UINSGD.AC.ID (Humas) — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Workshop Kurikulum Program Studi S1 Bisnis Digital bertajuk “Sinkronisasi Kurikulum Berbasis Kebutuhan Industri dan Pasar Global Menuju Lulusan Bisnis Digital Unggul” di Ruang Rapat Lantai 2 FEBI, Selasa (2/6/2026).
Dengan menghadirkan narasumber: Dr. Mery Citra Sondari, M.Si (Ketua Umum Asosiasi Program Studi dan Profesi Bisnis Digital Indonesia (APBISDI), Imran Ramdani, SKM, MM, CPHR (PT. Sinergi Kidul Konsulindo/SKK Consulting), Rheinaldi Mindhardi Hendratawan, S.IP., MM (PT. Sahabat Aplikasi Indonesia/SHASIA)
Assoc Prof Shaizatulaqma Kamallul Arifin (Graduate School of Business, University Sains Malaysia), Prof. Dr. H. Anton Athaillah, MM (Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Ichsan Taufik, ST., MT. (Kapus PDDIKTI LPM UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Wisnu Uriawan, M.Kom., Ph.D. (Kapus Audit LPM Sunan Gunung Djati Bandung), Ir. H. Putu Rahwidhiyasa, MBA (Dir Bisnis dan Kewirausahaan Syariah KNEKS RI), Dedi Wibowo, S.E., M.M., Ph.D (Dir Infrastruktur Ekosistem Ekonomi Syariah), Direktur Utama BPRS HIK Parahyangan yang dipandu oleh Gina Sakinah, S.E.Sy., M.E.

Workshop yang dibuka oleh Dekan FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag., ini sebagai bagian dari upaya penyusunan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan industri, dan dinamika pasar global.
Dalam sambutannya Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag., menegaskan bahwa kehadiran FEBI berangkat dari kegelisahan akademik sekaligus kebutuhan nyata masyarakat terhadap penguatan ekonomi umat. Menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim masih menghadapi kesenjangan antara potensi pengetahuan dan kekuatan ekonomi yang dimiliki.
“Lahirnya FEBI bukan karena pergantian kepemimpinan nasional, tetapi karena adanya kebutuhan untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi umat. Positioning ekonomi Islam harus menjadi kontribusi nyata dan wakaf pemikiran untuk Indonesia,” tegasnya.
Ketua KBNU ini berharap Program Studi Bisnis Digital mampu menghasilkan lulusan yang benar-benar menguasai kompetensi yang dibutuhkan di era digital. Karena itu, workshop ini menjadi momentum penting untuk merumuskan arah pengembangan program studi, profil lulusan, hingga proses pembelajaran yang akan diterapkan.
“Hasil kegiatan ini adalah kurikulum yang disusun melalui diskusi mendalam, berbasis kebutuhan riil dan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat maupun industri,” tambahnya.

Dalam pengantarnya, Wakil Dekan I FEBI, Prof. Dr. Iwan Setiawan, S.Ag., M.Pd., M.E.Sy., menjelaskan bahwa penyelenggaraan workshop merupakan kelanjutan dari rangkaian persiapan pendirian Program Studi Bisnis Digital. Pengajuan program studi dilakukan pada Juli 2024, dilanjutkan benchmarking ke Universitas Padjadjaran pada Agustus 2024, hingga akhirnya memperoleh Surat Keputusan pendirian dari Kementerian Pendidikan Tinggi pada 2 April 2026.
“Hari ini merupakan bagian dari ikhtiar panjang yang telah dilakukan dalam mempersiapkan Program Studi Bisnis Digital. Karena itu kami mengharapkan masukan dari para narasumber, dunia industri, LPM, dan seluruh mitra agar kurikulum yang disusun benar-benar relevan dengan kebutuhan masa depan,” katanya.
Hasil workshop akan menjadi dasar implementasi kurikulum yang digunakan mahasiswa angkatan pertama pada Tahun Akademik 2026/2027 yang saat ini sedang memasuki proses penerimaan mahasiswa baru.
Dalam sesi utama, Ketua Umum APBISDI, Dr. Mery Citra Sondari, M.Si., memaparkan pentingnya sinkronisasi kurikulum bisnis digital dengan kebutuhan industri, perkembangan teknologi, transformasi ekonomi global, serta perubahan model pekerjaan masa depan. “Kurikulum harus mampu menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” jelasnya.
Perkembangan Program Studi Bisnis Digital di Indonesia berlangsung sangat pesat. “Hingga saat ini terdapat sekitar 300 program studi bisnis digital di berbagai perguruan tinggi, sehingga kebutuhan akan standarisasi mutu dan diferensiasi keunggulan masing-masing program studi menjadi semakin penting,” paparnya.
Dalam pengembangan kurikulum harus mengacu pada pendekatan Outcome Based Education (OBE) yang berorientasi pada capaian pembelajaran. Pendekatan tersebut tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan perilaku profesional yang dibutuhkan dunia kerja.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menyusun daftar mata kuliah. Kurikulum harus mampu menjawab kebutuhan pasar kerja, perkembangan teknologi, dan kompetensi masa depan yang terus berubah,” tegasnya.
Mery menyoroti transformasi ekonomi digital yang ditandai dengan berkembangnya smart manufacturing, smart city, e-government, layanan kesehatan digital, cloud system, marketplace, hingga ekonomi berbasis platform. Perubahan tersebut turut melahirkan model kerja baru seperti gig economy, platform economy, crowdsourcing, dan on-demand workforce yang menuntut kompetensi berbeda dari lulusan perguruan tinggi.
Karena itu, penyusunan kurikulum harus berbasis analisis kebutuhan pasar (market signal), perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tren industri digital. Materi yang dikembangkan tidak hanya mencakup bidang manajemen dan bisnis, tetapi kewirausahaan digital, data analytics, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Internet of Things (IoT), Financial Technology (FinTech), hingga UI/UX Design.
Profil lulusan Program Studi Bisnis Digital dapat diarahkan pada berbagai bidang profesi, seperti digital business entrepreneur, start-up manager, digital marketer, digital marketing communication specialist, product manager, UI/UX designer, digital product developer, hingga data analyst.
Dalam sesi review kurikulum S1 Bisnis Digital FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, APBISDI menilai program studi ini memiliki sejumlah keunggulan strategis, terutama pada integrasi bisnis digital dengan ekosistem halal dan ekonomi syariah. “Fokus pada pengembangan UMKM berbasis syariah serta penguatan keuangan syariah dinilai menjadi diferensiasi yang kuat dibandingkan program studi sejenis di Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, terdapat beberapa rekomendasi pengembangan, di antaranya penyederhanaan dan pemfokusan capaian pembelajaran lulusan (CPL), penajaman profil lulusan utama, serta penguatan kompetensi data analytics agar semakin sesuai dengan kebutuhan industri digital masa depan.
Dengan adanya workshop ini, FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap dapat menghasilkan kurikulum yang tidak hanya memenuhi standar nasional pendidikan tinggi, tetapi mampu menjawab tantangan transformasi ekonomi digital global dan memperkuat karakter bisnis digital berbasis nilai-nilai syariah.