Kembangkan LLM untuk Moderasi Konten Keagamaan Digital

Tim Peneliti UIN Bandung Laksanakan Studi Lapangan di Sulawesi Utara

UINSGD.AC.ID (Humas) – Tim peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung melaksanakan studi lapangan di Provinsi Sulawesi Utara pada 15-18 Juli 2026 sebagai bagian dari penelitian “Pengembangan Large Language Model (LLM) sebagai Sistem Moderasi Konten Keagamaan Digital untuk Memperkuat Moderasi Beragama di Indonesia.”

Penelitian ini didanai melalui skema hibah kolaboratif MoRA The AIR Funds (Riset Indonesia Bangkit) hasil kerja sama Kementerian Agama Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Tim peneliti dipimpin oleh Dian Nuraiman, Ph.D. (UIN Sunan Gunung Djati Bandung) dengan anggota Mohamad Irfan, S.T., M.Kom., Ph.D. (UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Dr. Mohamad Budiono, S.Ag., M.Pd.I. (UIN Sunan Ampel Surabaya), Dr. Abdul Muin, S.Ag., M.M. (UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten), dan Wildan Budiawan Z., S.T., M.Kom. (UIN Sunan Gunung Djati Bandung).

Studi lapangan diawali dengan kunjungan ke Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado. Kehadiran tim disambut oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK), Dr. Farno Billy Arthur Gerung, M.Th., beserta jajaran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).

Pada kesempatan itu, tim peneliti menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti oleh 15 peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. “Tujuannya untuk memperoleh perspektif akademik mengenai moderasi beragama dari sudut pandang Kristen sekaligus menguji prototipe sistem moderasi konten keagamaan digital berbasis Large Language Model (LLM) yang sedang dikembangkan,” tegasnya.

Selain mempresentasikan konsep penelitian, tim mendemonstrasikan prototipe sistem kepada peserta. Selanjutnya, peserta diminta memberikan umpan balik mengenai fungsi, kemudahan penggunaan, serta manfaat sistem. Tingkat penerimaan pengguna terhadap sistem juga diukur menggunakan instrumen Technology Acceptance Model (TAM) dan System Usability Scale (SUS).

Dalam paparannya, Ketua Tim Peneliti, Dian Nuraiman, menjelaskan bahwa sistem yang dipresentasikan masih berupa prototipe sehingga berbagai masukan dari pengguna menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan.

Peserta FGD, Merline M. Kukus, M.Th., Dosen Teologi, Biblika Perjanjian Lama, dan Pendidikan Agama Kristen, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, memberikan apresiasi terhadap penelitian yang dilakukan dan menyampaikan sejumlah rekomendasi. “Di antaranya penguatan materi moderasi beragama dari perspektif Kristen, penambahan studi kasus isu-isu keagamaan yang pernah terjadi di Indonesia dengan pendekatan yang lebih moderat, serta pengayaan basis pengetahuan menggunakan praktik-praktik baik kerukunan umat beragama di berbagai daerah,” jelasnya.

Salah seorang peserta Margarith I. Loho, Dosen Studi Perjanjian Lama, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, menyampaikan harapan agar sistem yang dikembangkan dapat berkembang menjadi platform pembelajaran moderasi beragama yang dapat diakses masyarakat luas.

Dengan demikian, pengguna tidak hanya memahami perspektif agamanya sendiri, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai nilai-nilai moderasi dari perspektif agama lain.

Sebagai bagian dari pengumpulan data lapangan, tim peneliti melakukan wawancara dengan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Utara, Pdt. Lucky Rumopa, M.Theol.

Wawancara itu bertujuan menggali praktik-praktik baik moderasi beragama di Kota Manado yang selama ini dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi yang tinggi di Indonesia.

Dalam diskusi itu, Pdt. Lucky Rumopa menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat Manado dibangun atas semangat saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menjaga kebersamaan di tengah keberagaman agama. “Warisan budaya itu menjadi modal sosial yang terus dipelihara oleh masyarakat Sulawesi Utara,” paparnya.

Tim peneliti mengunjungi Desa Waleure, Kecamatan Langowan Timur, Kabupaten Minahasa, yang diresmikan sebagai Kampung Moderasi Beragama pada 24 Juli 2023. Tim disambut langsung oleh Kepala Desa (Kumtua) Tatty F. Pankey.

Di desa tersebut, tim berdialog dengan pemerintah desa, masyarakat, serta tokoh agama, termasuk tokoh Islam di Masjid At-Taqwa. Desa Waleure menjadi contoh nyata kehidupan masyarakat yang harmonis, di mana pemeluk agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan penganut kepercayaan hidup berdampingan dengan semangat saling menghormati dan bergotong royong.

Seluruh informasi yang diperoleh dari FGD, wawancara, dan observasi lapangan akan menjadi masukan penting dalam penyempurnaan sistem moderasi konten keagamaan digital berbasis LLM.

“Dengan mengintegrasikan perspektif lintas agama serta praktik-praktik baik kerukunan yang berkembang di masyarakat, sistem yang dikembangkan diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang lebih kontekstual, inklusif, dan sejalan dengan semangat Moderasi Beragama di Indonesia,” bebernya.

Melalui penelitian ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus berkontribusi dalam pengembangan inovasi berbasis kecerdasan artifisial yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga mendukung penguatan toleransi, kerukunan, dan kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *