Isra Mikraj, Rajab dan Pandemi

(UINSGD.AC.ID)-“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Isra:1)


Dalam spirit ayat ini, baginda Nabi hanya dalam satu malam saja diperjalankan oleh Allah dari satu tempat mulia, Masjidil Haram di kota Mekah, menuju tempat mulia berikutnya, Masjidil Aqsha di Palestina. Kemudian mi’raj, naik ke shidrotul muntaha, untuk bertemu dengan Allah SWT. Lalu menapa Allah menghadiahi Baginda Nabi sebuah pengalaman dan perjalanan spiritual yang Maha Dahsyat?.


Dalam telaah para ulama, peristiwa besar itu Allah hadiahkan kepada baginda Nabi, karena beliau telah berhasil mengokohkan dan mengukuhkan, bi’abdihi, jati diri kehambaannya di hadapan Allah. Dalam catatan sirah nabawiah, peristiwa isra mi’raj dilatar belakangi oleh ragam peristiwa memilukan yang Allah ujikan kepada Baginda Nabi. Dari mulai ba’tsa, ujian ringan, dharra, ujian berat, sampai zilzal, ujian yang Maha Berat, telah dilalui Baginda Nabi begitu tulus dan indah.
Sebagai sebuah tamsil, isra mi’raj, dalam arti diperjalankannya seorang hamba dari satu posisi mulia kepada posisi mulia berikutnya, lalu mi’raj, yakni dinaikannya derajat dan martabat seorang hamba oleh Allah. Tentu saja akan Allah berikan kepada siapapun. Syarat utamanya, bagaimana setiap kita bisa memenuhi syarat sebagai, biabdihi, hambanya Allah.
Dalam spirit ini, bulan Rajab, seringkali menjadi momentum yang ditunggu oleh masyarakat muslim di dunia untuk melaksanakan ibadah Umrah. Pada bulan ini, Haramain seringkali disesaki oleh para peziarah yang memiliki spirit untuk mengokohkan dan mengukuhkan posisi kehambaannya di hadapan Allah. Momentum Isra mikraj menjadi semacam energi yang memamtik tingginya kesadaran keberagaman mereka.


Namun memasuki kali kedua bulan Rajab, potret Haramain adalah suasana hening karena sepinya peziarah. Kepungan pandemi covid 19, benar-benar telah meluluh lantakan semua sektor kehidupan manusia tanpa kecuali pelaksanaan ibadah umrah. Pada tahun ini, isra mi’raj yang seringkali menjadi momentum untuk mengukuhkan dan mengokohkan kehambaan dengan berbondong-bondong melaksanakan ziarah umrah, menjadi semacam momentum untuk melakukan refleksi.


Kehadiran pandemi covid 19, sesungguhnya membawa pesan langit. Ia bukan sekedar wabah, tetapi menjadi semacam medium untuk menguji status idealitas kehambaan kita dihadapan Allah. Kehadirannya memang mengundang respon yang beragam. Ada yang memandangnya sebagai ujian ba’tsa (ringan), dharra, (berat), namun umumnya covid 19 dipandang sebagai ujian zilzal (maha berat).


Dalam spirit Isra mi’raj, ujian adalah sesuatu yang nicaya, apapun bentuknya?, bagaimanapun levelnya?, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Seberat apapun ujian, ia menjadi semacam resiko bagi siapapun yang mengambil sikap untuk berani hidup. Dalam narasi para ulama ditegaskan, ad dunia daarul imtihani wal ibtila, dunia adalah area untuk latihan dan ujian. Pandemi covid 19, adalah utusan Tuhan yang membawa misi langit untuk menguji orang yang beriman.


Bila pandemi covid 19 ini bisa dilalui dengan penuh kesabaran, ketawakalan hingga mampu memantik hidup untuk produktif berbuat amal sholeh dan memberi trycle down effeck (efek rembesan) bagi meningkatkan kualitas keimanan. Kemudian kehadirannya tidak membuat setress, prustasi, apalagi putus asa dari rahmat Allah. Maka kehadiran pandemi akan menjadi semacam momentum yang bisa menghadirkan hadiah Allah dalam bentuk diperjalankan hidup dari satu posisi mulia kepada posisi mulia berikutnya. Bahkan dinaikan derjat pada martabat yang paling mulia.


Ketika bulan Rajab tahun ini, kerinduan membuncah ummat Islam untuk melaksanakan ibadah umrah sembari napak tilas peristiwa Isra mi’raj harus kembali ditangguhkan karena pandemi covid 19. Ini sesungguhnya skenario terindah dari Allah agar kita melakukan refleksi guna mengukuhkan dan mengokohkan posisi kehambaan kita. Semoga.

Aang Ridwan, Pembimbing Haji Plus dan Umroh Khalifah Tour dan Dosen FDK UIN Bandung

Sumber, Pikiran Rakyat 16 Maret 2021

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *