UINSGD.AC.ID (Humas) — Bumi sebagai planet hunian manusia paling ideal bagi manusia akhir-akhir ini semakin dilanda disharmoni, setiap wilayahnya diterpa berbagai huru-hara, baik yang diakibatkan aksi langsung manusia seperti peperangan di sebagian jazirah Arab ataupun tidak langsung seperti gempa bumi dan badai karena cuaca akstrem.
Sebagaimana dikabarkan akun Instagram tutur media digital bahwa National Center for Meteorology (NCM) Arab Saudi mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem lanjutan terkait potensi hujan sedang hingga lebat, angin aktif, dan jarak pandang terbatas.
Bagi orang yang berpikir, mulai dari penciptaan awal alam semesta hingga berbagai dinamika kehidupan manusia di dunia baik yang fisik maupun metafisik, merupakan tanda-tanda yang penting untuk dibaca dan dipelajari. Firman Allah Swt:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal”. Q.S. Āli ‘Imrān [3]:190
Orang yang berakal (ulul albab) mempelajari berbagai makna dibalik tanda melalui ilmu semiotika yang dalam tradisi Islam dikembangkan dari konsep linguistik Arab yaitu ayat (tanda) dan sima’ (tanda fisik).
Diantara semiotika yang populer yaitu semiotika Roland Barthes dengan menjelaskan konsep dasar setiap tanda dapat dibaca dari tingkat denotasi, konotasi, dan mitos.
Pada tingkat denotasi, badai di tanah suci memang berulangkali terjadi sejak zaman Rasulullah Saw 14 abad silam hingga akhir bulan Agustus 2026. Badai merupakan fenomena alam yang lumrah terjadi akibat perubahan iklim dan suhu udara. Namun, pada tingkat konotasi, badai tidak akan terjadi begitu saja tanpa ada akar penyebab dan diduga kuat penyebab utamanya ulah tangan manusia. Perubahan iklim dipengaruhi oleh peningkatan emisi gas rumah kaca yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar minyak dalam skala besar, penebangan hutan, dan penggunaan berbagai produk kimia termasuk pupuk kimia yang tidak terkendali.
Pada tingkat mitos, ada pandangan yang terbangun pada masyarakat (konstruksi sosial) bahwa badai di dua tanah suci dianggap tidak lazim terlebih badai debu hingga masuk ke dalam masjid Nabawi. Seolah badai tersebut menghantarkan pesan agar setiap pemilik mata tidak buta untuk menatap cinta kepada Rasulullah Saw yang jasadnya terpendam di sekitar taman surga (raudhah) bagian paling sakral masjid Nabawi.
Di Indonesia sendiri berbagai bencana seringkali dikaitkan dengan metafisika atau sesuatu yang tersembunyi, perlu proses mengungkap makna dibalik dunia fisik.
Terkait bencana, penyayi legendaris Ebiet G. Ade mendendangkan sepenggal metafora lirik lagu:
Mengapa di tanahku terjadi bencana?
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.
Fenomena badai pada bulan Agustus 2026 bertepatan dengan bulan Rabi’ul Awwal, waktu istimewa untuk mengingat jasa besar Rasulullah Saw dari maulid tempat lahirnya di Mekkah dan wafatnya di Madinah. Cinta kepada umatnya belum berbalas cinta dari yang mengaku umatnya.
Cara membuktikan cinta kepada Rasulullah Saw sekurang-kurangnya dapat dilakukan dengan tiga hal. Pertama, menjaga peninggalannya yaitu Al-Qur an dan As-Sunnah. Kedua, senantiasa menyebut namanya dengan bershalawat, dan ketiga meneladani akhlaknya diantaranya dengan merawat bumi dengan penuh kasih sayang. Wallahu a’lam
Rohmanur Aziz, Pembimbing Tahliyah Tours & Travel, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

