Riwayat ini masyhur, tentang orang Badui yang kencing di dalam masjid. Kemudian beberapa sahabat bangkit untuk memukulnya, namun Rasulullah SAW melarangnya dan bersabda: Biarkan dia, tuangkanlah pada kencing itu setimba air. Sesungguhnya aku diutus untuk mempermudah, bukan mempersulit. (HR Bukhari).

Sungguh pelajaran indah dari sekolah kehidupan untuk bersi kap sabar dan lembut. Menahan diri agar tidak mudah marah. Boleh jadi seseorang berlaku keliru karena tidak tahu. Hidup ini beragam warna dan rasa. Kadang kita dirundung kecewa, ditimpa gagal, dihancurkan pengkhianatan, diluluhlantakkan fitnah, digerogoti permusuhan, dirajam kesalahpahaman, dihinakan, atau bahkan diabaikan. Kadang hal itu terjadi kepada diri dengan alasan yang tak begitu jelas. Ingatlah, semua itu tiada lain ujian yang memerlukan kesadaran dan kesabaran dalam menyikapinya.

Iman dan takwa bekal utama dalam hidup agar jiwa, hati, serta pikiran tetap jernih dan tenang. Saat kita dinilai salah, bersiaplah menerima cibiran orang lain. Apabila melakukan kesalahan, segera bertobat dan pastikan tak akan mengulangi kesalahan tersebut. Hanya pada Allahlah segala sesuatunya dikembalikan. Lebih dari itu, berlapang dada untuk semua hinaan atas kesalahan dari orang lain yang mungkin tidak tahu duduk persoalannya.

Ketika ada orang lain menghina dan mencela, hendaknya tidak membalas dengan hinaan dan celaan yang sama. Sebagaimana Allah SWT berfirman, Tolaklah (kejahatan itu)dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada permusuhan di antaramu dan dia seolah-olah telah menjadi teman yang setia. (QS Fushilat: 34).

Anas ibn Malik menyebut, ayat ini menjelaskan tentang seseorang yang mencela saudaranya sendiri. Namun, saudaranya itu justru berkata kepadanya, Jika apa yang kau ucapkan itu adalah suatu kebohongan, semoga Allah mengampunimu. Tapi jika yang engkau ucapkan itu benar, semoga Allah mengampuniku.

Seorang Muslim yang baik apabila diuji dengan musibah, kegagalan, atau bahkan hinaan, obatnya sabar. Ketika memperoleh anugerah, ia bersyukur. Ketika menghadapi ketetapan Allah SWT, ia menerimanya dengan ridha.

Terkadang Allah SWT memberikan ujian kepada makhluk- Nya dengan cara mengucilkan mereka, membuat terhina. Namun, setelah itu memperlihatkan mutiara hikmah di balik itu semua. Lihatlah bagaimana Nabi Nuh dipukuli kaumnya hingga pingsan, tetapi beberapa saat kemudian dia bersama kaumnya yang beriman selamat dari air bah dan topan, sementara musuhnya tenggelam. Nabi Ismail dengan pasrah bersedia dikorbankan demi ketaatan kepada perintah Allah SWT, lalu diselamatkan. Pujian atas kesabarannya abadi hingga kini.

Rasulullah SAW sejak mudanya telah yatim, ditimpa berbagai cobaan. Beliau adalah orang yang paling banyak menerima perilaku aniaya dan kezaliman dari orang-orang yang memusuhinya. Pernah dilempari batu hingga kedua kakinya terluka dan berdarah. Nabi Saw duduk berlindung di bawah pohon. Meskipun demikian, ia tetap lebih kukuh daripada Gunung Hira. Hingga pada akhirnya, seluruh upayanya berhasil, seperti penaklukan negara-negara besar serta tercapai cita-cita dan dakwahnya.

Mari pahami hidup ini sebagai sekolah kehidupan. Kelas ujian memberikan kita level kesanggupan yang lebih tinggi. Bagi seorang yang beriman, ujian merupakan pendidikan yang akan memuluskan jalannya menuju kebahagiaan akhirat. Membersih kan hati dan menjadikan jiwanya makin matang. Ia meyakini bahwa ujian adalah cara Allah SWT untuk mengangkat derajat, menghapuskan dosa dan memuliakannya di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Iu Rusliana, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.

Sumber, Hikmah Republika 31 Oktober

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *