UINSGD.AC.ID (Humas) – Dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efektivitas pembelajaran, dosen serta tenaga kependidikan UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung mengikuti pelatihan Gemini Academy yang diselenggarakan secara daring mulai Senin (10/8/2026) hingga Jumat (14/8/2026).
Gemini Academy merupakan program pelatihan dan sertifikasi kecerdasan buatan (AI) resmi dari Google yang ditujukan bagi sivitas akademika. Pelaksanaan program Gemini Academy by Websis For Edu ini didukung oleh kapasitas mereka sebagai Google for Education Professional Development Partner, dan dikelola langsung oleh Tim Edutech Specialist yang terdiri dari para pakar berlisensi: Google Certified Trainers, Coaches, & Gemini Educators.
Pelatihan ini dirancang secara khusus untuk mengoptimalkan pemanfaatan Google Gemini dalam mendukung tridharma perguruan tinggi, mulai dari pembelajaran, penelitian, hingga layanan administrasi kampus. Acara ini menghadirkan dua pakar dari tim Websis For Edu sebagai narasumber utama, yakni Edu-Tech Specialist, Anastasia Abigail, dan perwakilan Google Educator Group Indonesia, Maulana Ayub. Keduanya memberikan panduan komprehensif mulai dari dasar pemanfaatan AI hingga etika penggunaannya di lingkungan akademik.
Keamanan Data dan Ekosistem Kampus
Dalam sesi pertama, Anastasia Abigail menekankan pentingnya penggunaan akun domain kampus (berakhiran ac.id atau Google Workspace for Education) saat mengakses Gemini. Hal ini berkaitan erat dengan keamanan dan privasi data riset maupun dokumen kampus.
“Ketika Bapak dan Ibu mengunggah tugas mahasiswa atau dokumen penting kampus menggunakan akun ac.id, itu jauh lebih aman. Dokumen tersebut tidak akan digunakan untuk melatih model pembelajaran AI Gemini, berbeda jika menggunakan akun Gmail biasa,” jelas Anastasia, Selasa (11/8/2026)
Selain keamanan, Anastasia memaparkan peta jalan (roadmap) pelatihan yang terbagi dalam dua tahap. Peserta ditargetkan untuk membangun literasi AI, membuat portofolio Google Sites terkait praktik baik pemanfaatan Gemini, serta membagikan ilmu tersebut kepada minimal 20 rekan atau mahasiswa. Peserta yang berhasil menyelesaikan seluruh tahapan akan mendapatkan sertifikat Gemini Faculty dan sertifikat senilai 32 Jam Pelajaran (JP).

Waspada Halusinasi AI dan Penggunaan yang Bertanggung Jawab
Pada sesi kedua, Maulana Ayub menyoroti sisi kritis dari penggunaan AI. Ia mengingatkan para dosen sebagai garda terdepan di kelas untuk mewaspadai potensi bias sosial dan “halusinasi” AI, kondisi di mana sistem mengarang fakta, menggunakan logika yang salah, atau membuat kutipan palsu yang terdengar meyakinkan.
Untuk mengatasi hal itu, Maulana memperkenalkan metode evaluasi kritis “Triple E”:
- Evaluasi Akurasi: Memverifikasi fakta dan data secara manual menggunakan sumber tepercaya.
- Evaluasi Kesesuaian (Alignment): Mencocokkan hasil AI dengan tujuan awal tugas atau rubrik penilaian.
- Evaluasi Kelayakan (Appropriateness): Memastikan ide atau contoh yang dihasilkan aman dan sesuai dengan konteks pendidikan serta usia target mahasiswa.
“AI adalah sistem pendukung, namun manusia yang memegang kendali kualitas (quality control). Kita harus bijak menjaga data privasi dengan melakukan anonimisasi dan meminimalkan input data pribadi saat berinteraksi dengan chatbot,” tegas Maulana.

Formula Prompting PARTS untuk Akademisi
Untuk memaksimalkan output yang dihasilkan Gemini, Maulana membagikan teknik menyusun perintah (prompt) secara profesional menggunakan kerangka PARTS, yaitu:
P – Persona: Menentukan peran AI (contoh: “Bertindaklah sebagai dosen senior…”).
A – Aim: Menjelaskan tugas atau tujuan secara spesifik (contoh: “…buatkan silabus 14 minggu…”).
R – Recipient: Menentukan siapa penerima atau audiensnya (contoh: “…untuk mahasiswa sarjana…”).
T – Theme: Menyebutkan topik atau konteks (contoh: “…mata kuliah Pengantar Psikologi.”).
S – Structure: Menentukan format hasil yang diinginkan (contoh: “…buat dalam format tabel dengan capaian pembelajaran dan rubrik penilaian tugas.”).
Dengan adanya pelatihan ini, UIN SGD Bandung berharap para dosen dan staf dapat mentransformasi metode pembelajaran agar lebih efisien, personal, dan inovatif, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip keamanan digital dan etika akademik.

