UINSGD.AC.ID (Humas) — Saya sering mengalami momen ketika sebuah gagasan menarik dan unik tiba-tiba muncul dalam pikiran. Namun, celakanya suka menghilang sebelum sempat diwujudkan.
Karena itu, saat ide melintas di benak, saya segera menuliskan apa adanya (biasanya saya tulis menggunakan stylus/pensil HP) tanpa memikirkan susunan kalimat atau kesempurnaannya.
Anggap saja sebagai prototipe tulisan, tempat menyimpan bahan mentah sebelum diolah lebih lanjut.
Setelah ide berhasil ditangkap, barulah tulisan dibaca ulang, diperbaiki, dan dirapikan. Cara sederhana ini membantu menjaga keaslian gagasan sekaligus mencegah ide-ide berharga hilang begitu saja.
Banyak tulisan saya yang berawal dari coretan di saat menikmati turbulensi pesawat. Duduk sendirian di Whoosh. Daripada ngalamun teu puguh, saya buat catatan-catatan kecil yang masih berantakan di layar gawai.
Satu buah artikel “Hijrah dan Politik Unta” yang diterbitkan Kompas hari ini, umpamanya, idenya mungkin 5 hari yang lalu atau satu minggu ke belakang, yang sebelumnya masih berupa catatan berantakan. Baru setelah rada salse dibenahi.
Cilembu, 16 Juni 2026 ditulis sambil menyaksikan kebon hui di lembur….
Ija Suntana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM).