UINSGD.AC.ID (Humas) – Guna mewujudkan mitigasi bencana yang ramah terhadap kelompok rentan, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UIN Sunan Gunung Djati Bandung berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menggelar simulasi evakuasi bencana inklusif yang berlangsung di Sentra Wyata Guna Bandung, Selasa (11/8/2026), pelatihan ini difokuskan pada iktiar membangun mitra evakuasi bagi penyandang disabilitas netra melalui penerapan metode Buddy System.
Selama ini, prosedur evakuasi standar kebencanaan sering kali menyeragamkan cara penyelamatan, yang pada praktiknya justru berisiko membahayakan kelompok rentan. Melalui metode Buddy System—sebuah sistem pendampingan berpasangan antara satu penyandang disabilitas netra dengan satu orang pendamping (buddy)—risiko tersebut dapat ditekan.
Dalam program ini, para penyandang disabilitas netra tidak hanya menjadi peserta, tetapi dilibatkan secara aktif dalam menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan. Keterlibatan ini bertujuan agar komunikasi dan koordinasi saat situasi darurat dapat berjalan cepat, terarah, dan minim kepanikan.
Program pengabdian ini dipimpin langsung oleh Ketua Prodi Sosiologi S2 UIN Bandung, Dr. Dede Syarif, M.Ag., bersama Monica Sundawati Susanto, M.Kesos., serta melibatkan dua mahasiswa sosiologi, yakni Siti Najla dan Farrah Tanjung. Simulasi di lapangan semakin komprehensif dengan dukungan materi teknis dari Analis Kebencanaan Muda BPBD Jabar, Edwin Zulkarnain, M.A.P., serta disaksikan langsung oleh perwakilan Dinas Sosial Jawa Barat sebagai observer.

Output dan Keberlanjutan SOP Inklusif
Target utama (output) dari kegiatan ini adalah lahirnya SOP evakuasi inklusif yang berkelanjutan. “SOP yang inklusif memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk menyelamatkan diri dengan mempertimbangkan hambatan serta kapasitas individu, sehingga proses evakuasi berjalan aman, bermartabat, dan tidak meninggalkan siapa pun (no one left behind),” tegasnya, Kamis (20/8/2026).
Agar praktik baik ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, keberlanjutan SOP dijaga melalui beberapa langkah strategis:

Pertama, Pengujian Berkala. SOP akan terus diuji, dievaluasi, dan diperbarui secara rutin sesuai dengan kondisi lapangan.
Kedua, Keterlibatan Aktif. Terus melibatkan kelompok yang beragam, khususnya penyandang disabilitas, dalam setiap proses penyempurnaan prosedur.
Ketiga, Dokumentasi Terukur. Menciptakan rekam jejak dan pembelajaran yang komprehensif.
Ke depannya, SOP evakuasi berbasis Buddy System hasil kolaborasi UIN Bandung dan BPBD Jabar ini diharapkan dapat menjadi role model yang mudah diadaptasi oleh berbagai lembaga kemanusiaan lainnya. Dengan demikian, ekosistem respons kemanusiaan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dapat terwujud.



