HomeBeritaBeritaDosenMemahami Hidayah Melalui Pendekatan Fisika

Memahami Hidayah Melalui Pendekatan Fisika

Memahami Hidayah Melalui Pendekatan Fisika

Ilustrasi muslimah sedang membaca Al-Qur'an (foto : freepik)

UINSGD.AC.ID (Humas) — Perlu dijelaskan lebih awal, tulisan ini bukan penjelasan ilmiah tentang hidayah. Tidak menjelaskan bahwa hidayah dapat diukur dengan alat fisika, melainkan bahwa pola-pola dalam hukum alam dapat menjadi analogi yang memperkaya pemahaman kita tentang hidayah.

Umumnya, hidayah sering dipahami semata-mata sebagai peristiwa spiritual yang datang secara misterius. Padahal, jika menggunakan fisika sebagai analogi, kita akan menemukan cara pandang lain.

Sebagaimana benda-benda di alam tunduk pada hukum-hukum fisika, perjalanan manusia menuju hidayah pun memperlihatkan pola yang mengingatkan kita pada keteraturan alam (sunatullah). Dalam fisika, sebuah benda tidak akan mengubah keadaan diam atau gerak tanpa adanya gaya yang bekerja.

Hukum Newton pertama mengajarkan bahwa setiap benda memiliki inersia, yaitu kecenderungan mempertahankan kondisinya (lembam). Manusia pun demikian. Ia memiliki inersia spiritual.

Kebiasaan, ego, lingkungan, kepentingan, dan kesilauan pada dunia membentuk kelembaman. Kelembaman itu membuat kita tetap berada di jalan yang telah lama ditempuh, sekalipun keliru.

Hidayah bukan sekadar informasi yang didengar, melainkan sebuah gaya yang mampu mengatasi inersia jiwa. Nasihat agama yang sama bisa didengar oleh seribu orang, tetapi hanya sebagian yang berubah. Bukan karena nasihat itu berbeda, melainkan karena keadaan batin masing-masing berbeda.

Ada hati yang telah lama mengeras sehingga membutuhkan gaya (force) yang jauh lebih besar untuk bergerak. Ada pula hati yang lembut sehingga sentuhan kecil saja sudah cukup untuk mengubah arahnya.

Fisika mengonsepkan bahwa gaya tidak selalu menghasilkan perubahan yang sama. Besarnya perubahan bergantung pada massa benda. Semakin besar massanya, semakin sulit dipercepat.

Konsep gaya ini mengingatkan bahwa semakin berat “beban” kesombongan, fanatisme, kebencian, atau kecintaan berlebihan kepada dunia, semakin besar pula perjuangan yang diperlukan agar hati bergerak menuju kebenaran. Beban spiritual memperbesar kelembaman (inersia) jiwa.

Gravitasi Ruhani

Fisika mengenalkan konsep gravitasi, yaitu gaya tarik yang bekerja tanpa terlihat. Tidak ada seorang pun yang melihat gravitasi, tetapi semua menyaksikan akibatnya. Buah jatuh ke bumi, planet mengelilingi matahari, galaksi tetap terikat oleh gaya yang tak kasatmata.

Hidayah pun tidak jauh dari keadaan seperti itu. Ia tidak terlihat oleh mata, tetapi pengaruhnya tampak dalam perubahan perilaku, cara berpikir, dan orientasi hidup kita. Sebelum memperoleh hidayah, seseorang mungkin merasa pusat alam semesta adalah dirinya sendiri. Setelah memperoleh hidayah, pusat orientasinya bergeser menuju Tuhan.

Selanjutnya, ilmu fisika mengenalkan konsep cahaya. Cahaya selalu bergerak lurus, tetapi arah yang ditempuhnya dapat berubah ketika melewati medium yang berbeda. Fenomena pembiasan menunjukkan bahwa perubahan lingkungan mengubah arah cahaya.

Demikian pula hidayah pada manusia. Hati yang sama dapat mengambil arah yang berbeda ketika memasuki lingkungan yang berbeda. Lingkungan keluarga, sahabat, guru, dan kelompok menjadi medium yang memengaruhi perjalanan spiritual seseorang. Karena itu, memilih lingkungan yang baik merupakan kebutuhan untuk menjaga arah perjalanan hati.

Ilmu fisika juga mengenalkan konsep resonansi. Sebuah benda akan bergetar sangat kuat ketika menerima gelombang dengan frekuensi yang sesuai dengan frekuensi alaminya. Tidak semua suara mampu memecahkan gelas—sebagai contoh—tetapi suara dengan frekuensi tertentu dapat mememecahkannya.

Demikian pula dengan hidayah. Tidak semua nasihat menyentuh hati setiap orang. Namun, pada waktu tertentu, kalimat yang sederhana, ayat kitab suci yang telah berkali-kali dibaca, atau peristiwa yang tampak biasa, tiba-tiba mengguncang seluruh kesadaran. Seakan-akan terjadi resonansi antara pesan Ilahi dan kesiapan batin manusia.

Konsep resonansi menegaskan, semakin tinggi suatu benda diangkat, semakin besar energi potensial yang dimilikinya. Energi itu belum tampak sebagai gerakan, tetapi tersimpan sebagai potensi.

Begitu pula ilmu, ibadah, dan pengalaman hidup. Semua itu adalah energi spiritual yang tersimpan. Pada suatu saat, ketika Tuhan membuka pintu hidayah, energi yang selama ini tersembunyi berubah menjadi gerakan nyata berupa taubat, amal saleh, amar makruf nahi munkar, dan istiqamah.

Para ahli fisika ber-ijtima (sepakat), hukum alam bekerja secara probabilistik sesuai karakter sistem alam. Dalam ajaran agama, hidayah tetap merupakan karunia Tuhan yang tidak dapat direduksi menjadi hukum mekanis.

Manusia diperintahkan untuk mencari hidayah melalui berdoa, belajar, dan membersihkan hati, tetapi tidak dapat mengklaim bahwa usaha tertentu pasti menghasilkan hidayah. Alam semesta menunjukkan bahwa perubahan selalu memerlukan proses, kesiapan, dan hukum-hukum yang teratur.

Agama mengajarkan bahwa di balik seluruh keteraturan itu berdiri kehendak Tuhan. Maka, fisika hidayah mengajarkan satu pelajaran penting, jangan pernah meremehkan ikhtiar sekecil apa pun.

Mungkin hari ini hati masih belum bergerak karena inersianya begitu besar. Namun, setiap doa, setiap ilmu, setiap amal, dan setiap langkah menuju kebaikan sedang menyiapkan momentum ketika jiwa bergerak menuju hidayah. Dan ketika momentum itu datang, hidup seseorang dapat berubah arah untuk menjadi lebih baik dan tercerahkan.

 

Prof. Dr. Hj. Hasniah Aliah, M.Si., Guru Besar Ilmu Fisika, Dekan Fakultas Sain dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

 

Sumber, Opini Kemenag Minggu 18 Oktober 2026

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *