Mahasiswa Bandung Terpapar HIV/AIDS, Ini Hasil Riset Jurusan Administrasi Publik tentang Penanggulangannya

(UINSGD.AC.ID)-Beredarnya kabar bahwa terdapat ratusan mahasiswa asal Kota Bandung dinyatakan positif HIV/AIDS. Hasil laporan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung menyatakan bahwa kasus HIV (human immunodeficiency virus) di Provinsi Jawa Barat telah mengalami peningkatan.

Dengan total kasus sebanyak 5.943 kasus di Jawa Barat, KPA Kota Bandung mengkonfirmasi bahwa sebanyak 414 kasus merupakan mahasiswa asal Kota Bandung yang dinyatakan positif HIV.

Beberapa bulan sebelum kabar ini muncul ke permukaan, salah satu mahasiswi Jurusan Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah melakukan riset pada awal tahun ini mengenai penanganan HIV/AIDS di Kota Bandung.

Sukma Mutiara Insani merupakan mahasiswi Jurusan Administrasi Publik FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang telah lulus dengan IPK 3.80 pada tahun 2022. Melalui penelitiannya yang berjudul “Collaborative Governance dalam Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bandung”, ia menemukan beberapa akar masalah dalam penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bandung.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sukma tersebut telah terindikasi bahwa “kendala yang dihadapi atau akar masalah dalam proses penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bandung ditinjau melalui Konsep Collaborative Governance maka akar masalah yang terjadi adalah adanya keterlambatan atas kedatangan stok obat ARV, sehingga menghambat kinerja petugas di lapangan,” tegasnya, Jumat (26/08/2022).

Bukan hanya itu, ia juga menyatakan bahwa pendanaan dari pemerintah terhadap pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bandung masih belum maksimal, serta kurangnya dukungan dari setiap SKPD yang ada di Kota Bandung. Hal tersebut menyebabkan isu mengenai HIV/AIDS ini masih belum menjadi prioritas dan tingkat awareness yang masih sangat kurang.

Berdasarkan hasil penelitiannya, “peningkatan kasus HIV/AIDS di Kota Bandung ini bukan merupakan hal yang tidak mungkin terjadi. Pasalnya, kolaborasi pemerintah dalam tindakan penanggulangan pun belum dapat dikatakan maksimal,” jelasnya.

Sukma dalam penelitiannya merekomendasikan bahwa penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bandung di tinjau dalam konsep collaboratif Governance dapat dilakukan dengan memperjelas timeline kegiatan sehingga dapat di perhatikan oleh seluruh stakeholder yang berkaitan, “peningkatan awareness pemerintah terhadap penanganan HIV/AIDS yang dibuktikan dengan adanya anggaran yang jelas, serta penyederhanaan dan meminimalisir terjadinya arus birokrasi yang rigid dalam upaya penanganan HIV/AIDS di Kota Bandung,” tuturnya.

Penelitian ini dilakukan bersama-sama dosen atas nama Khaerul Umam M.Ag dan Sakrim Miharja, M.Ag bentuk artikelnya telah mendapatkan LoA (Letter of Acceptance) untuk diterbitkan pada bulan Nopember tahun 2022  pada Jurnal Terakreditasi di Jawa Barat.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *