Haflah Takhrij Ma’had Al-Jami’ah 2026: Catalyst Generation Berakhlak, Berilmu, dan Siap Mengabdi

UINSGD.AC.ID (Humas) – Haflah Takhrij Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2026 menjadi momentum lahirnya Catalyst Generation, generasi yang diharapkan memiliki akhlak mulia, keluasan ilmu, serta kesiapan mengabdi kepada masyarakat. Mengusung tema “Akhir dari Perjalanan, Awal dari Pengabdian yang Sesungguhnya”, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya masa pembinaan di Ma’had sekaligus awal perjalanan pengabdian bagi para mahasantri.

Prosesi Haflah Takhrij Catalyst Generation Batch 16 yang diikuti 371 mahasantri berlangsung khidmat di Gedung Anwar Musaddad, Rabu (1/7/2026). Pelantikan dipimpin oleh Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag., serta dihadiri pimpinan universitas, para Dekan, Direktur, Sekretaris Ma’had Al-Jami’ah, para pengurus, dosen, musyrif, musyrifah, orang tua, dan tamu undangan.

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun Akademik 2025/2026 tentang Penetapan Predikat Mahasantri yang dibacakan oleh Sekretaris Ma’had Aljami’ah Dr. H. Aep Saepuloh, M. Si. bahwa sebanyak 218 mahasantri meraih predikat Mumtaz, yang terdiri atas 23 mahasantri putra dan 195 mahasantri putri. Selanjutnya, 81 mahasantri memperoleh predikat Jayyid Jiddan, terdiri atas 24 putra dan 57 putri. Predikat Jayyid diraih oleh 37 mahasantri, yakni 29 putra dan 8 putri, sedangkan 35 mahasantri memperoleh predikat Maqbul, yang terdiri atas 34 putra dan 1 putri.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag., menegaskan bahwa lulusan Ma’had Al-Jami’ah diharapkan mampu menghadirkan kualitas keimanan yang tercermin dalam akhlakul karimah, keluasan ilmu, dan keunggulan amal.

“Kami berharap alumni Ma’had Al-Jami’ah dapat menunjukkan kualitas keimanan yang terefleksi dalam kemuliaan akhlakul karimah, keluasan ilmu, dan keunggulan amal. Karakter tersebut hendaknya tercermin dalam kehidupan akademik di kampus maupun kehidupan sosial di keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara,” tegasnya.

Menurutnya, seluruh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti pembinaan di Ma’had harus menjadi modal utama dalam mengembangkan kapasitas diri, memperkuat keilmuan integratif, serta melahirkan amal saleh yang fungsional dan berdampak bagi masyarakat.

Guru Besar Islam Nusantara ini menambahkan, berbagai program pembelajaran, pembinaan, dan pendidikan di Ma’had Al-Jami’ah diharapkan terus memberikan kontribusi positif terhadap prestasi akademik maupun nonakademik mahasiswa. Salah satunya melalui pembelajaran kitab-kitab turats yang menjadi bekal penting bagi mahasantri untuk memahami khazanah keilmuan Islam klasik, dan berusaha mentransformasikannya secara relevan dalam konteks kekinian dan keindonesiaan.

“‘Alā kulli hāl, selamat kepada seluruh mahasantri yang telah menyelesaikan proses pembinaan di Ma’had Al-Jami’ah. Haflah Takhrij bukanlah akhir dari perjalanan thalabul ‘ilmi, melainkan salah satu stase dalam perjalanan menuntut ilmu untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik, fi al-dunyā wal ākhirah,” tuturnya.

Dalam laporannya, Direktur Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Abdul Hadi, M.Ag., menegaskan bahwa Haflah Takhrij bukanlah waktu untuk berpisah, melainkan momentum pembuktian diri atas identitas yang telah dibangun selama satu tahun mengikuti pembinaan di Ma’had.

“Haflah Takhrij bukan waktu berpisah, tetapi kesempatan untuk membuktikan identitas yang telah disandang selama satu tahun sebagai Catalyst Generation. Nilai-nilai yang diperoleh di Ma’had harus terus hidup dan diwujudkan dalam kehidupan nyata, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Konsep Catalyst Generation merupakan simbol generasi penggerak perubahan yang mampu mempercepat lahirnya berbagai kebaikan. Dalam pandangan para ulama, termasuk pemikiran Imam Syafi’i, generasi terbaik adalah mereka yang mampu membaca masa depan dengan cerdas, memiliki visi yang jelas, serta memilih jalan kebaikan.

Terdapat tujuh karakter utama yang harus melekat pada setiap lulusan Catalyst Generation, yakni visioner, inisiatif, motivator, adaptif, kolaboratif, produktif, dan inspiratif.

“Selama satu tahun pembinaan, para mahasantri menunjukkan inisiatif yang tinggi, tidak menunggu instruksi untuk berbuat baik, memiliki motivasi kuat mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, kepemimpinan, dan pengembangan diri. Mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, berkolaborasi dengan berbagai pihak, produktif dalam berkarya, serta menginspirasi orang lain untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik,” jelasnya.

Tentunya karakter itu harus terus dibawa setelah para mahasantri kembali ke masyarakat. “Jadilah generasi yang mampu memberikan inspirasi kepada orang lain untuk berbuat baik. Kami mungkin belum mampu memberikan yang terbaik dalam segala hal, tetapi kami berusaha menanamkan akhlak dan karakter terbaik kepada para mahasantri. Insyaallah, seluruh alumni Ma’had Al-Jami’ah akan menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan membawa manfaat di mana pun mereka berada,” pesannya.

Direktur mengajak para orang tua untuk terus mendukung pendidikan karakter melalui Ma’had Al-Jami’ah serta mengajak keluarga, kerabat, dan masyarakat agar mempercayakan putra-putrinya mengikuti pembinaan di Ma’had sebagai bagian dari penguatan keilmuan, akhlak, dan kepemimpinan.

Haflah Takhrij Catalyst Generation Batch 16 menjadi penegasan bahwa pembinaan di Ma’had Al-Jami’ah tidak berhenti pada masa tinggal selama satu tahun. Sebaliknya, nilai-nilai yang telah ditanamkan menjadi bekal bagi para alumni untuk terus belajar sepanjang hayat, mengembangkan ilmu pengetahuan, menjaga akhlakul karimah, serta memberikan kontribusi nyata bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Direktur Ma’had Al-Jami’ah menetapkan predikat kelulusan, dengan memberikan penghargaan kepada enam mahasantri berprestasi. Pada kategori putra, Aliansyah dari Program Studi Teknik Elektro meraih nilai tertinggi 92,85 dengan predikat Mumtaz. Posisi kedua ditempati Ahmad Fathi Fatahillah dari Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam dengan nilai 89,59, serta Bagas Abdulloh Tamimi dari Program Studi Hukum Pidana Islam dengan nilai 87,90, yang keduanya memperoleh predikat Mumtaz.

Untuk kategori putri, Maulidiya Navy Putri Pamuji dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam menjadi peraih nilai tertinggi dengan skor 93,33 dan predikat Mumtazah. Navara Syelna Fiizia dari Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi memperoleh nilai 92,27, serta Laila Srianjani dari Program Studi Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) meraih nilai 91,95. Keduanya berhasil memperoleh predikat Mumtazah.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan di Ma’had Al-Jami’ah tidak hanya berorientasi pada pembentukan karakter dan akhlak, tetapi berusaha mendorong lahirnya mahasantri yang unggul dalam bidang akademik, siap melanjutkan perjalanan menuntut ilmu, serta memberikan kontribusi nyata bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan rangkaian lengkap Haflah Takhrij Catalyst Generation Batch 16 Tahun 2026, dokumentasi kegiatan dapat disaksikan melalui kanal YouTube Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *