Meminum Mawar Syiraz di Kedai Nusantara

Arus Bawah Islamisasi dari Persia

UINSGD.AC.ID (Humas) — Persia, yang selalu diidentikkan dengan Iran, pernah menjadi pelaku-pelaku Islamisasi di Nusantara abad ke-13 sampai abad ke 15. Sekalipun disebutkan bahwa keberadaan koloni-koloni Persia, sebagaimana koloni Arab, India, dan China; dapat ditelusuri hingga abad ke-7 Masehi. Namun jejak arkeologis dan historis mereka menguat pada abad ke-13 saat pusat dunia Islam di Baghdad diluluhlantahkan oleh Mongol.

 

Dalam perjalanan waktu, sejarah sering kali bekerja seperti arus bawah sungai yang tenang namun sanggup meruntuhkan tebing dan mengubah bentang alam. Jika kita bersedia menanggalkan kacamata positivistik yang melulu memuja angka tahun, kita akan menemukan sebuah struktur kesadaran yang sangat halus dalam Islamisasi Nusantara: Jejak Persia. Ia bukan sekadar migrasi fisik manusia dari Teluk Fars, melainkan sebuah objektifikasi gagasan yang merembes hingga ke sumsum kebudayaan kita.

 

Hubungan Nusantara dan Persia pada masa awal Islamisasi, antara abad ke-7 hingga ke-13, bukanlah dongeng romantis belaka. Persia hadir sebagai jembatan budaya yang megah sebelum pengaruh Arab murni mendominasi pada abad-abad kemudian. Di sini, masyarakat Nusantara tidak hanya berdagang lada dengan orang-orang dari negeri jamrud tersebut, tetapi juga terlibat dalam pertukaran kosmologi yang sangat mendalam.

 

Kehadiran unsur Persia ini menemukan bentuknya yang paling teatrikal dalam tradisi Tabot di Bengkulu atau Tabuik di Pariaman. Di sana, sejarah tidak lagi bersifat linear, melainkan siklikal melalui ritual yang menghidupkan kembali Tragedi Karbala—gugurnya Husain bin Ali. Peristiwa yang merupakan jantung emosional keislaman Persia ini telah mengalami pribumisasi yang tuntas, beralih dari sekadar memori kolektif menjadi struktur sosial yang menyatukan masyarakat pesisir.

 

Secara sosiologis, estetika Persia di sini berdialog mesra dengan lokalitas, melahirkan identitas yang inklusif tanpa kehilangan akar spiritualnya. Jejak ini pun tertanam kuat dalam fondasi ekonomi dan kepemimpinan kita. Penggunaan gelar “Syah” atau “Saleh” pada nisan-nisan di Samudera Pasai, serta serapan istilah maritim seperti Bandar, Nakhoda, hingga Pasar, adalah saksi benderang bahwa sistem kesadaran kita dibangun di atas interaksi kosmopolitan dengan peradaban Persia.

 

Lebih jauh ke dalam palung pemikiran, jika sejarah sosial memberikan kita struktur pasar, maka sejarah intelektual memberikan kita “Cahaya”. Di rak-rak perpustakaan naskah kuno kita, dari Aceh hingga Jawa, tasawuf Persia hadir sebagai oase metafisika yang cair. Sulit rasanya membicarakan Hamzah Fansuri tanpa menyebut pengaruh penyair sufi Persia seperti Fariduddin Attar atau Jalaluddin Rumi.

 

Dalam naskah Asrar al-Arifin, Fansuri menggunakan metafora “Laut dan Gelombang” untuk menjelaskan hubungan Tuhan dan hamba—sebuah objektifikasi tingkat tinggi yang menerjemahkan kerumitan metafisika Persia ke dalam bahasa Melayu yang puitis dan akrab dengan alam maritim. Pengaruh ini merembes pula melalui konsep Martabat Tujuh yang kemudian disistematisasi oleh para pemikir Persia sebelum sampai ke tangan para kiai dan pujangga di Jawa. Di tanah Jawa, konsep ini menyatu dengan serat-serat suluk, menciptakan sintesa antara Manunggaling Kawula Gusti dengan teologi Islam yang tertib.

 

Bahkan, simbolisme burung dalam literatur sufistik kita adalah pinjaman imajinasi dari karya agung Mantiq al-Tayr. Di Tatar Sunda, pengaruh ini masuk melalui celah yang sangat halus: rasa dan bahasa. Penggunaan gelar “Syah” oleh sultan-sultan Cirebon dan Banten bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan pengukuhan legitimasi spiritual bahwa pemimpin adalah Zilullah fil ‘Alam atau bayang-bayang Allah di bumi. Tradisi Kenduri atau penulisan Wawacan dengan struktur narasi kepuitisannya pun menunjukkan kedekatan napas dengan tradisi sastra Persia. Ini membuktikan bahwa Islam masuk ke Nusantara tidak melalui pedang yang kering, melainkan melalui pesona keindahan dan kedalaman rasionalitas yang ditawarkan oleh peradaban Persia.

 

Arkeologi memang tidak pernah berbohong, nisan-nisan di Pasai membawa sidik jari seni Teluk Persia yang kuat. Namun, lebih dari sekadar batu nisan, jejak Persia adalah jejak intelektualisme yang mengajarkan bahwa identitas kita adalah sebuah mosaik yang kaya. Memahami jejak ini berarti menyadari bahwa Islamisasi adalah sebuah dialog dialogis yang belum selesai. Kini, di dalam setiap cangkir kopi yang kita hirup di pasar, atau dalam setiap bait doa yang kita panjatkan saat kenduri, sebenarnya ada helaan napas panjang peradaban yang menghubungkan dinginnya pegunungan Parahyangan dengan harum taman mawar di Syiraz.

 

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *