Meneguhkan Keunggulan: Dialektika Inklusivitas dan Eksklusivitas Menuju Peradaban

Dies Natalis ke-58 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ilustrasi AI

Refleksi Dies 58 UIN Bandung 

UINSGD.AC.ID (Humas) — Tanggal 8 April 2026 UIN melaksanakan Dies Natalis ke-58. Dies natalis UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum reflektif untuk meneguhkan kembali arah dan jati diri institusi.

Tema yang diangkat tahun ini, “58 Tahun Meneguhkan Keunggulan: dari Kampus Keilmuan menuju Peradaban”, mengandung pesan mendalam: bahwa universitas tidak hanya menjadi ruang produksi ilmu, tetapi menjadi aktor penting dalam membentuk arah peradaban.

Kaligrafi Bismillah

Refleksi ini dapat dimulai dari simbol yang sering luput dari perhatian, tetapi sesungguhnya sarat makna: kaligrafi bismillāhirraḥmānirraḥīm yang terpampang di gerbang kampus.

Lafadz ini bukan sekadar ornamen religius, melainkan fondasi epistemologis dan ontologis yang menuntun arah keilmuan UIN. Di dalamnya terkandung dua sifat Ilahi yang menjadi kunci membaca peran perguruan tinggi Islam: al-Raḥmān dan al-Raḥīm.

Sifat al-Raḥmān mencerminkan kasih sayang Allah yang universal, melampaui batas-batas identitas, agama, dan geografis. Ia inklusif, terbuka, dan merangkul seluruh ciptaan. Dalam konteks perguruan tinggi, ini meniscayakan sikap keterbukaan terhadap berbagai tradisi keilmuan, dialog lintas disiplin, serta keterlibatan aktif dalam percakapan global.

UIN tidak boleh menjadi menara gading yang terisolasi, tetapi harus menjadi simpul pengetahuan yang terhubung dengan dinamika dunia.

Namun di sisi lain, terdapat sifat al-Raḥīm, yang bersifat khusus, intens, dan terarah kepada mereka yang beriman. Di sinilah dimensi eksklusivitas menemukan relevansinya.

Perguruan tinggi Islam tidak boleh kehilangan identitasnya. Ia harus memiliki fondasi teologis, metodologis, dan etis yang kokoh. Tauhid bukan sekadar doktrin, tetapi paradigma yang membentuk cara berpikir, meneliti, dan bertindak.

Dialektika antara inklusivitas (raḥmānīyah) dan eksklusivitas (raḥīmīyah) inilah yang seharusnya menjadi kekuatan utama UIN dalam menapaki jalan menuju peradaban. Inklusif tanpa eksklusif akan melahirkan relativisme yang kehilangan arah. Sebaliknya, eksklusif tanpa inklusif akan melahirkan isolasionisme yang mandek dan tertutup.

Fondasi Tauhid

Sejarah UIN—yang berakar dari IAIN—dibangun di atas fondasi tauhid yang kokoh. Transformasi kelembagaan dari IAIN ke UIN bukan sekadar perubahan nomenklatur, tetapi perluasan horizon keilmuan: dari studi keislaman klasik menuju integrasi ilmu agama dan ilmu umum.

Namun tantangan hari ini jauh lebih kompleks. Globalisasi, disrupsi teknologi, dan kompetisi akademik menuntut UIN untuk tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga diakui secara global.

Di sinilah pentingnya dua gerak simultan yang harus terus diperkuat: membaca dunia dan dibaca dunia. Membaca dunia berarti menghadirkan riset yang responsif terhadap persoalan aktual: ekonomi syariah, krisis lingkungan, keadilan sosial, hingga transformasi digital.

Sementara dibaca dunia berarti memastikan bahwa hasil-hasil penelitian tersebut hadir dalam ruang publik global melalui publikasi ilmiah bereputasi, kolaborasi internasional, dan kontribusi nyata dalam diskursus akademik dunia.

Keunggulan yang diteguhkan bukanlah keunggulan administratif atau simbolik, melainkan keunggulan epistemik dan peradaban. UIN harus melahirkan sarjana yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi memiliki kedalaman spiritual dan kepekaan sosial. Sarjana yang mampu menjembatani teks dan konteks, wahyu dan realitas, lokalitas dan globalitas.

Dengan demikian, Dies Natalis ke-58 ini seharusnya menjadi titik tolak untuk memperkuat identitas ganda UIN: sebagai kampus keilmuan yang terbuka dan sebagai institusi tauhid yang berakar kuat. Dari sinilah jalan menuju peradaban dapat dirintis—peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga bermartabat secara moral dan spiritual.

Akhirnya, kaligrafi bismillāhirraḥmānirraḥīm di gerbang kampus bukan sekadar tulisan, melainkan kompas. Ia mengingatkan bahwa setiap langkah keilmuan harus dimulai dengan kesadaran Ilahiah: inklusif dalam menjangkau dunia, tetapi tetap eksklusif.

 

Sofian Al Hakim, Ketua Program Magister (S2) Hukum Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *