UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar ICON-IMAD XV 2026: Angkat Isu Ekoteologi Melayu-Islam di Era Multipolar

UINSGD.AC.ID (Humas) — Di tengah hiruk-pikuk disrupsi global, Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar perhelatan akbar Konferensi Internasional tentang Islam di Dunia Melayu atau International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD) ke-XV. Berlangsung selama tiga hari, 27–29 Juli 2026, forum akademik bergengsi ini mengusung tema sentral “Ekoteologi Melayu-Islam sebagai Ketahanan Budaya di Era Multipolar”.

UIN Sunan Gunung Djati Bandung bertindak sebagai tuan rumah utama, melanjutkan estafet kesuksesan wacana akademik regional yang pada edisi sebelumnya digelar di Brunei Darussalam. Konferensi edisi ke-15 ini mencatat partisipasi masif dengan kehadiran sekitar 500 peserta dan pemaparan 355 artikel riset dari seluruh kawasan Asia Tenggara.

Terselenggaranya simfoni akademik ini merupakan wujud nyata kolaborasi konsorsium empat institusi pendidikan terkemuka di dunia Melayu: Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati (Indonesia), Akademi Pengajian Islam Universitas Malaya (Malaysia), Fakultas Usuluddin UNISSA (Brunei Darussalam), dan Fakultas Ilmu Islam Prince of Songkla University (Thailand).

Sambutan Hangat Rektor: Dari Pesona Bandung hingga Orasi Ekologis
Acara pembukaan diisi dengan Welcoming Address dan pidato utama dari Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag. Dalam sambutannya, Guru Besar Ilmu Tafsir ini menyapa dengan hangat seluruh delegasi mancanegara yang hadir.

“Selamat datang kepada semuanya, para tamu undangan dari Malaysia, dari Brunei Darussalam, dan dari Thailand di kampus kami. Saat ini kita berada di Kampus I. Kami memiliki tiga kampus; Kampus II letaknya berdampingan dengan Masjid Raya Al-Jabbar yang insyaallah akan menjadi lokasi utama penyelenggaraan kegiatan, serta Kampus III di kawasan Cileunyi-Jatinangor,” paparnya memperkenalkan profil kampus yang terus berkembang.

Rektor menjabarkan agenda keakraban para delegasi selama berada di Kota Kembang. “Kita akan bersama-sama di Bandung selama dua hari. Nanti malam, insyaallah kita akan hadir di Pendopo Wali Kota untuk Host Gala Dinner. Mudah-mudahan Bapak Wali Kota (H. Muhammad Farhan, SE.) bisa hadir karena berbarengan juga dengan pertandingan Persib malam nanti.”

Dengan nada berkelakar yang disambut tawa peserta, Rektor menambahkan, “Banyak sekali objek wisata di sini. Katanya, kalau mau mengelilingi objek-objek di Kota Bandung dan sekitarnya itu butuh waktu minimal tujuh hari. Jadi, saya persilakan Bapak dan Ibu untuk hadir di Bandung selama tujuh hari, insyaallah kami siap menemani,” jelasnya.

Setelah menyapa delegasi, Prof. Rosihon menautkan pembicaraan pada substansi krisis global melalui orasi ilmiah bertajuk “Reinterpreting the Relationship between Humans and Nature: Malay-Islamic Eco-Theology in the Perspective of Contextual-Transformative Interpretation in the Anthropocene Era”.

Prof Rosihon menegaskan peradaban kontemporer di era Anthropocene ditandai oleh krisis ekologi global masif akibat dominasi paradigma antroposentrisme modern dan kapitalisme sekuler yang mereduksi alam sekadar komoditas. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi ontologis dan etika lingkungan Islam (Green Islam, Eco-Islam).

Paradigma Qur’ani menolak tirani antroposentrisme melalui:

  • QS. Al-Baqarah: 30 (Khalīfah): Mandat keterwakilan moral untuk mengayomi kosmos, bukan dominasi eksploitatif.
  • QS. Ar-Rahman: 7–9 (Mīzān): Timbangan keseimbangan universal yang wajib dijaga.
  • QS. Ar-Rum: 41 (Fasād): Kerusakan ekologis adalah akibat langsung dari keserakahan manusia.
  • QS. Al-Ahzab: 72 / Al-An’am: 165 (Amānah dan Istikhlāf): Ujian akuntabilitas spiritual dalam mengelola bumi.

Prof. Rosihon memaparkan manifestasi Ekoteologi Melayu-Islam sebagai Living Tafsir, seperti konsep Hutan Larangan (penjelmaan amānah), Sistem Pantang Larang (penjagaan mīzān), dan Tradisi Gotong Royong (wujud nyata iṣlāḥ). “Model ini membuktikan bahwa living tafsir Nusantara mampu menjadi tameng ideologis (counter-hegemony) menolak green colonialism dan mewujudkan keberlanjutan peradaban,” ungkapnya.

Bukan Sekadar Wacana Hijau, Melainkan Kesadaran Kosmis
Ketua Pelaksana ICON-IMAD XV, Prof. Dr. H. Dindin Solahudin, MA., yang didampingi oleh Sekretaris Panitia, Prof. Mohammad Taufiq Rahman, Ph.D., memberikan penekanan filosofis yang tajam terkait urgensi eksistensial tema tahun ini.

“Tema ini bukan tentang wacana ‘hijau’ yang sekadar tren. Ini tentang pengembalian kesadaran manusia akan kedudukannya di alam semesta. Dunia hari ini sedang terperangkap dalam labirin multipolar yang penuh dengan kompetisi ekonomi destruktif dan eksploitasi alam yang brutal,” tegas Prof. Dindin di Gedung Anwar Musaddad, Selasa (28/7/2026).

Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama menjelaskan krisis iklim bukan lagi ancaman teoretis di masa depan, melainkan realitas yang sedang mengancam masyarakat Melayu hari ini.

“Disrupsi hari ini bukan sekadar teknik-mekanik, melainkan juga menyentuh fondasi budaya dan agama. Tantangan kita bukan sebatas banjir informasi, tetapi erosi nilai-nilai tradisional yang selama ini efektif menjaga harmoni antara manusia dan alam. Oleh karena itu, dunia Melayu harus menjadi subjek yang menyetir arah peradabannya sendiri,” jelasnya.

Dalam pandangan Islam-Melayu, alam adalah ayat Tuhan yang mesti dibaca, dipahami, dan dijaga. “Eco-theology adalah bentuk ketahanan budaya (cultural resilience). Manusia Melayu harus berlepas diri dari kekang modernitas yang antroposentris dan tampil sebagai khalifah fil-ardh yang bertanggung jawab penuh atas ekosistem bumi,” bebernya.

Sinergi Akademik: Lokakarya, Keynote Speech, dan Seminar
Rangkaian sesi akademik ICON-IMAD XV dirancang secara komprehensif. Pada kesempatan ini, Keynote Speech Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA., diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Sesditjen Pendis), Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag., yang menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai Islam dalam membangun ketahanan budaya dan nasional di era yang serba kompleks.

“Saya hadir di sini untuk menyampaikan sambutan pembukaan dari Menteri Agama, Profesor Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. Beliau memohon maaf karena satu dan lain hal, tidak dapat menyampaikan pidatonya secara langsung pada acara akademis yang luar biasa ini. Oleh karena itu, izinkan saya untuk mewakili beliau dan membacakan pidato pembukaannya.”

Para cendekiawan terkemuka, delegasi yang terhormat, tamu undangan, dan hadirin sekalian. Selamat datang di Konferensi Internasional ke-15 tentang Islam di Dunia Melayu, atau ICON IMAD 15. Merupakan suatu kehormatan besar untuk berada di sini hari ini bersama seluruh peserta di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Saya ingin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pihak universitas dan panitia penyelenggara karena telah menjadi tuan rumah bagi konferensi penting ini. Konferensi ini berfungsi sebagai panggung intelektual penting yang menyatukan para cendekiawan, peneliti, dan praktisi untuk membahas hubungan antara warisan agama kita dan tantangan ekologis di zaman kita saat ini,” ujarnya.

Tema konferensi tahun ini, ‘Ekoteologi Islam Melayu sebagai Ketahanan Budaya di Era Multipolar’, sangatlah tepat waktu dan amat relevan. Kita hidup di era perubahan lingkungan, sosial, dan geopolitik yang berlangsung sangat cepat. Dalam menanggapi tantangan-tantangan ini, kita diingatkan kembali bahwa tradisi agama kita terus menawarkan panduan etis yang mendalam untuk melindungi bumi, rumah kita bersama.

Di dalam Islam, hubungan antara manusia dan alam bersifat suci. Hutan, lautan, sungai, pegunungan, dan udara adalah manifestasi dari kebijaksanaan dan amanah Allah yang dititipkan kepada umat manusia. Sebagaimana Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an suci: ‘Walladzi ja’alakum khala’ifa fil ardh’. Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah (penerus) di bumi (Surah Fatir: 39).”

Sebagai khalifah, kita tidak diberikan hak istimewa untuk mengeksploitasi bumi. Sebaliknya, kita dipercaya mengemban tanggung jawab untuk melindungi, melestarikan, dan merawat ciptaan-Nya. Allah juga berfirman, ‘Was sama’a rafa’aha wa wadha’al mizan. Alla tatghaw fil mizan.’ Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu (Surah Ar-Rahman: 7-8). Mizan atau keseimbangan ini adalah fondasi keharmonisan yang menopang seluruh kehidupan.

Allah memperingatkan kita, ‘Wala tufsidu fil ardhi ba’da islahiha’ (Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik – Surah Al-Baqarah: 60/Al-A’raf: 56). Oleh karena itu, perusakan lingkungan bukan sekadar masalah ekologis semata, melainkan juga masalah moral dan spiritual.”

“Atas alasan tersebut, saya melihat konferensi ini lebih dari sekadar perkumpulan akademis. Ini adalah sebuah komitmen kolektif untuk menerjemahkan nilai-nilai teologis ke dalam tindakan yang bermakna. Di dunia multipolar saat ini, di mana kepentingan jangka pendek kerap kali membayangi keberlanjutan jangka panjang, kita harus menghidupkan kembali kebijaksanaan leluhur kita yang hidup selaras dengan alam dan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam kebijakan publik, pendidikan, dan kehidupan kita sehari-hari,” tandasnya.

Sebagai bangsa yang berakar kuat pada nilai-nilai ini dan menjadi rumah bagi salah satu populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia tetap berkomitmen untuk mendorong moderasi beragama, ketahanan budaya, dan pemeliharaan lingkungan sebagai bagian dari kontribusinya bagi komunitas global.

“Saya mendorong seluruh peserta untuk terlibat dalam konferensi ini dengan rasa keingintahuan intelektual, pemikiran kritis, dan komitmen bersama untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. Semoga diskusi-diskusi yang berlangsung selama konferensi ini mampu melahirkan ide dan rekomendasi yang membawa manfaat bagi komunitas kita, para pembuat kebijakan, dan generasi mendatang,” paparnya.

“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pembicara terhormat, akademisi, moderator, peninjau ahli, anggota panitia, sukarelawan, sponsor, dan semua pihak yang telah bekerja tanpa kenal lelah untuk mewujudkan konferensi ini. Akhir kata, saya mengucapkan selamat kepada semua pihak, khususnya Bapak Rektor Prof. Rosihon, atas dibukanya Konferensi Internasional ke-15 tentang Islam di Dunia Melayu,” jelasnya.

Dan atas nama Menteri Agama, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, “saya menyatakan Konferensi Internasional ke-15 ini secara resmi dibuka. Semoga konferensi ini berjalan lancar dan sukses, memperkuat sumbangsih keilmuan dan kolaborasi, menginspirasi gagasan-gagasan inovatif, serta menghasilkan kontribusi yang bermakna bagi dunia Melayu dan lingkungan global kita bersama. Terima kasih,” ujarnya.

Sebelumnya, pada Senin (27/7/2026), rangkaian acara diawali dengan Research Workshop yang berlangsung di Ibis Bandung Trans Studio. Sesi ini menghadirkan:

Prof. Atip Latipulhayat (Wakil Menteri Dikdasmen RI): “Research Agenda: Investigating Malay-Islamic Eco-Theology as a framework.” Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah (UIN SGD): “Harmonizing Theology, Nature, and Culture to Build a Better Education.” Prof. Dr. Asmak bin Abd Rahman (Universiti Malaya): “Building Global Excellence in Islamic Research through Publications, Innovation, and Collaboration.” Pada sesi ini dipandu oleh Wakil Direktur II Bidang Akademik dan Kelembagaan Pascasarjana UIN SGD, Prof. Dr. H. Aden Rosadi, M.Ag.

Prof. Jamhari Makruf, MA, Ph.D. (Rektor UIII) tampil sebagai lead speaker dengan topik “Intellectuals as Architects of Renewal in Reshaping Islam in the Malay World,” yang dipandu oleh Wakil Direktur I Bidang Akademik dan Kelembagaan Pascasarjana UIN SGD, Prof. Dr. H. Ajid Thohir, M.Ag.

Dalam paparannya, Prof. Jamhari menegaskan bahwa dunia Melayu tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai wilayah pinggiran (periphery) dalam peta peradaban Islam, melainkan harus diakui sebagai salah satu laboratorium raksasa bagi pembaruan intelektual global. Dengan menyerukan urgensi dekolonisasi pengetahuan (decolonizing knowledge), mengingat “siapa yang menulis sejarah itu sangat menentukan.” Narasi peradaban Islam Nusantara, harus dikonstruksikan secara mandiri oleh para cendekiawan lokal yang paling memahami kedalaman dan dinamika tradisi di kawasan ini.

Dengan membedah bagaimana gelombang pembaruan tersebut dirajut secara historis, mulai dari terbangunnya koneksi jaringan Haramayn, masifnya penyebaran ilmu melalui tradisi literasi aksara Jawi, hingga berkembangnya eksperimen pendidikan Islam melalui institusi modern (seperti IAIN, UIN, dan UIII) yang mengintegrasikan agama, sains, dan teknologi. Khazanah Melayu ini mewariskan prinsip Wasatiyyah yang bertumpu pada keadilan, toleransi, kedamaian, dan dialog. Menghadapi era disrupsi yang ditandai dengan ancaman krisis iklim (climate crisis), ekstremisme, hingga gempuran kecerdasan buatan (AI), model peradaban nirkekerasan ala Melayu ini merupakan sumber daya intelektual yang dapat menjadi tawaran model global (global model).

Prof. Jamhari memberikan konklusi reflektif bagi sivitas akademika yang hadir dan memperkuat fondasi diskursus intelektual pada konferensi ini. “Masa depan peradaban Islam tidak akan dibangun dengan keharusan memilih antara tradisi atau modernitas, melainkan dengan melahirkan dan merawat para intelektual yang mampu menghubungkan keduanya dengan setia,” paparnya.

Kajian semakin mendalam pada Sesi Seminar yang menghadirkan empat pakar dari negara-negara serumpun untuk mensintesiskan ilmu keislaman klasik dengan disiplin ilmu modern:

Prof. Dr. Md. Fauzi Hamat (Dekan Akademi Studi Islam, UM Malaysia): Ekoteologi dalam Kerangka Al-Ghazali; Transformasi Spiritual untuk Kelestarian Nusantara. Assoc. Prof. Dr. Anas Malik Thoha (Dekan Fakultas Usuluddin UNISSA, Brunei): Eco-Theology Beyond Sustainability: Towards a Malay-Islamic Ecological Civilization in the Multipolar Era. Prof. Dr. Zakariya Hama (Direktur Pusat Ekonomi Islam, PSU Thailand): From Growth to Resilience: Islamic Finance in Thailand and Its Strategic Role in the Malay-Islamic World. Prof. Dr. H. Ahmad Sarbini, M.Ag. (Direktur Pascasarjana UIN SGD, Indonesia): Ecological Dakwah in Malay-Islamic Tradition as Cultural Resilience in the Multipolar Era.

Visi Keunggulan dan Diplomasi Intelektual
Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Ahmad Sarbini, M.Ag., memberikan penghormatan mendalam kepada tim reviewer yang telaten memastikan setiap proposisi memiliki bobot intelektual tinggi, serta jajaran panitia yang telah bekerja keras tanpa lelah. Apresiasi ini juga ditujukan kepada seluruh universitas mitra.

“Dukungan Anda adalah napas bagi keberlangsungan network intelektual dunia Melayu ini. Hasil konferensi ini (conference outcomes) diproyeksikan menjadi rujukan kunci (key reference) bagi para pembuat kebijakan, aktivis lingkungan, dan akademisi. Bila ICON-IMAD ini adalah jembatan, adalah tugas setiap kita memastikan jembatan tersebut dilalui oleh ide-ide konstruktif yang membawa dampak nyata bagi kelangsungan hidup bumi yang kita cintai,” paparnya.

Visi institusi sebagai pusat keunggulan menuntut Pascasarjana UIN Bandung untuk terus menjadi rumah bagi riset-riset berkualitas. Terkumpulnya berbagai pemikiran dari para akademisi, peneliti, dan praktisi lintas negara menjadi bukti nyata upaya membedah kompleksitas dunia Melayu.

“Sebagai institusi pendidikan tinggi berbasis Islam, Pascasarjana UIN Bandung memikul amanah strategis untuk menjembatani antara tradisi keilmuan Islam yang kaya dengan tantangan epistemologis dunia modern. Kami percaya bahwa riset yang berkualitas tidak boleh tercerabut dari akarnya, namun juga tidak boleh menutup diri dari perkembangan metodologi sains kontemporer,” jelas Prof. Sarbini.

Salah satu pilar utama yang menjadi ruh dari ICON-IMAD ini adalah upaya integratif untuk memadukan wahyu dan ilmu pengetahuan. Dalam riset-riset yang terhimpun, terlihat jelas bagaimana para peneliti berusaha keluar dari jebakan dikotomi yang kaku antara sains dan agama.

“Ketika kita mengangkat tema Eco-Theology dalam konferensi ini, kita sedang menyaksikan bagaimana wahyu dijadikan sebagai landasan etis bagi riset-riset ekologi, sementara ilmu pengetahuan berfungsi sebagai instrumen untuk menguraikan realitas empiris yang ada di lapangan. Integrasi ini adalah napas bagi Pascasarjana UIN Bandung. Kita ingin agar setiap karya ilmiah yang dihasilkan, termasuk yang terangkum dalam buku ini, tidak hanya menjadi tumpukan data, melainkan juga sebuah kontribusi teoretis yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas,” tuturnya.

Peran strategis Pascasarjana UIN Bandung dalam memimpin dialog keagamaan tingkat internasional tercermin jelas dalam cakupan abstrak-abstrak yang dipresentasikan. Keberagaman perspektif yang muncul baik dari sudut pandang sejarah, hukum, ekonomi, maupun sosiologi agama menunjukkan bahwa dunia Melayu memiliki kerangka berpikir yang unik dan sangat relevan untuk ditawarkan kepada dunia.

“Kami menyadari bahwa untuk memimpin dialog global, kita harus mampu mengartikulasikan nilai-nilai Islam dalam bahasa akademik yang universal namun tetap menjaga otentisitas tradisi. Melalui ICON-IMAD XV ini, kita sedang melakukan diplomasi intelektual, yakni menunjukkan kepada komunitas global bahwa Pascasarjana UIN Bandung adalah institusi yang mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran transformatif yang mampu menjawab krisis kemanusiaan dan krisis ekologis yang sedang mendera dunia multipolar saat ini,” pungkasnya.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *