UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara kita menuntut ilmu, bekerja, dan menegakkan keadilan dalam kehidupan.
Pada hari ini, Jumat 1 Mei 2026, kita berada pada momentum Hari Buruh Internasional. Sebuah hari yang mengingatkan kita akan pentingnya kerja, perjuangan, dan kesejahteraan manusia. Dalam perspektif Islam, kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi bagian dari amanah dan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu.” (QS. At-Taubah: 105)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Besok, 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ilmu bagaikan pelita yang menerangi jalan kehidupan. Dengan ilmu, manusia dapat mengembangkan potensi diri, meningkatkan kualitas hidup, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Tema Hardiknas 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Jika kita renungkan, Hari Buruh dan Hardiknas memiliki benang merah yang kuat. Kerja membutuhkan ilmu, dan ilmu menemukan maknanya dalam kerja. Keduanya berpadu dalam membangun manusia seutuhnya: manusia yang berilmu, beramal, dan berkeadilan. Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dua ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak hanya ditentukan oleh ilmunya, tetapi oleh sejauh mana ilmu itu diamalkan dalam kehidupan nyata. Dari sini, ada lima pelajaran penting yang perlu kita renungkan:
Pertama, Ilmu sebagai Cahaya dan Derajat Kehidupan. Berarti pengetahuan adalah pelita yang mengusir kebodohan, menuntun menuju kebenaran, serta mengangkat martabat manusia di dunia dan akhirat. Ilmu memberikan pandangan untuk membedakan benar-salah, sementara amal dengan ilmu membawa manfaat, derajat, dan keberkahan. Allah SWT berfirman:
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).
Ilmu mengangkat derajat manusia dan menjadi cahaya dalam menjalani kehidupan karena ilmu memberikan petunjuk untuk membedakan kebenaran dan kebatilan, membimbing akal, serta menenangkan hati. Berikut adalah kelanjutan dan konteks yang umum disandingkan dengan pernyataan tersebut: (1) Ilmu Membedakan Kebenaran & Kebatilan: Ilmu adalah Furqan (pembeda), yang memungkinkan seseorang melihat hakikat di balik penampilan lahiriah, sehingga terhindar dari kesesatan dan penyimpangan. (2) Ilmu Membimbing Akal: Ilmu menjadikan akal berfungsi maksimal, terbebas dari taklid (mengikut tanpa dasar) dan prasangka (khurafat), serta mampu meneliti kebenaran. (3) Ilmu Menenangkan Hati: Ilmu yang bermanfaat (ilmu agama dan ilmu kauniyah/duniawi yang dilandasi iman) menghasilkan rasa takut kepada Allah dan ketenangan batin karena memahami hakikat kehidupan. (4) Mengangkat Derajat: Sesuai QS. Al-Mujadilah: 11, Allah meninggikan orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat. Singkatnya, ilmu membuat kehidupan manusia bermakna, berarah, dan tidak tersesat dalam gelapnya kebodohan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua, Amal sebagai Bukti Keimanan. Ya, amal shaleh adalah bukti konkret, buah, dan manifestasi nyata dari keimanan seseorang dalam ajaran Islam. Iman tidak cukup hanya diyakini dalam hati, tetapi harus dibuktikan melalui perbuatan anggota badan (amal). Rasulullah SAW bersabda:
… عَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ
“…tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya.” (HR. Tirmidzi)
Ketika Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi beban, bukan kemuliaan. Bahkan ilmu tersebut dapat menjadi hujjah (tuntutan/alasan pembelaan) yang memberatkan pemiliknya di hadapan Allah SWT pada hari kiamat. Pernyataan tersebut sangatlah tepat dalam perspektif Islam. Ilmu yang dipelajari namun tidak diamalkan (ilmu tanpa amal) memang tidak membawa kemuliaan, melainkan menjadi beban, ancaman, bahkan bencana bagi pemiliknya. Pentingnya Keseimbangan Ilmu dan Amal; Tujuan menuntut ilmu bukanlah sekadar untuk pengetahuan atau wawasan, melainkan untuk menghasilkan amal saleh. Oleh karena itu, setiap Muslim harus berusaha mengamalkan ilmu yang dimilikinya dan memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Seperti yang sering didengar, amal adalah buah dari ilmu.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga, Integrasi Ilmu dan Kerja (Profesionalisme) adalah penerapan ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan sungguh-sungguh (profesional), penuh tanggung jawab, dan dilandasi nilai-nilai etika/amanah. Integrasi ini bertujuan untuk menciptakan karier yang tidak hanya sukses secara material tetapi juga berkah, di mana individu mampu menempatkan diri dengan benar di dalam maupun luar lingkup kerja. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Allah mencintai orang yang menyempurnakan pekerjaannya.”
Kerja yang berkualitas adalah bentuk amal saleh. Oleh karena itu, bekerja dengan etos tinggi (profesional, jujur, dan amanah) bernilai ibadah serta merupakan wujud ketaatan kepada Allah SWT. Ringkasnya, kerja berkualitas adalah perpaduan antara iman (niat) dan kompetensi (profesionalisme). yang melahirkan kemaslahatan (manfaat) bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas, serta mendatangkan keridaan Allah SWT. Berikut adalah penjabaran konsep tersebut berdasarkan etos kerja Islam: (1) Iman (Niat): Menjadikan pekerjaan sebagai sarana ibadah (lillahi ta’ala), mencari rezeki yang halal, dan bentuk tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. (2) Kompetensi (Profesionalisme/Itqan): Melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, presisi, dan tuntas.
Dengan demikian, kerja berkualitas bukan sekadar mengejar target duniawi, melainkan sebuah totalitas pengabdian yang memadukan keikhlasan hati dan keahlian tangan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat, Tanggung Jawab dan Akuntabilitas. Adalah kewajiban mendasar untuk menjamin hasil kerja, transparansi, dan perilaku sesuai aturan, baik secara individu maupun organisasi. Ini melibatkan komitmen untuk menyelesaikan tugas, menerima konsekuensi, dan berorientasi pada hasil akhir. Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.”
Setiap pekerjaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan baik kepada manusia (pemberi kerja/masyarakat) maupun kepada Allah SWT. Bekerja dengan amanah berarti menjalankan tugas secara jujur, profesional, dan penuh dedikasi sebagai wujud ibadah, bukan sekadar mencari nafkah. Pertanggungjawaban Utama: Pekerjaan bukan hanya tanggung jawab diri, tapi juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Wujud Integritas: Amanah diwujudkan melalui dedikasi tinggi dan kejujuran dalam menyelesaikan tugas, menjaga kualitas hasil kerja. Menghindari Kesia-siaan: Amanah disia-siakan jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Dampak Positif: Menjaga amanah membangun kepercayaan (kredibilitas) yang krusial untuk pengembangan karier. Maka dari itu Tunaikanlah setiap pekerjaan dengan jujur agar bernilai ibadah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kelima, Keadilan sebagai Buah Ilmu dan Amal adalah wujud nyata dari pemahaman ilmu yang benar, yang diimplementasikan dalam tindakan nyata sehari-hari untuk menciptakan keseimbangan, kesetaraan, dan kemakmuran bersama. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) (QS. An-Nahl: 90)
Dan Rasulullah SAW bersabda:
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
Keadilan adalah fondasi kehidupan sosial yang membawa keberkahan, ketenteraman, dan kemakmuran yang merata bagi seluruh anggota masyarakat. Berikut adalah makna mendalam dari pernyataan tersebut berdasarkan konteks sosial dan agama: (1) Pilar Keseimbangan Sosial: Keadilan mencegah penumpukan kekayaan pada segelintir orang dan melindungi kelompok yang lemah agar tidak terpinggirkan. (3) Keberkahan dalam Islam: Dalam perspektif Islam, keadilan adalah manifestasi dari ketakwaan kepada Allah, yang membawa keberkahan pada kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. (4) Perwujudan Keadilan Sosial (Pancasila): Sila kelima Pancasila menekankan keadilan sebagai hak setiap warga negara untuk mendapatkan perlakuan yang adil tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan. (5) Landasan Kedamaian: Keadilan adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian dan kebahagiaan hidup, yang harus diperjuangkan oleh manusia. (6) Penyelenggaraan Hakiki: Menegakkan keadilan berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, berpihak pada kebenaran, dan bertindak tidak sewenang-wenang.
Singkatnya, ketika keadilan ditegakkan, masyarakat akan hidup dalam situasi aman, adil, dan makmur, di mana tidak ada penindasan atau penghisapan antarmanusia.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Maka jelaslah bahwa manusia seutuhnya adalah mereka yang berilmu, beramal, dan berkeadilan. Inilah fondasi peradaban yang harus kita bangun di kampus, di tempat kerja, dan dalam kehidupan bermasyarakat. Mari kita jadikan ilmu sebagai cahaya, kerja sebagai ibadah, dan keadilan sebagai prinsip hidup.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ…
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ…
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan untuk menjadi manusia seutuhnya.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung