OPK PPL dan Sosialisasi PLP Bekali Mahasiswa FTK Hadapi Praktik Keguruan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Setelah menjalani berbagai pembelajaran dan latihan di ruang kelas, mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mulai diarahkan menuju pengalaman praktik di sekolah dan madrasah. Tahapan ini diawali melalui kegiatan Orientasi Praktik Keguruan (OPK) Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Sosialisasi Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) sebagai pembekalan sebelum mahasiswa terjun langsung ke satuan pendidikan.

‎Pelaksanaan OPK sendiri dibagi ke dalam lima sesi berdasarkan jurusan dan program studi. Sesi pertama diikuti mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Kamis, 10 September 2026 pukul 07.30–09.30. Sesi kedua diikuti Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), dan Tadris Bahasa Indonesia (TBI) pada pukul 10.00–12.00. Sesi ketiga diikuti Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, Pendidikan Fisika, dan Pendidikan Kimia pada pukul 15.30–17.30.

‎Pada Jumat, 11 September 2026, sesi keempat diikuti Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) pada pukul 07.30–09.15, sedangkan sesi kelima diikuti Manajemen Pendidikan Islam (MPI) pada pukul 09.30–11.30.

‎Pada sesi kedua, kegiatan melibatkan jajaran birokrasi fakultas dan program studi, mulai dari Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), H. Fakry Hamdani, M.Hum., M.Res., Ph.D. didampingi oleh Ketua Pengelola Unit Laboratorium Micro Teaching, Dr. Dian Ekawati, M.Pd., dan Sekretaris unit Laboratorium Micro Teaching Heny Mulyani, M.Pd., beserta jajaran pimpinan jurusan, yaitu Sekretaris jurusan Dr. Dedih Wahyudin, M.Ag. , dan ketua program studi jurusan bahasa.

‎Pelaksanaan kegiatan didukung mahasiswa yang bertugas sebagai panitia, antara lain MC, petugas absensi, pembaca Al-Qur’an, operator, dan dirigen.

‎Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, H. Fakry Hamdani, M.Hum., M.Res., Ph.D., menyampaikan bahwa OPK menjadi tahap penting untuk mengantarkan mahasiswa sebagai calon pendidik ke lingkungan sekolah. Sebanyak sekitar 1.600 mahasiswa akan mengikuti rangkaian praktik keguruan yang menjadi bagian dari proses pendidikan mereka sebagai calon guru.

‎“OPK ini bertujuan untuk mengantarkan agen-agen terbaik ke sekolah-sekolah,” ungkapnya.

‎Bagi mahasiswa calon guru, kegiatan tersebut menjadi kelanjutan dari proses yang sebelumnya dilakukan melalui micro teaching. Jika micro teaching menjadi ruang simulasi untuk berlatih mengajar, praktik di sekolah menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menghadapi kondisi pembelajaran yang lebih nyata.

‎Dekan mengibaratkan proses tersebut seperti seseorang yang belajar mengemudi. Saat latihan, kondisi yang dihadapi mungkin lebih teratur dan relatif sepi. Ketika berada di jalan raya, situasinya menjadi lebih beragam karena terdapat banyak kondisi yang sebelumnya belum tentu ditemukan saat latihan.

‎Analogi ini menggambarkan bahwa kemampuan mengajar yang diperoleh di ruang kelas perlu diuji kembali ketika mahasiswa berhadapan langsung dengan siswa. Materi-materi yang telah dipelajari selama perkuliahan juga mulai dihidupkan melalui pengalaman nyata di sekolah.

‎“Latihan dan praktik itu berbeda dengan kondisi di jalan. Ketika latihan mungkin lancar dan sepi, tetapi ketika di jalan ada banyak hal yang berbeda,” tuturnya.

‎Dalam menjalani praktik itu, mahasiswa akan didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan guru pamong. Pendampingan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan arahan sekaligus melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang mereka jalankan.

‎Dekan mengingatkan mahasiswa agar tidak takut melakukan kesalahan selama praktik. Menurutnya, pengalaman tersebut merupakan bagian dari proses belajar yang akan membantu mahasiswa memahami situasi pembelajaran secara lebih nyata.

‎“Jangan takut salah karena itu proses dari belajar,” pesannya.

‎Pesan lain yang disampaikan adalah pentingnya kemampuan mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan karakter dan minat siswa. Calon guru diharapkan tidak terpaku pada cara mengajar yang konservatif karena kondisi setiap kelas dan peserta didik dapat berbeda.

‎“Jangan jadi konservatif, jadi guru yang mengikuti minat siswa. Tidak semuanya ada di buku, jadi orang yang berinovasi terus,” ujarnya.

‎Memasuki lingkungan sekolah berarti memasuki ruang sosial yang melibatkan siswa, guru, dan berbagai unsur sekolah lainnya. Karena itu, mahasiswa diingatkan untuk menjaga kerendahan hati serta membangun interaksi yang baik selama menjalani praktik.

‎Pembekalan mengenai hal tersebut kemudian dilanjutkan melalui pematerian tentang etika, profesi keguruan, dan perilaku di sekolah yang disampaikan oleh Sekretaris Jurusan bahasa, Dr. Dedih Wahyudin,M.Ag. Materi tersebut membahas pengertian etika serta kewajiban mahasiswa selama menjalankan praktik.

‎Mahasiswa memiliki kewajiban untuk melaksanakan kegiatan mengajar, terlibat aktif dalam lingkungan sekolah, memberikan motivasi kepada siswa, mengikuti piket sekolah, serta menyusun laporan. Kewajiban tersebut kemudian berkaitan dengan hak mahasiswa berupa penilaian dan kelulusan dalam pelaksanaan PPL.

‎Orang yang beretika dipahami sebagai seseorang yang mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Pemahaman tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa untuk menjaga sikap dan perilaku ketika berada di sekolah.

‎Dalam materi profesi keguruan, mahasiswa juga diarahkan untuk memahami pentingnya menyesuaikan teknik mengajar dengan kondisi wilayah dan karakter siswa. Kemampuan membangun hubungan yang baik dengan peserta didik menjadi bagian dari proses menjadi seorang guru.

‎Guru memiliki tanggung jawab dalam membangun karakter siswa. Karena itu, mahasiswa sebagai calon guru terlebih dahulu perlu menunjukkan karakter yang baik agar dapat menjadi contoh bagi peserta didik.

‎Seorang guru memiliki sejumlah tanggung jawab dan nilai yang perlu dijaga, seperti pengabdian, kesetiaan, kepantasan, persamaan, dan kepekaan. Dalam menjalankan tugasnya, guru juga memiliki fungsi sebagai perancang pengajaran, pengelola pengajaran, serta penilai prestasi belajar siswa.

‎Memasuki sesi berikutnya, Ketua Pengelola Unit Laboratorium Micro Teaching, Dr. Dian Ekawati, M.Pd., dan Sekretaris unit Laboratorium Micro Teaching Heny Mulyani, M.Pd., memberikan penjelasan mengenai teknis pelaksanaan PPL dan PLP. Praktik tersebut memiliki bobot 4 SKS dan dijadwalkan berlangsung pada 23 September hingga 30 November 2026, bersamaan dengan pelaksanaan perkuliahan semester 7.

‎Pelaksanaan PPL dan PLP melibatkan mahasiswa FTK, DPL, serta guru pamong atau pamong. Secara keseluruhan terdapat 1.608 mahasiswa dari 11 jurusan/program studi, yaitu MPI sebanyak 188 mahasiswa, PGMI 187, PIAUD 154, PAI 242, PBA 188, PBI 161, TBI 110, Pendidikan Kimia 67, Pendidikan Matematika 142, Pendidikan Biologi 98, dan Pendidikan Fisika 71 mahasiswa.

‎Mahasiswa tersebut akan didampingi oleh 140 DPL dan ditempatkan di 69 sekolah/madrasah dengan perkiraan sekitar 210 guru pamong/pamong. DPL yang terlibat merupakan dosen yang memiliki sertifikat pendidik dan telah mendapat persetujuan dari Dekan.

‎Rangkaian pelaksanaan dimulai dari kontrak KRS, pendaftaran melalui web SIMPL, verifikasi oleh dosen, pelaksanaan OPK, observasi sekolah, pembukaan, praktik, ujian PPL, hingga penutupan.

‎Dalam praktik mengajar, mahasiswa akan mengikuti sebuah siklus yang dimulai dari perencanaan, observasi kelas dan pembelajaran, mengajar terbimbing, mengajar mandiri, ujian mengajar mandiri, hingga refleksi. Setiap tahap menjadi bagian dari proses mahasiswa untuk memahami dan mengevaluasi kemampuan mengajarnya.

‎Penjelasan teknis juga mencakup sistem ujian, penyusunan laporan PPL, sistem penilaian, serta pembagian tugas antara DPL dan guru pamong. Seluruh rangkaian tersebut diarahkan agar mahasiswa memahami tanggung jawabnya sebelum benar-benar menjalani praktik di sekolah.

‎Sesi pembekalan kemudian ditutup dengan tanya jawab yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperjelas berbagai hal berkaitan dengan pelaksanaan PPL dan PLP.

‎Melalui OPK dan Sosialisasi PLP, mahasiswa dipersiapkan untuk membawa pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan menuju ruang kelas yang sesungguhnya. Praktik di sekolah menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan, mengenali kondisi peserta didik, belajar dari guru pamong dan DPL, serta melakukan refleksi terhadap proses menjadi calon pendidik.

‎Pesan untuk menjaga sikap pun menjadi bagian penting dari pembekalan. Sebab, ketika mahasiswa mulai memasuki sekolah, yang dibawa bukan sekadar kemampuan mengajar, melainkan juga tanggung jawab untuk menunjukkan perilaku yang pantas sebagai calon guru.(Mohamad Farhan Fadilah / Magang)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *