Pentingnya Bookstore di Kampus

(UINSGD.AC.ID) — Kalau anda berkunjung ke sebuah universitas, fasilitas apa diantaranya yang ingin anda kunjungi? Tentu perpustakaannya. Ingin melihat buku-buku baru apa yang ada di rak display.

Tradisi di kampus-kampus, yang pernah saya kunjungi, ada rak display buku baru itu. Kalau sudah lihat, baca sekilas dan menarik serta sesuai dengan bidang ilmu yang kita geluti, kita ingin membelinya. Maka selanjutnya kita pergi ke toko buku yang ada di kampus itu atau bookstore.

Saya ingin cerita tentang took-toko buku di kampus tempat saya kuliah dan juga kampus-kampus yang pernah saya kunjungi. Saya mulai dari kampus-kampus di Australia. Di Australia, toko buku di kampus itu lebih dikenal dengan sebutan Co-op Bookshop. Coop atau Co-operative bookshop pertama didirikan di Universitas Sydney tahun 1958.

Inisiatornya adalah Malcolm Broun. Meskipun lahir di Bassendean, New South Wales, Australia, Broun sebenarnya keturunan keluarga kaya dari Edinburg, Skotlandia. Kakeknya hijrah ke Australia tahun 1854. Broun hoby bermain catur. Ia pernah menjadi  juara olah raga catur sebagai Australian Junior Chess Champion di usianya yang ke 18.

Diantara hoby lainnya adalah membaca dan mengkoleksi buku. Ia mengumpulkan buku-buku tentang catur yang pada akhirnya didonasikan ke Perpustakaan Nasional Victoria. Broun juga tercatat mendonasikan banyak bukunya ke perpustakaan Universitas Sydney.

Di masa jayanya coop book pernah memiliki 60 cabang di seluruh Australia dengan dua juta anggota. Tahun 2013, coop book pernah mengakuisisi distributor Central Books Service, Dan tahun 2016 pernah juga mengakuisisi retail Australian Geographic.

Sebelum pada akhirnya online bisnisnya di beli oleh booktopia. Di coop book juga bukan hanya buku baru yang dijual, tetapi buku bekas donasi dari para alumni yang sudah lulus juga tersedia. Tentu dengan harga murah.

Bukan hanya Australia yang punya tradisi toko buku di kampus. Jika anda ke Amerika juga hampir sama. Kalau anda berkunjung ke salah satu kampus terbaik dunia Harvard University, anda akan menemukan Harvard Bookstore. Bahkan sudah lebih dulu lahir dibandingkan coop book di Australia.

Harvard Bookstore sudah ada sejak tahun 1932. Memang tidak setua kampusnya. Yang bulan lalu berulang tahun ke 387. Tepatnya, Harvard berdiri 8 September 1636. Salah satu insitusi pendidikan tinggi tertua di Amerika.

Jika anda mengunjungi Harvard Boookstore, tidak hanya buku-buku baru yang dijual. Tetapi buku bekas atau used books. Informasi tentang buku baru minggu ini. Buku yang direkomendasikan oleh toko buku ini juga ada informasinya. Acara-acara akademik seperti diskusi buku biasa diselenggarakan di bookstore.

Dalam perkembangannya, baik di Autralia maupun di Amerika, toko-toko buku bukan hanya menjual buku. Tetapi juga menjual pernak-pernik universitas Ada kaos dan baju khas universitas. Ada gantungan kunci dan segala jenis pernak-pernik yang bisa dijadikan gift atau hadiah untuk oleh-oleh para pengunjung.

Di tempat saya kuliah dulu, di National University of Singapore, ada NUS-Coop. Didirikan tahun 1969. Yang dijualnya sama tidak hanya buku. Tetapi juga souvenir khas universitas, alat tulis, laptop dan assesorisnya, produk-produk elektronik bahkan minuman dan makanan ringan.

NUS Co-op adalah organisasi non-profit. Institusi ini bahkan menjadi partner terbaik kampus NUS dalam beberapa proyek strategis. Seperti  penyediaan angsuran kepemilikan laptop bagi mahasiswa (Notebook Ownership Scheme) dan pengembangan penjualan merchandise universitas termasuk pengelolaan childcare di kampus.

Sebagai bagian dari kegiatan social, keuntungan NUS coop banyak kembali ke komunitas NUS seperti dalam penyelenggaran Book Awards atau donasi ke NUS Endowment Fund dan terkadang menjadi sponsor bagi kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di kampus.

Pengalaman kampus-kampus yang saya sebutkan di atas nampaknya perlu dicontoh oleh kampus tercinta di Bandung. Adalah sangat elok jika kampus kami mempunyai bookstore.

Tentu seperti di kampus-kampus lain, bukan hanya menjual buku tetapi juga menjual aksesoris lainnya. Toko buku ini bisa bekerjasama dengan para dosen yang pernah menerbitkan buku untuk meminta penerbitnya menjual buku di toko buku kampus. Para mahasiswa yang sudah selesai juga bisa mendonasikan atau menjual dengan harga murah ke bookstore di kampus. Untuk selanjutnya dijual kembali dengan harga sangat murah oleh bookstore di kampus.

Para mahasiswa dan tamu yang berkunjung ke kampus juga bisa membeli merchandise kampus. Jika ada kegiatan yang memerlukan fasilitas kaos atau jacket berlogo kampus, pihak fakultas atau universitas bisa bekerjasama dengan bookstore.
Dalam skala yang lebih luas, bisa saja pusat bisnis kampus mengembangkan bookstore ini untuk menambah penghasilan kampus. Dana BLU kampus bisa bertambah karena adanya bookstore yang dikelola secara professional.

Seperti bookstore di Harvard yang menyelenggarakan diskusi buku baru, maka bookstore di kampus kami di Bandung juga bisa mencontohnya. Bookstore bisa mempromosikan dan mensosialisasikan karya-karya buku terbaru dosennya lewat diskusi buku yang terjadwal.

Adanya tempat untuk menjual buku-buku baru para dosen, bisa meminimalisir praktek penjualan buku secara langsung oleh dosen kepada mahasiswa. Yang kadang-kadang suka menimbulkan masalah.

Seperti di NUS, pihak bookstore kampus juga bisa mengadakan bookstore award. Pemberian apresiasi kepada dosen-dosen yang menulis buku baru dan berkualitas tentu bisa memotivasi para dosen. Untuk terus menebarkan gagasannya lewat penulisan buku.

Memang trend sekarang sudah mulai bergeser ke ebook. Tetapi bukan berarti kita tidak memulai untuk memiliki bookstore di kampus. Bisa saja pelayanan dua bentuk buku hard copy dan soft copy difasilitasi oleh bookstore di kampus. Siapa tahu cikal bakal bookstore bisa berkembang dan maju. Kita bisa juga mencontoh bagaimana amazon mengembangkan bisnisnya.

Sekarang, bukan hanya buku-buku cetak yang dikembangkan, tetapi ebook nya sudah merajai pasar di Amerika, bahkan dunia. Semoga kampus kami segera memiliki dan menghidupkan kembali bookstore di kampus.

Prof Ahmad Ali Nurdin, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *