UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Antara Paradigma Kualitatif & Kuantitatif

[www.uinsgd.ac.id] Paradigma kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian seringkali dikonfrontasikan oleh seorang peneliti. Satu sama lain sering mengklaim bahwa paradigma tersebut lebih baik dari yang lainnya. Padahal tidak demikian, paradigma kualitatif mayoritas digunakan untuk meneliti gejala sosial, sementara kuantitatif digunakan untuk menguji hukum alam.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Rahayu Kariadinata, M.Pd., guru besar pendidikan matematika UIN Sunan Gunung Djati Bandung saat menyampaikan materi tentang ‘Paradigma Penelitian Kuantitatif dan Implikasinya’ dihadapan 30-an dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada Kamis (08/11) di Aula FISIP.

Ia menyampaikan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara paradigm penelitian kualitatif dan kuantitatif. “Dalam kuantitatif lebih sulit karena gejala sosial terus berubah sementara paradigm kuantitatif relative mudah karena sudah diplot”, jelasnya.

“Kuantitatif, desain penelitiannya sudah ditentukan, sementara kualitatif desain penelitiannya bisa muncul belakangan. Dalam kuantitatif instrument penelitian sangat terstandar sementara dalam kualitatif, instrumentnya dalah manusia itu sendiri.  Berkaitan dengen logika, kuantitatif menggunakan logika deduktif sedangkan kualitatif menggunakan logika induktif dan terus menerus”,jelasnya.

Sedangkan,  hubungan antara peneliti dan responden, ia menjelaskan bahwa dalam penelitian kuantitatif lebih berjarak, posisi peneliti lebih tinggi dibandingkan dengan responden. Dalam penelitian kualitatif, peneliti memiliki kedekatan dengan responden, kedudukannya sama karena hubungan dibangun dalam jangka yang cukup lama.

Ia menjelaskan bahwa literatur menjadi pegangan utama dalam penelitian kuantitatif, sementara, dalam kualitatif  literature dan teori hanya sebagai penguat atau pendukung hasil temuan penelitian.

Setelah menjelaskan panjang lebar tentang perbedaan paradigma penelitian kualitatif dan kuantitatif, perempuan berkacamata ini lebih lanjut menjelaskan  secara teknis tentang pengertian-pengertian dalam paradigm penelitian kuantitatif; bagaimana mencari sumber masalah penelitian yang seringkali dianggap sulit oleh mahasiswa; variabel penelitian, landasan teori, membuat kerangka berfikir, membuat hipotesis.

Rahayu tidak menyelesaikan materi secara tuntas dengan alasan untuk mempertajam dan menambah pengayaan serta menyamakan persepsi tentang paradigm penelitian kualitatif. “Saya tidak akan menyelesaikan materi ini, tetapi akan diperdalam dengan pertanyaan dari bapak dan ibu”, kilahnya sambil mempersilakan.

Dari beberapa penanya diperoleh kesimpulan bahwa antara paradigm penelitian kualitatif dan kuantitaif tidak terdapat dikhotomi atau diantara keduanya lebih baik, justeru bisa saling menguatkan dan membantu dengan menggunakan paradigm campuran.

Workshop ini juga menghadirkan pemateri lain yang menjelaskan tentang statistika sosial terapan untuk penelitian skripsi (pada sesi ke tiga) yang disampaikan oleh Vera Octavia, Dosen Jurusan Sosiologi.***[Dudi, Ibn Ghifarie]