UINSGD.AC.ID (Humas) — Qurban bukan sekadar menyembelih hewan, kambing atau sapi. Yang paling hakiki bukan darah yang mengalir, melainkan ego yang diremukkan. Ibn Ataillah al-Sakandari pernah mengingatkan bahwa banyak amal lahiriah gagal menembus langit karena “diri”-nya masih berdiri paling tinggi. Kita mudah membeli hewan terbaik, tetapi sulit menyembelih kesombongan, gengsi, dan keinginan untuk selalu dipuji.
Padahal dalam kisah Ibrahim dan Ismail, yang diuji bukan sekadar harta, tetapi apa yang paling dicintai manusia dalam dirinya. Qurban sejati dimulai ketika seseorang berani berkata: “Ya Allah, tidak semua harus mengikuti keinginanku.”
Yang hilang dari umat hari ini sebenarnya bukan ritualnya, tetapi ruh pengorbanannya. Masjid ramai, kajian penuh, simbol agama tersebar di mana-mana, tetapi manusia semakin mudah dengki, kasar, dan gemar merendahkan sesama. Al-Ghazali sudah lama mengingatkan bahwa penyakit paling berbahaya bukan kebodohan akal, melainkan matinya hati. Kita hidup di zaman ketika citra agama sering lebih penting daripada akhlak agama.
Qurban akhirnya berubah menjadi acara tahunan, bukan latihan untuk memotong kerakusan dan hawa nafsu. Padahal yang menghancurkan sebuah peradaban bukan kurangnya orang pintar, melainkan kurangnya manusia yang jujur dan mampu mengendalikan diri.
Ali ibn Abi Talib pernah berkata, “Nilai seseorang terlihat dari apa yang sanggup ia korbankan.” Kalimat ini terasa sangat relevan hari ini. Banyak orang ingin hasil besar, tetapi tidak mau membayar harga berupa disiplin, kesabaran, dan latihan diri.
Ingin dihormati, tetapi tidak mau memperbaiki karakter. Ingin hidup tenang, tetapi terus memelihara nafsu dan ego. Qurban mengajarkan bahwa semua yang luhur selalu menuntut luka. Tidak ada Ibrahim tanpa kesepian. Tidak ada Ismail tanpa keikhlasan.
Yang perlu diperbaiki umat bukan hanya ekonomi atau politik, tetapi disiplin jiwa. Kita terlalu sibuk menyalahkan dunia luar, padahal musuh terdekat justru ada di dalam diri sendiri: ego yang haus pengakuan, amarah yang tak terkendali, dan cinta dunia yang dibungkus dalil agama.
Muhammad Iqbal menyebut bahwa umat Islam akan lemah ketika kehilangan “khudi” — kesadaran akan martabat spiritual dirinya. Artinya, umat tidak cukup hanya saleh secara ritual, tetapi juga harus memiliki keberanian moral, kedalaman berpikir, dan kemampuan menahan diri.
Qurban sejatinya adalah latihan peradaban: memberi lebih banyak daripada mengambil.
Mungkin karena itu takbir Idul Adha selalu terasa mengguncang. Sebab sesungguhnya itu bukan hanya pujian kepada Allah, tetapi deklarasi perang terhadap diri sendiri. Dan peperangan paling berat memang bukan melawan musuh di luar, melainkan melawan “aku” yang selalu ingin menjadi pusat segalanya.
Orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri biasanya tidak terlalu ribut mengejar dunia. Ia menjadi lebih tenang, lebih luas hati, dan lebih manusiawi. Pada titik itu, qurban bukan lagi ritual setahun sekali, tetapi cara hidup.***
Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung