin lokal, lembaga pendidikan, hingga masyarakat umum.
“Ajaran Islam secara bertahap menjadi bagian dari lanskap sosial dan budaya Jawa Barat melalui proses interaksi, adaptasi, dan akomodasi. Nilai-nilai etika dalam ajaran Islam memiliki kesesuaian dengan nilai-nilai yang telah hidup dalam masyarakat Sunda, sehingga keduanya dapat saling memperkuat,” jelasnya.
Moeflich menjelaskan, salah satu faktor penting yang mendukung proses integrasi tersebut adalah adanya irisan nilai etika antara ajaran Islam dan budaya Sunda. Nilai-nilai seperti kasih sayang, saling menghormati, gotong royong, pembelajaran, dan tanggung jawab sosial menjadi titik temu yang memungkinkan identitas keagamaan dan budaya berkembang secara berdampingan.
Baginya, pengalaman Jawa Barat menunjukkan bahwa komitmen keagamaan dan identitas budaya tidak selalu berada dalam posisi yang berlawanan. Sebaliknya, keduanya dapat berkembang secara bersamaan dan melahirkan bentuk kehidupan keagamaan yang tetap berpegang pada ajaran Islam yang diekspresikan melalui tradisi lokal.
“Pengalaman masyarakat Sunda menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang bagi ekspresi nilai-nilai universal keagamaan tanpa mengurangi keaslian budaya maupun integritas keagamaan,” ungkapnya.
Mengingat pentingnya memahami sejarah perkembangan Islam di Jawa Barat, khususnya bagi mahasiswa internasional. Jawa Barat dapat menjadi contoh bagaimana agama, budaya, dan masyarakat berinteraksi dalam konteks yang plural dan multikultural.
Dalam konteks kehidupan kontemporer, warisan sejarah tersebut masih terlihat dalam kehidupan keluarga, pendidikan, kelembagaan masyarakat, dan tradisi budaya. Interaksi yang terus berlangsung antara Islam dan budaya Sunda menunjukkan bahwa keberagaman budaya dan komitmen keagamaan tidak harus dipertentangkan.
Untuk mahasiswa internasional yang ingin memahami Indonesia, Moeflich menyebut Jawa Barat sebagai salah satu studi kasus penting untuk melihat hubungan antara agama, budaya, dan masyarakat. Islam, menurutnya, bukanlah tradisi yang monolitik, melainkan tradisi keagamaan global yang hadir dan berkembang melalui beragam pengalaman sejarah dan budaya.
Pengalaman Jawa Barat menunjukkan bahwa seseorang tidak harus kehilangan akar budayanya untuk menjalankan kehidupan keagamaan secara taat. Sebaliknya, budaya lokal dapat menjadi ruang ekspresi nilai-nilai keagamaan yang memperkaya kehidupan masyarakat.
Kehadiran pertemuan ini, FAH UIN Bandung tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa melalui pertukaran pengetahuan lintas negara, tetapi berusaha memperkuat posisi fakultas sebagai ruang akademik yang terbuka terhadap kolaborasi internasional, khususnya dalam pengembangan kajian sejarah, budaya, sastra, dan studi kawasan Asia Tenggara.
Rangkaian kegiatan diisi dengan penyambutan delegasi, seminar, diskusi mahasiswa lintas negara, serta pembahasan peluang penguatan kerja sama akademik dan penelitian antara FAH UIN Bandung dengan mitra internasional.
Dengan adanya ini, FAH UIN Bandung terus mendorong penguatan jejaring akademik global sekaligus memperluas ruang kolaborasi bagi sivitas akademika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kajian Asia Tenggara. (Shandi Rakhmat Ginanjar, S.S., Nanang Sungkawa/ Kontributor)

