UIN Bandung Gelar Workshop Strategi Pembukaan Prodi Kedokteran dan Profesi Dokter

UINSGD.AC.ID (Humas) — Upaya mempersiapkan pendirian Fakultas Kedokteran dan Program Pendidikan Dokter, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Workshop Strategi Pembukaan Program Studi Kedokteran dan Profesi Dokter yang berlangsung di Gedung O. Djauharuddin AR, dari tanggal 27–30 April 2026.

Dengan menghadirkan narasumber Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati, M.Kes., Sp.Rad (K)., yang membahas tentang best practice pendirian dan pengelolaan. Dr. dr. Nurlaili Susanti, M. Biomed memaparkan kebijakan dan regulasi pembukaan Program Studi Kedokteran di Indonesia. dr. Tias Pramesti Griana, M. Biomed menyampaikan strategi pemenuhan persyaratan sarana prasarana pembukaan Prodi Kedokteran.

Workshop ini menjadi bagian dari komitmen UIN Bandung dalam menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan kedokteran yang berkualitas, unggul, serta terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman. Berbagai aspek penting dibahas secara komprehensif, mulai dari tata kelola fakultas kedokteran, regulasi pendirian program studi, kesiapan sarana prasarana, rumah sakit pendidikan, sumber daya manusia, hingga strategi akreditasi.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menegaskan bahwa pembukaan Prodi Kedokteran merupakan bagian dari visi besar pengembangan kampus sebagai universitas Islam negeri yang unggul dan kompetitif di tingkat nasional maupun global.

“Atas nama pimpinan universitas, kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk membina dan mendampingi proses pendirian Fakultas Kedokteran UIN Bandung. Komunikasi saya dengan Rektor UIN Malang telah berlangsung cukup lama hingga lahir kerja sama dan kesepakatan ini,” ujarnya.

Rencana pendirian Fakultas Kedokteran sejatinya telah lama tercantum dalam Rencana Strategis universitas. Kehadiran fakultas ini dinilai sebagai jawaban atas kebutuhan riil masyarakat Jawa Barat terhadap pendidikan dan layanan kesehatan yang semakin besar. “Ini bukan rencana dadakan. Gagasan pendirian Fakultas Kedokteran sudah tertulis dalam renstra sejak lama. Kami ingin UIN Bandung memberi kontribusi nyata bagi masyarakat Jawa Barat,” jelasnya.

Seluruh jajaran pimpinan universitas telah berkomitmen penuh untuk menyukseskan pendirian Fakultas Kedokteran. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan mitra strategis lainnya.

“Insyaallah kami sudah berkomitmen. Alhamdulillah, rencana ini mendapat sambutan baik dari Gubernur Jawa Barat, Komisi VIII DPR RI, serta komunikasi dengan Bappeda terkait pembangunan gedung Fakultas Kedokteran, baik melalui skema perubahan maupun anggaran murni. Mudah-mudahan segera terwujud dengan melibatkan Pemerintah Jawa Barat,” bebernya.

Terkait sarana fisik, Rektor menyampaikan bahwa universitas juga telah menyiapkan gedung sementara sebagai langkah awal operasional sebelum gedung permanen berdiri. Setelah itu, gedung lama akan dikembalikan kepada fakultas asal.

Dengan meminta seluruh peserta workshop untuk menyimak secara serius berbagai paparan narasumber mengenai tantangan besar dalam membangun Fakultas Kedokteran, termasuk kebutuhan biaya, tata kelola, serta strategi penguatan pendanaan melalui PNBP.

“Saya minta seluruh peserta mendengarkan dengan baik, agar mengetahui betapa besar tantangan dan biaya membangun Fakultas Kedokteran. Karena itu, workshop ini sangat penting sebagai bekal bersama,” ungkapnya.

Rektor berharap selama empat hari pelaksanaan workshop seluruh peserta dapat mengikuti proses dengan sungguh-sungguh dan menjadikan forum ini sebagai pijakan awal ikhtiar besar universitas.

“Prinsipnya, kalau kita sudah bertekad maka bertawakal dan berikhtiar secara serius. Faidza azamta fatawakkal ‘alallah, yang artinya, Maka, jika kamu sudah bersungguh-sungguh, maka bertawakallah kepada Allah (QS. Ali Imran: 159). Mudah-mudahan Allah menyertai dan memudahkan segala urusan kita,” paparnya.

Dalam sesi best practice pendirian dan pengelolaan Fakultas Kedokteran, Dekan FKIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati, M.Kes., Sp.Rad (K)., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada pihaknya sebagai pendamping dalam proses pembukaan Fakultas Kedokteran UIN Bandung.

“Terima kasih atas kepercayaan kepada kami untuk mendampingi FK UIN Bandung. Saudara-saudara yang hadir hari ini adalah para perintis, bukan pewaris,” ujarnya.

Sambil mengenang pengalamannya saat tahun 2020 ditugaskan Rektor Universitas Brawijaya untuk membantu pengembangan Fakultas Kedokteran di UIN Malang. Saat itu, berbagai tantangan dihadapi, mulai dari kesiapan gedung yang belum sempurna hingga kebutuhan sumber daya pendukung lainnya.

Menurutnya, membangun Fakultas Kedokteran bukan perkara mudah dan tidak bisa hanya dibebankan kepada pimpinan semata. Seluruh unsur universitas harus bergerak bersama. “Membangun FK harus dilakukan secara kolektif. Tidak cukup hanya pimpinan, tetapi seluruh elemen kampus harus terlibat. Fakultas Kedokteran harus diarahkan meraih akreditasi unggul,” tegasnya.

Keberadaan rumah sakit pendidikan menjadi syarat penting yang harus dipersiapkan dengan dukungan berbagai fakultas serta komitmen penuh dari pimpinan universitas. Selain itu, dosen berlatar belakang dokter tidak cukup hanya dijadikan homebase, tetapi perlu didorong membangun sistem pendidikan kedokteran yang kokoh.

“Kita bisa membangun Fakultas Kedokteran yang benar-benar berkualitas, bukan sekadar berdiri secara administratif. Untuk melahirkan dokter berkualitas dibutuhkan komitmen pimpinan dan investasi yang tidak murah,” tandasnya.

Dengan terselenggaranya workshop ini, UIN Bandung menunjukkan komitmen kuat untuk terus berinovasi dalam pengembangan keilmuan dan memperluas kontribusi bagi masyarakat melalui pendidikan tinggi yang bermutu.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *