Sosialisasi KKN Kolaboratif Bekali Mahasiswa Hadapi Pengabdian di Daerah Baru
UINSGD.AC.ID (Humas) — Duduk di antara puluhan mahasiswa yang memenuhi ruang sosialisasi KKN Kolaboratif Mandiri Dalam Negeri, Siti Fadillatul Romdoni tampak dengan semangat menyimak setiap penjelasan yang disampaikan narasumber. Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik itu dengan detail mencatat poin-poin penting yang menurutnya perlu dipersiapkan sebelum keberangkatannya ke Purwokerto.
Bagi Fadilla, mengikuti program KKN di luar Jawa Barat merupakan pengalaman yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Awalnya, ia bahkan tidak memiliki rencana untuk mendaftar program tersebut. Namun, keinginannya untuk mengenal budaya baru dan merasakan pengalaman di daerah lain perlahan mengubah pandangannya. “Kalau KKN sambil eksplor dan kenal sama budaya yang luar Jawa Barat, kayaknya seru juga,” ujarnya.
Keputusan untuk mendaftar ternyata membawanya pada proses seleksi yang tidak mudah. Fadilla mengaku sempat terkejut ketika mengetahui tingginya minat mahasiswa terhadap program tersebut. Dari sekitar 140 pendaftar, hanya 87 peserta yang dinyatakan lolos. Berbagai tahapan seleksi harus dilalui, mulai dari tes baca Al-Qur’an, seleksi prestasi, hingga wawancara.
Di tengah proses itu, rasa minder sempat menghampirinya. Ia melihat banyak peserta lain datang dengan sederet prestasi yang mengesankan. Ada yang membawa medali, menunjukkan kemampuan berbahasa asing, hingga menampilkan berbagai bakat yang membuatnya merasa kurang percaya diri. “Sempat merasa minder juga pada waktu itu,” ungkapnya.
Meski demikian, kesempatan akhirnya berpihak kepadanya. Nama Fadilla tercantum sebagai salah satu peserta yang lolos dan akan menjalani KKN Kolaboratif Mandiri Dalam Negeri di Purwokerto.
Menjelang keberangkatan, sosialisasi yang diselenggarakan menjadi bekal penting bagi dirinya dan peserta lainnya. Menurut Fadilla, kegiatan tersebut membantu menjawab sejumlah pertanyaan yang selama ini mengganjal di benaknya. Sebelum mengikuti sosialisasi, ia mengaku masih belum memahami secara utuh bagaimana teknis pelaksanaan KKN maupun sistem kerja sama dengan mitra di lokasi tujuan.
“Dari awalnya benar-benar buta, kita KKN di sana teknisnya bagaimana, sistem dengan mitranya seperti apa. Tadi dapat penjelasan yang cukup jelas,” tuturnya.
Informasi yang diperoleh dalam sosialisasi juga membuatnya mulai memikirkan berbagai persiapan yang harus dilakukan. Bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi juga kesiapan fisik dan mental. Menurutnya, hidup dan mengabdi di lingkungan yang baru selama beberapa waktu membutuhkan kemampuan beradaptasi yang baik.
Menyadari bahwa tantangan terbesar yang akan dihadapi bukan hanya menyusun program kerja, melainkan membangun komunikasi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda. Perbedaan bahasa, kebiasaan, hingga cara berinteraksi menjadi hal yang perlu dipelajari sejak sekarang.“Komunikasi lintas budaya itu pasti akan jadi struggle terbesar,” jelasnya.
Meski masih ada beberapa informasi yang menurutnya perlu diperjelas lebih lanjut, Fadilla menilai sosialisasi tersebut telah memberikan gambaran awal yang penting mengenai kehidupan KKN yang akan dijalaninya nanti. Setidaknya, berbagai pertanyaan yang sebelumnya hanya menjadi tanda tanya kini mulai menemukan jawabannya.
Bagi mahasiswa yang akan mengabdi di daerah baru, sosialisasi bukan sekadar agenda penyampaian informasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kesiapan, menumbuhkan kepercayaan diri, dan memahami tantangan yang akan dihadapi. Dari ruang sosialisasi itulah, perjalanan menuju pengabdian dimulai, satu langkah lebih dekat menuju pengalaman belajar yang sesungguhnya di tengah masyarakat. (Anggun Pratama Putri /Magang)