UINSGD.AC.ID (Humas) — Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2026 turut dilengkapi dengan fasilitas posko kesehatan bagi mahasiswa baru. Fasilitas ini disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama dan memastikan kondisi kesehatan peserta tetap terpantau selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Layanan kesehatan beroperasi sejak pagi, Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB, hingga seluruh rangkaian kegiatan PBAK selesai, Kamis (27/8/2026). Dua posko yang ditempatkan di area kampus. Pada hari pertama, Selasa (25/8/2026) dan kedua, Rabu (26/8/2026), posko berada di Kampus I dan Kampus II. Sementara pada hari ketiga, Kamis (27/8/2026) salah satu posko dipindahkan ke Kampus II menyesuaikan pembagian lokasi kegiatan mahasiswa baru. Kehadiran posko menjadi salah satu bentuk kesiapsiagaan panitia dalam menghadapi kondisi kesehatan yang dapat dialami mahasiswa baru selama mengikuti kegiatan.
Salah satu tim Unit Kegiatan Khusus (UKK) Palang Merah Indonesia (PMI), Tena, menjelaskan bahwa berbagai keluhan kesehatan ringan dapat ditangani secara langsung. Beberapa kondisi yang ditangani di antaranya pingsan, sakit perut, sakit kepala, hingga sesak napas selama kondisi tersebut masih memungkinkan untuk mendapatkan penanganan awal di posko.
“Kalau semisal pingsan, sakit perut, sakit kepala, sering sesak napas, kalau masih bisa ditangani di posko, kita tangani di posko. Tapi kalau sudah yang berat, kita alihkan ke klinik,” ujarnya, Selasa, (25/8/2026).
Untuk menunjang pelayanan, posko dilengkapi dengan sejumlah perlengkapan kesehatan, seperti obat-obatan, oksigen, tandu, dan kursi roda. Tim didukung oleh tenaga kesehatan, termasuk perawat dan dokter. Ambulans disiagakan di sekitar Gedung Anwar Musaddad untuk memudahkan proses evakuasi apabila sewaktu-waktu diperlukan.
Sistem pelayanan kesehatan dirancang agar dapat menjangkau mahasiswa baru di berbagai titik kegiatan. Tim kesehatan dibagi berdasarkan tugas dan lokasi penempatan. Selain petugas yang berjaga di posko, panitia PBAK bidang kesehatan turut ditempatkan di sejumlah titik di area kegiatan untuk membantu memantau kondisi peserta.
“Kalau kita dibagi jobdesk. Contohnya yang bertugas sepuluh orang, ada yang di Gedung Anwar, ada yang di beberapa titik, dan ada juga yang di posko. Kalau ada apa-apa, kita saling menghubungi. Kalau membutuhkan tandu atau obat, kita langsung koordinasikan,” jelasnya.
Keberadaan posko kesehatan mendapat respons positif dari mahasiswa baru. Salah peserta PBAK, Ihsan Abdul Mughni, menilai fasilitas itu memberikan rasa terbantu, khususnya bagi mahasiswa yang belum sempat membawa obat atau perlengkapan kesehatan pribadi dari rumah.
“Menurut saya sangat terbantu karena ada beberapa mahasiswa mungkin yang tidak menyiapkan obat atau perlengkapan buat kesehatannya dari rumah. Alhamdulillah, terbantu dengan adanya posko kesehatan,” ungkapnya.
Namun, tidak hanya beberapa orang yang merasa terbantu akan keberadaan posko. Tetapi menurut beberapa peserta PBAK, Muhammad Raihan Abdullah dan Imam Sukma Kurnia, mengungkapkan bahwa keberadaan posko menunjukkan perhatian terhadap kondisi kesehatan mahasiswa baru selama mengikuti kegiatan PBAK.
”Kita sangat senang dengan adanya posko kesehatan karena itu menjadi bukti pertolongan pertama yang tersedia dapat menjadi fasilitas penting ketika peserta mengalami keluhan kesehatan di tengah padatnya rangkaian kegiatan,” jelasnya.
Melalui penyediaan posko kesehatan, PBAK UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik dan kehidupan kemahasiswaan, tetapi juga memperhatikan aspek kenyamanan dan keselamatan peserta.
Dukungan tim kesehatan, kesiapan perlengkapan medis, serta koordinasi petugas di berbagai titik menjadi bagian dari upaya memastikan kegiatan PBAK berlangsung dengan aman dan kondusif. (Fitri Awaliyah / Magang)


