MODERASI BERAGAMA, DAKWAH MODERAT DAN KELANGSUNGAN BANGSA

(UINSGD.AC.ID)-Moderasi itu bukanlah ajaran Islam. Moderasi merupakan watak utama, karakter sejati, dan sifat natural semua aspek ajaran Islam. Wasaṭiyyatul Islām merupakan watak otentik syariat Islam yang merefleksikan i’tidāl (ketegaklurusan) dan istiqāmah (konsistensi) pada aṣ-ṣirāth al-mustaqīm (jalan lurus). Maka, moderasi itu adalah kebenaran Islam itu sendiri. Sejauh dipahami dalam koridor kebenaran, Islam itu sejatinya berwatak moderat. Praktik beragama Islam yg tdk moderat tentu saja tidak senafas dg watak sejati Islam.

Frase yang benar adalah وسطية الاسلام (moderasi Islam), bukan islam wasathiyyah. Muqābalah moderasi Islam adalah ekstremisme, bukan radikalisme. Teleransi bukanlah indikator moderasi. Sebagai suatu aspek ajaran Islam, toleransi tunduk pada moderasi Islam. Toleransi ekstrem itu bertentangan dg moderasi Islam.

Dlm perspektif ilmu dakwah, moderasi Islam merupakan patokan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Obyek ilmu dakwah dan materi dakwah fokus pada diseminasi moderasi Islam. Metodologi ilmu dakwah dan metode dakwah seyogianyalah disiplin pada moderasi Islam. Proyeksi keilmuan dakwah dan target capaian dakwah pun taat pada prinsip² moderasi Islam, pada dataran ruh Islam dan مقاصد الشرع الخمسة.

Dakwah moderat mewujud berupa dakwah konstruktif membangun ketahanan bangsa dengan berasaskan dan mengetengahkan wasaṭiyyatul islām. Dengan watak wasaṭiyyah-nya, Islam seyogianya didakwahkan secara moderat. Dakwah radikal tidak masalah sejauh istiqāmah dalam koridor moderasi. Mendakwahkan Islam yang moderat secara radikal ekstrem tentu saja tidak bisa dibenarkan. Dakwah ekstrem mencederai moderasi Islam dan bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri.

Moderasi Islam meniscayakan umatnya untuk mempraktikkan syariat Islam secara moderat. Sejarah dakwah menunjukkan bhw praktik ekstrem dlm beragama telah menyebabkan kepunahan bangsa² terdahulu. Sebab itu, dakwah moderat mendorong Islam diamalkan oleh umatnya secara moderat. Moderasi beragama menjadi modal sosial penting bagi ketahanan bangsa.

Prof. Dr. H. Dindin Solahudin, MA., CHRA., Guru Besar Bidang Ilmu Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Untuk membaca selengkapnya Orasi Ilmiah Pengukuhan 14 Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jilid II dapat diunduh pada laman ini

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *