Cegah Child Grooming Sejak Dini, Mahasiswa KKN UIN Bandung Bekali 51 Siswa SD di Wonosobo dengan Edukasi Perlindungan Diri

UINSGD.AC.ID (Humas) — Sebanyak 51 siswa kelas 5 dan 6 SDN 01 Gumawang Kidul, Wonosobo, mendapatkan edukasi pencegahan child grooming atau pola pendekatan yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan sebelum memanipulasi atau mengeksploitasi anak dari mahasiswa KKN Orda Mitra Pemda Wonosobo Kelompok 4, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Melalui program bertema “Aku Bisa Jaga Diriku Sendiri”, siswa diajak mengenali situasi yang berpotensi membahayakan diri sekaligus memahami langkah yang dapat diambil ketika menghadapi perlakuan yang membuat mereka tidak nyaman.

Program ini lahir dari hasil analisis mahasiswa terhadap kondisi masyarakat Desa Gumawang Kidul. Ketua KKN Orda Mitra Pemda Wonosobo Kelompok 4, Firdan Agustiana, menjelaskan bahwa tim menemukan cukup banyak kasus pernikahan anak setelah lulus SMP, yang dipicu oleh faktor lingkungan maupun pergaulan bebas.

“Setelah hasil analisis yang ada, tidak sedikit anak-anak di desa ini yang menikah setelah lulus SMP. Banyak yang menikah pada usia tersebut karena faktor lingkungan dan tidak sedikit juga karena pergaulan bebas. Sehingga muncul isu ini,” ujar Firdan, Rabu (19/8/2026).

Siswa kelas 5 dan 6 dipilih sebagai sasaran program karena dinilai perlu memperoleh bekal pengetahuan sebelum memasuki fase pendidikan dan lingkungan sosial yang lebih luas.

“Tujuannya agar meningkatkan SDM masyarakat, khususnya target kami yaitu anak-anak kelas 5 dan 6, melalui pendidikan. Mulai dari kesadaran anak-anak yang mengetahui tanda-tanda child grooming dan mengenal keamanan tubuh mereka supaya terhindar dari praktik child grooming,” jelasnya.

Firdan menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi mahasiswa KKN dalam merespons persoalan yang mereka temukan di masyarakat, sekaligus upaya menekan angka pernikahan dini di desa tersebut.

Materi disampaikan dalam dua sesi dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia siswa: sosialisasi langsung, dilanjutkan dengan storytelling dan tayangan video. Sepanjang kegiatan, siswa diajak menjawab pertanyaan, mengenali contoh situasi, hingga menjelaskan kembali materi di hadapan teman-temannya.

Sesi sosialisasi dibawakan oleh Riqqa Rahmani Syifa, yang memperkenalkan pengertian child grooming, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, serta tiga langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi tersebut. Penyampaian dilakukan melalui tanya jawab dan contoh situasi sehari-hari agar siswa memahami isu ini tanpa merasa takut membicarakannya.

“Hal yang paling penting adalah siswa memahami bahwa tubuh mereka adalah milik mereka dan mereka berhak merasa aman,” ujar Riqqa.

Dengan mengingatkan siswa bahwa mereka tidak perlu menghadapi situasi yang menakutkan atau tidak nyaman seorang diri. “Jika ada seseorang yang membuat mereka merasa takut, tidak nyaman, memberikan sesuatu dengan maksud tertentu, meminta rahasia, atau melakukan tindakan yang tidak pantas, mereka tidak perlu menghadapinya sendirian. Mereka harus berani mengatakan ‘tidak’, menjauh dari situasi tersebut, dan menceritakannya kepada orang dewasa yang mereka percaya,” jelasnya.

Menurut Riqqa, tantangan utama dalam edukasi ini adalah menyampaikan topik sensitif dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak, tanpa membuat mereka takut atau salah memahami materi.

Setelah sesi sosialisasi, materi dilanjutkan melalui metode storytelling yang dibawakan oleh Keysa Aulia Suhada. Melalui cerita dan tayangan video, siswa diajak mengenali tanda-tanda awal child grooming serta bentuk pendekatan yang dapat dilakukan oleh pelaku.

Dalam penyampaiannya, Keysa mengenalkan empat area privasi pada tubuh yang perlu dijaga. Siswa kemudian diajak memahami pentingnya mengatakan “tidak” ketika menerima perlakuan yang tidak pantas dan berani menceritakan kejadian tersebut kepada orang yang dipercaya.

Kegiatan dibuat interaktif dengan memberikan sejumlah pertanyaan di sela-sela cerita. Siswa diminta mengingat kembali informasi yang telah disampaikan dan memberikan jawaban berdasarkan situasi yang mereka dengarkan.

“Anak-anak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak untuk mengingat kembali dan menjawab pertanyaan berdasarkan materi yang telah diberikan,” jelas Keysa.

“Yang paling penting adalah bahwa tubuh mereka merupakan sesuatu yang berharga dan harus dijaga. Anak-anak perlu mengetahui perbedaan antara perlakuan yang aman dan perlakuan yang tidak pantas terhadap tubuh mereka,” kata Keysa, sembari menekankan pentingnya keberanian siswa mengatakan “tidak” dan segera melapor kepada orang dewasa yang mereka percaya bila mengalami situasi yang tidak nyaman.

Kepala SDN 01 Gumawang Kidul menyambut baik program ini. Menurutnya, edukasi child grooming penting diberikan sejak dini agar siswa mampu mengenali pola pendekatan, membangun kepercayaan, lalu memanipulasi anak, yang kerap tidak disadari sebagai sesuatu yang berbahaya.

“Mahasiswa KKN berperan aktif sebagai fasilitator pelindung anak. Mahasiswa berhasil menerapkan program child grooming dengan jelas, terarah, dan menggunakan metode interaktif sehingga siswa dengan mudah paham mengenali alur atau tanda-tanda grooming,” ungkapnya, seraya menyebut antusiasme siswa selama kegiatan berlangsung baik.

Pihak sekolah berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat menjadi bekal untuk menjaga diri setelah kegiatan berakhir, sekaligus mendorong keberanian melapor bila menemui indikasi bahaya di lingkungan sekitar.

Kegiatan ditutup dengan sesi pamitan mahasiswa KKN kepada pihak sekolah, meninggalkan satu pesan sederhana bagi para siswa: mengenali batas diri, berani berkata tidak, dan mengetahui kepada siapa harus meminta pertolongan adalah bagian dari kemampuan menjaga diri sendiri. (Mohamad Farhan Fadilah / Magang)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *