Intelektualisme Sunan Giri dan Transformasi Pendidikan dari Tatar Jawa Hingga Pasundan 

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam lintasan panjang sejarah Nusantara, transisi dari kosmologi Hindu-Buddha (serta kepercayaan lokal) menuju peradaban Islam berlangsung dalam sebuah dinamika dan persitegangan kultural. Tarik menarik tersebut melalui sebuah epos pergulatan intelektual dan struktural yang cukup menegangkan. Di episentrum pergulatan inilah berdiri sosok Raden Paku atau Sunan Giri (1442–1506), sebuah monumen hidup dari apa yang oleh Denys Lombard disebut sebagai persilangan budaya (carrefour) yang mengubah mentalitas maritim dan agraris Jawa.

Sunan Giri bukan sekadar seorang penyebar agama dan keagamaan (Islam) dalam pengertian dogmatis yang kaku. Ia muncul menjadi sosok arsitek peradaban Nusantara masa transisi, intelektual kosmopolitan, dan simpul utama dari jaringan ulama Nusantara. Kiprahnya ini kelak mengintegrasikan Tatar Jawa hingga Tatar Pasundan ke dalam “oikumene” Islam global.

Lahir pada sekitar tahun 1442 dengan nama Raden Paku, genealoginya merepresentasikan pertemuan dua kutub kekuasaan, yakni spiritualitas Islam transnasional dan aristokrasi lokal. Ayahnya, Maulana Ishaq (aktif pada pertengahan abad ke-15, sekitar 1450-an), merupakan seorang ulama pengelana yang terhubung dengan jaringan Samudera Pasai, sementara ibunya, Dewi Sekardadu (aktif sekitar 1440-an), merupakan putri dari Menak Sembuyu, penguasa Hindu di Blambangan.

Ironi sejarah dan intrik keraton membuat bayi Raden Paku dilarung ke laut, sebuah narasi mitologis yang secara historis menandai keterputusannya dari tatanan feodal Hindu untuk kemudian diselamatkan dan dibesarkan oleh Nyai Ageng Pinatih (wafat 1483), seorang saudagar perempuan kaya raya yang menguasai jalur niaga pelabuhan Gresik. Melalui ibu angkatnya inilah, Raden Paku menyerap etos borjuasi merkantil, kelenturan bergaul, dan pemahaman atas denyut nadi ekonomi maritim Nusantara yang saat itu tengah bergeser menjadi urat nadi penyebaran Islam.

Formasi intelektualisme Raden Paku menemukan bentuknya yang paling matang ketika ia dikirim untuk menimba ilmu di padepokan Ampeldenta, Surabaya, di bawah bimbingan Sunan Ampel atau Raden Rahmat (1401–1481). Di bawah asuhan sang mahaguru inilah, egalitarianisme Islam mulai membasuh kesadaran kognitifnya, membongkar stratifikasi kasta yang sebelumnya mencengkeram masyarakat Jawa. Tidak berhenti di situ, dorongan untuk melacak akar epistemologi Islam membawanya mengarungi lautan menuju Kesultanan Samudera Pasai bersama karibnya, Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang (1465–1525), sekitar tahun 1460-an.

Di Pasai, yang pada masa itu bertindak sebagai mercusuar intelektual Islam Asia Tenggara, Raden Paku tidak hanya berjumpa kembali dengan ayah kandungnya, tetapi juga menyerap ilmu fiqh, tasawuf, dan teologi asy’ariyah dari para mahaguru internasional. Proses ini, meminjam kacamata analitik Azyumardi Azra, merupakan proses transmisi pengetahuan yang menjadikan Raden Paku bagian integral dari “jaringan ulama” global, memungkinkannya membaca Nusantara tidak sebagai proyektil terisolasi, melainkan sebagai bagian dari tata dunia baru.

Sekembalinya ke Jawa, Raden Paku mendirikan Giri Kedaton di perbukitan Gresik pada sekitar tahun 1487. Secara sosiologis, sebagaimana dianalisis oleh Kuntowijoyo, pendirian Giri Kedaton adalah sebuah rekayasa struktural yang brilian. Ia mentransformasikan institusi mandala atau karsyan (pusat pendidikan asketis Hindu-Buddha di pedalaman) menjadi pesantren, sebuah institusi pendidikan Islam yang otonom dan berorientasi pada pembentukan masyarakat sipil (mutawakkilin).

Intelektualisme Sunan Giri ditandai oleh sintesis antara syariat yang ketat dan tasawuf yang adaptif. Ia merumuskan pendekatan dakwah kultural yang sangat empatik, menciptakan tembang-tembang macapat seperti Asmaradana dan Pucung, serta menginisiasi permainan anak-anak seperti Jelungan dan Cublak-cublak Suweng. Pendekatan ini selaras dengan tesis Agus Sunyoto bahwa Wali Songo melakukan objektifikasi nilai-nilai Islam ke dalam wadah kebudayaan lokal tanpa sedikit pun mencabut akar historis masyarakatnya.

Kontribusi terbesar Giri Kedaton terletak pada fungsinya sebagai pusat pendidikan kader-kader pendakwah yang daya jangkauannya melampaui tapal batas Pulau Jawa. Giri bertindak bak “Vatikan” bagi umat Islam Nusantara, sebuah otoritas spiritual yang bahkan fatwa dan legitimasinya dicari oleh raja-raja. Di antara murid-muridnya yang paling gemilang adalah para pangeran dan bangsawan dari penjuru timur Nusantara, termasuk Sultan Zainal Abidin dari Ternate (memerintah 1486–1500) yang datang langsung ke Gresik untuk mempelajari administrasi negara dan syariat Islam. Jaringan alumni Giri inilah yang kemudian menyemai Islam ke Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan, menjadikan pesantren Giri sebagai rahim bagi lahirnya generasi intelektual Muslim pertama yang mengusung kesatuan gagasan keagamaan di Nusantara.

Sementara itu, ekspansi intelektual dan struktural Sunan Giri ke arah barat, khususnya ke Tatar Pasundan (Jawa Barat), berlangsung melalui mekanisme yang lebih politis-kultural dan aliansi strategis. Pengaruh Giri sangat instrumental dalam memberikan legitimasi teologis bagi berdirinya Kesultanan Demak di bawah Raden Patah (1455–1518). Aliansi Demak-Giri inilah yang menjadi tulang punggung bagi pergerakan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (1448–1568) dalam mengislamkan Cirebon, Banten, dan wilayah pedalaman Pasundan lainnya.

Model pendidikan pesantren yang diarsiteki oleh Sunan Giri di Gresik diduplikasi secara massif oleh Sunan Gunung Jati dan para penerusnya di Tatar Pasundan. Institusi mandala Sunda kuno, yang sangat dihormati dalam tradisi lokal seperti dicatat oleh Ayip Rosidi, perlahan namun pasti bertransformasi menjadi paguron atau pesantren tanpa harus kehilangan jatidiri kesundaannya. Tradisi lisan dan penulisan naskah keislaman di Pasundan banyak berhutang pada tradisi pesantren pesisiran yang diembuskan dari timur, menciptakan sebuah peradaban santri yang organik di bumi Parahyangan.

Pada akhirnya, membaca narasi Sunan Giri adalah membaca sebuah epos tentang intelektualisasi dan peradaban. Ia membuktikan bahwa Islamisasi di Nusantara bukanlah hasil dari paksaan pedang, melainkan dari kedalaman ilmu, strategi kebudayaan yang canggih, dan pembangunan institusi pendidikan yang inklusif.

Seperti yang sering digaungkan dalam refleksi Nurcholish Madjid dan Radhar Panca Dahana, Sunan Giri telah menanamkan nilai-nilai universal Islam ke dalam jantung kebudayaan Nusantara, mengubah wajah Jawa dan Pasundan dari entitas yang berserak menjadi sebuah peradaban besar yang disatukan oleh satu tarikan napas tauhid dan literasi. Warisan intelektualnya melampaui zamannya, menyisakan jejak abadi dalam bentuk pesantren-pesantren yang hingga hari ini terus berdenyut sebagai penjaga moral dan episentrum keilmuan bangsa.

 

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *