Ramadan Momentum ‘Naik Kelas’ Spiritual
UINSGD.AC.ID (Humas) — Menteri Agama Nasaruddin Umar, menekankan pentingnya transformasi kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual. Hal tersebut disampaikan saat memberikan tausiah dalam acara Peningkatan Iman dan Taqwa SDM di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kemenko Kumham Imipas), Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Menag mengajak seluruh hadirin untuk memanfaatkan momentum Ramadan sebagai ajang untuk “naik kelas” dalam hal kualitas diri dan integritas. “Kita harus bisa meng-upgrade diri dalam hal kebaikan. Terutama di bulan Ramadan ini, seharusnya kualitas diri dan ibadah kita tidak boleh jalan di tempat. Kita harus naik kelas,” ujar Menag.
Menurutnya, kebijakan peningkatan kualitas SDM di instansi pemerintah harus sejalan dengan peningkatan standar moral individu. Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan fase “metamorfosis” bagi seorang abdi negara untuk memperbaiki kinerja melalui pendekatan spiritual.
Dalam kesempatan tersebut, Menag membedah konsep ketulusan melalui perbedaan mendalam antara sosok Mukhlis dan Mukhlas. Ia menjelaskan bahwa seorang Mukhlis adalah mereka yang masih berada dalam tahap perjuangan keras untuk menanamkan keikhlasan dan terus berupaya melawan ego pribadi dalam setiap amalannya.
Mukhlas merupakan tingkatan yang jauh lebih tinggi, di mana seseorang telah dipilih dan disucikan oleh Allah SWT sehingga sifat ikhlas telah menyatu dan menjadi nafas dalam setiap langkah serta kebijakannya.
“Seorang Mukhlis itu masih ‘berdarah-darah’ melawan dirinya sendiri agar bisa ikhlas dalam beramal. Namun, kita harus bercita-cita mencapai level Mukhlas, yakni kondisi di mana keikhlasan bukan lagi sebuah beban atau paksaan, melainkan anugerah Tuhan yang membuat pengabdian kita kepada bangsa dan negara mengalir murni tanpa tendensi apa pun kecuali karena-Nya,” tegasnya.
Menag juga mengajak para hadirin untuk menjadikan bulan suci ini sebagai momentum bertaubat secara total. Taubat yang dimaksud bukan hanya permohonan ampun secara lisan, tapi juga perbaikan etos kerja.
“Siapa yang sebelumnya merasa kurang dalam amal sholeh, sering melalaikan kewajiban, atau jarang bersedekah, inilah saatnya memperbaiki itu semua. Jika kita bersungguh-sungguh memperbaiki kualitas iman dan taqwa, maka di situlah Allah juga akan memperbaiki kualitas hidup dan urusan kita menjadi lebih baik lagi,” pesannya.
Menutup tausiahnya, Menag berharap penguatan iman dan taqwa ini menjadi fondasi utama dalam mendukung arah kebijakan pemerintah, khususnya dalam menciptakan birokrasi yang bersih, melayani, dan penuh keberkahan.
“Saya sangat berharap, penguatan iman dan taqwa ini bukan sekadar rutinitas, melainkan menjadi fondasi utama bagi kita semua dalam menyukseskan arah kebijakan pemerintah. Mari kita wujudkan birokrasi yang benar-benar bersih, tulus melayani, dan dipenuhi keberkahan dalam setiap langkah pengabdian kita kepada bangsa,” pungkasnya.
Hadir dalam acara tersebut Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra, Wamenko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Otto Hasibuan, serta jajaran pejabat Kemenko Kumham Imipas, Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar, serta para pegawai Kemenko Kumham Imipas.