Semangat Kayla dalam Mengejar Mimpi di UM-PTKIN 2026

UINSGD.AC.ID (Humas) — Sebagai wujud komitmen dalam memberikan layanan terbaik bagi seluruh peserta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung memastikan setiap tahapan Seleksi Nasional Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2026 berlangsung secara optimal.

Berbagai aspek teknis, pelayanan, serta pendampingan peserta dipersiapkan secara maksimal guna menjamin proses seleksi berjalan lancar, aman, nyaman, dan profesional.

Komitmen ini tampak dalam pelaksanaan ujian susulan Sistem Seleksi Elektronik (SSE) UM-PTKIN 2026 yang berlangsung di Gedung Lecture Hall UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sabtu (13/6/2026).

Kendati hanya diikuti oleh satu peserta, panitia tetap memberikan pelayanan dan pendampingan secara penuh agar hak peserta untuk mengikuti seleksi tetap terpenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.

Saat ujian berlangsung, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., didampingi Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag., Cecep Nurul Alam, S.T., M.T., Kepala Divisi Jaringan Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD), serta Sekretaris Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) H. Aldy Rialdy Atmadja, M.T., melakukan monitoring langsung terhadap pelaksanaan ujian susulan tersebut.

Rektor menegaskan bahwa pelaksanaan ujian susulan bagi satu peserta merupakan bentuk tanggung jawab dan komitmen institusi dalam menjamin hak setiap calon mahasiswa untuk mengikuti proses seleksi secara adil dan setara.

“Bukti dari komitmen kampus dalam penyelenggaraan SSE UM-PTKIN, meskipun hanya satu orang peserta, tes tetap dilaksanakan dengan memberikan layanan terbaik bagi calon mahasiswa,” tegasnya.

Peserta itu bernama Kayla Zaskya Hasanah, lulusan Tarbiyatul Muta’allimin Al-Islamiyyah (TMI) Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlas Kuningan, yang bercita-cita melanjutkan pendidikan tinggi melalui jalur UM-PTKIN.

Dengan memilih Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Biologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai pilihan utama dan kedua. Untuk pilihan ketiga Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sesuai jadwal yang tertera di kartu peserta ujian SSE UM-PTKIN pada hari Kamis, 11 Juni 2026 di ruang 3.5 pukul 10.00-12.20 WIB.

Perjalanan Kayla menuju ruang ujian tidaklah mudah. Beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian, kondisi kesehatannya menurun. Sejak Senin mengalami sakit yang cukup serius. Bahkan dalam satu hari sempat muntah hingga lima kali. Pada Selasa, menjalani pemeriksaan dan pengobatan di Klinik Universitas Padjadjaran.

Kondisi kesehatan membuat keluarga khawatir kesempatan mengikuti UM-PTKIN tahun ini akan terlewat. Namun keinginan kuat untuk melanjutkan studi membuat Kayla tidak menyerah.

Perempuan kelahiran Sukabumi tanggal 3 November 2007 ini segera menghubungi panitia melalui layanan WhatsApp dan mendapat arahan untuk mengajukan permohonan melalui layanan SAPA dengan melampirkan bukti keterangan sakit.

“Awalnya saya menghubungi panitia lewat WhatsApp, kemudian disuruh mengisi di SAPA dan melampirkan bukti sakit. Alhamdulillah diterima oleh panitia pusat sehingga bisa mengikuti ujian hari ini,” tutur Kayla.

Pada hari pelaksanaan ujian susulan, Kayla datang bersama keluarganya dari kawasan Dago menuju Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Ayahnya, Cucu Junaedi, alumni Fakultas Syariah angkatan 1996 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengaku sempat diliputi keraguan.

“Awalnya ragu berangkat. Kami berangkat dari Dago sekitar jam delapan pagi. Saat tiba di kampus suasananya masih sepi. Sampai sekitar jam setengah sepuluh sempat berpikir jangan-jangan tidak ada ujian hari ini,” ujarnya.

Dari keraguan itu berubah menjadi rasa syukur. Walau hanya satu peserta yang mengikuti ujian susulan, seluruh proses pelayanan berjalan dengan baik. Panitia memberikan pendampingan sejak peserta tiba di lokasi, hingga pelaksanaan ujian selesai.”Sae pisan pelayanannya. Dilayani dengan baik sejak datang sampai ujian selesai,” ungkap Cucu Junaedi.

Di Ruang 2.4 Gedung Lecture Hall UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kayla mengikuti ujian yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.20 WIB. Meski baru beberapa hari menjalani perawatan akibat sakit yang dideritanya, berusaha tetap fokus mengerjakan setiap soal. Ketekunan dan semangatnya membuahkan hasil. Seluruh rangkaian ujian dapat diselesaikan dengan baik hingga sesi terakhir berakhir.

“Alhamdulillah bisa mengikuti ujian dan mengisi semua soal,” katanya dengan wajah lega setelah keluar dari ruang ujian.

Bagi keluarga, momen ujian bukan sekadar mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Kehadiran Kayla di ruang ujian menjadi simbol keteguhan dan semangat untuk terus berjuang meraih cita-cita di tengah keterbatasan yang dihadapi.

“Alhamdulillah, anak saya tetap ingin kuliah. Ini anak kedua kami. Mudah-mudahan diberi hasil terbaik,” harap Cucu Junaedi.

Kisah Kayla menjadi potret nyata bahwa akses pendidikan harus tetap terbuka bagi siapa pun, termasuk bagi peserta yang menghadapi kendala kesehatan. Melalui pelayanan yang responsif dan dukungan panitia, kesempatan untuk mengikuti seleksi tetap dapat diberikan secara adil dan manusiawi.

Bagi Kayla, hari itu bukan hanya tentang menjawab soal-soal ujian. Hari itu adalah tentang keberanian untuk tetap melangkah ketika keadaan tidak sepenuhnya berpihak.

Dari ruang perawatan menuju ruang ujian, membuktikan bahwa mimpi untuk melanjutkan pendidikan tidak mudah dipatahkan oleh keadaan. Satu langkah sederhana yang menjadi awal perjalanan menuju masa depan yang diimpikan melalui bangku perguruan tinggi.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *