Di Balik Satu Gelar, Ada Cerita: Perjalanan Bunga Rezeqi Sobari Jadi Duta PBAK 2026

UINSGD.AC.ID (Humas) — Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag memberikan penghargaan Juara Duta PBAK 2026 kepada Fawwaz Naufal Zahran (Ilmu Komunikasi konsentrasi Humas – Fakultas Dakwah dan Komunikasi), Bunga Rezeqi Sobari (Psikologi – Fakultas Psikologi); Duta Harmoni PBAK 2026 kepada Desta (Psikologi – Fakultas Psikologi), Malika Azzahra Sakina Kurnia (Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik – Fakultas Dakwah dan Komunikasi); Duta Ekoteologi PBAK 2026 kepada Muhammad Rasya Al-Ghifary (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir – Fakultas Ushuluddin), Fadhila Dwi Azzahra (Fisika – Fakultas Sains dan Teknologi).

Menjadi Duta Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 UIN Sunan Gunung Djati Bandung mungkin terlihat seperti sebuah pencapaian yang sederhana. Namun, seorang mahasiswa baru terpilih untuk menjadi perwakilan fakultas dan tampil di hadapan banyak orang.

Namun, bagi Bunga Rezeqi Sobari, gelar tersebut menyimpan cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar sebuah seleksi. Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung, Bunga Rezeqi Sobari, mengungkapkan awalnya mendaftarkan diri sebagai Duta PBAK karena ingin memberikan kontribusi sejak awal menjadi mahasiswa baru. Di sisi lain, ada alasan yang lebih personal, yaitu untuk keluar dari zona nyaman sekaligus mengukur sejauh mana kemampuan dirinya.

“Saya mendaftarkan diri menjadi Duta PBAK karna saya ingin berkontribusi nyata sejak awal menjadi mahasiswa baru. Tapi secara pribadi saya ingin keluar zona nyaman dan mengukur kemampuan diri sehingga saya ingin mencoba terlibat dalam adaptasi mahasiswa di lingkungan baru.” ungkapnya, Rabu, (26/8/2026).

Keinginan itu kemudian membawanya melewati rangkaian seleksi yang tidak selalu mudah. Tahap awal seleksi menjadi salah satu bagian yang paling menantang baginya. Wawancara kelompok, penampilan bakat secara spontan, hingga Focus Group Discussion (FGD) dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya menjadi pengalaman yang menguji kesiapan dan keberaniannya.

Situasi semakin menantang karena seluruh peserta memiliki kualitas yang menurut Bunga relatif merata. Dari banyaknya pendaftar, hanya tiga peserta dari setiap fakultas yang akhirnya terpilih menjadi Duta PBAK 2026. Pada titik itu, Bunga mengaku sudah menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Perjalanan ternyata belum selesai setelah dinyatakan lolos. Bagi Bunga, justru dari proses latihan bersama para duta dan mentor, mulai memahami bahwa menjadi Duta PBAK bukan sekadar tentang siapa yang mendapatkan gelar.

“Orang sering melihat Duta PBAK sebagai role model dan mahasiswa baru. Tapi bagi, setelah menjalani semua rangkaian seleksi dan latihan panjang bersama, saya memahami bahwa Duta PBAK bukan hanya 1 orang yang diberi gelar, namun dibalik nya kami berdiri bersama 27 duta dari masing masing fakultas didampingi para mentor dalam proses memahami tugas, dan mempersiapkan diri untuk tampil dihadapan semua orang,” tuturnya.

Bersama para duta dan mentor, Bunga menjalani proses panjang untuk memahami tugas dan mempersiapkan penampilan terbaik. Di tengah latihan, mereka tidak hanya berbicara tentang tugas dan penampilan. Ada keluh kesah, rasa lelah, kesulitan, hingga kebahagiaan yang dibagikan bersama. Karena itu, bagi Bunga, pengalaman itu terasa lebih dari sebuah perlombaan.

“Semua itu terasa lebih dari sebuah perlombaan karna kami berbagi keluh kesah, kesulitan, rasa lelah, perjuangan dan kebahagiaan bersama demi menampilkan yang terbaik dihadapan semua orang. Mungkin hanya ada 1 gelar tapi kemenangan ini, kami rayakan bersama sama,” katanya.

Semangat untuk mencoba hal baru sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi Bunga. Sejak SMA, cukup aktif dalam berbagai kegiatan, baik organisasi maupun perlombaan. Dengan pernah terlibat dalam Pramuka dan komunitas Volunteernesia. Dalam bidang prestasi, sangat menekuni sastra, khususnya menulis dan membaca puisi, serta olahraga pencak silat.

Alih-alih menjadikan kemampuan peserta lain sebagai alasan untuk merasa minder, Bunga memilih untuk memberikan kemampuan terbaiknya. Ia berusaha berbaur dengan para finalis, tetapi tetap menjadi dirinya sendiri.

“Menurut saya setiap finalis Duta PBAK 2026 memiliki potensinya tersendiri, saya hanya berusaha memberikan yang terbaik, berbaur dengan semua finalis tanpa kehilangan diri sendiri,” ujarnya.

Bagi Bunga sendiri, ada sesuatu yang ingin ia tinggalkan setelah masa tugasnya berakhir. Bukan sekadar nama sebagai Duta PBAK, melainkan kesan sebagai seseorang yang mampu membawa semangat dan energi positif bagi orang-orang di sekitarnya.

“Gelar Duta PBAK ini akan terus dilanjutkan ke mahasiswa baru ditahun tahun berikutnya, saya harap mereka bisa menikmati semua prosesnya dan tidak terbebani dengan gelar yang dimiliki. Dan hingga saat itu tiba saya ingin dikenal sebagai seorang yang bisa menebarkan semangat dan energi positif kepada semua orang dan dan bisa menjadi role model yang menginspirasi namun tetap menjaga komitmen terhadap diri sendiri,” jelasnya.

Sebab pada akhirnya, bagi Bunga, menjadi Duta PBAK bukan hanya tentang berdiri paling depan atau mengenakan sebuah gelar. Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi ruang untuk berani mencoba, mengenal diri sendiri, bertumbuh bersama orang lain, dan belajar bahwa sebuah pencapaian tidak selalu harus dirayakan sendirian.

Satu gelar mungkin hanya melekat pada beberapa nama. Namun, di baliknya ada puluhan cerita, perjuangan, dan orang-orang yang tumbuh bersama dalam proses yang sama. (Fitri Awaliyah / Magang)

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *