Evaluasi Pemanfaatan Sarana dan Prasarana SBSN dan PLN
UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam rangka evaluasi pemanfaatan sarana dan prasarana yang dibangun melalui pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan Pinjaman Luar Negeri (PLN), Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag., didampingi Wakil Rektor II Prof. Dr. Tedi Priatna, M.Ag., menerima kunjungan lapangan Tim Direktorat Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi (PTI) Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Kegiatan berlangsung di Gedung O. Djauharuddin AR, Senin (8/12/2025).
Ketua Tim Direktorat PTI, Dimas Suryo Sudaryo, menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan menilai efektivitas, kebermanfaatan, dan kualitas pemanfaatan fasilitas yang dibangun melalui pembiayaan SBSN dan dukungan infrastruktur atas pinjaman luar negeri, seperti Islamic Development Bank (IsDB). Evaluasi dilakukan untuk memastikan bahwa sarana dan prasarana yang telah diinvestasikan mampu mendukung peningkatan layanan akademik, penelitian, dan tata kelola kampus.

“Terima kasih atas sambutannya. Kami juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Ibu Endah Sulastri yang semula dijadwalkan hadir, namun ada agenda lain yang tidak dapat diwakilkan. Kunjungan ini merupakan bagian dari amanat Bappenas terkait perencanaan, pengendalian, monitoring ketika program telah selesai, untuk memastikan infrastruktur baik di perguruan tinggi negeri maupun PTKIN berjalan sesuai prosedur. Semua fasilitas harus dimanfaatkan secara optimal, dipelihara, dan dievaluasi sebagai dasar perencanaan ke depan,” ujarnya.
Pertemuan diawali dengan pemaparan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang menekankan bahwa pembangunan berbasis SBSN telah menjadi pendorong utama transformasi kampus menuju smart campus, smart building, techno university.

Rektor menjelaskan bahwa kondisi Kampus I yang menampung lebih dari 21.000 mahasiswa di lahan sekitar 7,8 hektare kini sangat padat dan tidak lagi mencukupi kebutuhan akademik yang terus berkembang. “Oleh karena itu, pengembangan Kampus II seluas 29 hektare menjadi kebutuhan strategis. Di kawasan ini, kami merancang pembangunan delapan fakultas dan Program Pascasarjana yang mampu menampung lebih dari 14.000 mahasiswa,” paparnya.
Prof Rosihon menyampaikan bahwa peminat calon mahasiswa baru terus meningkat signifikan setiap tahun: 36.790 mahasiswa (2024), 37.500 (2025), 39.500 (2026), hingga 40.000 mahasiswa (2027). “Kenaikan ini menuntut penyediaan ruang belajar, laboratorium, dan fasilitas pendukung yang memadai dan terukur,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Rektor memaparkan perjalanan pembangunan SBSN yang telah dilakukan hampir satu dekade terakhir, di antaranya:
– 2016: Pembangunan Gedung Perkuliahan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan serta Laboratorium Madrasah, Rp 40,7 miliar.
– 2017: Pembangunan Gedung Kuliah Pascasarjana, Rp 45,7 miliar.
– 2019: Pembangunan Gedung Kuliah Bersama untuk PPG, Rp 30 miliar.
– 2022–2023: Pembangunan tiga Gedung Kuliah Terpadu, Rp 161,4 miliar.
“Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi investasi jangka panjang bagi peningkatan mutu pendidikan Islam dan daya saing institusi,” tegasnya.

Rektor menambahkan bahwa keberadaan infrastruktur SBSN memberikan tiga dampak strategis besar bagi UIN Bandung:
1. Penguatan posisi sebagai pusat pendidikan Islam melalui fasilitas modern yang mendukung pembelajaran dan riset.
2. Penunjang pembukaan fakultas-fakultas baru, termasuk rencana pendirian Fakultas Kedokteran yang kini masuk tahap perencanaan.
3. Mendorong kolaborasi lintas disiplin, dengan ruang-ruang terpadu yang dirancang untuk memfasilitasi interaksi akademik antarprodi dan antarfakultas.

Setelah sesi pemaparan, Tim Bappenas melakukan diskusi intensif bersama pimpinan universitas, membahas capaian pembangunan, kendala teknis, serta strategi penguatan pengembangan infrastruktur kampus di masa mendatang. Tim menyoroti pentingnya optimalisasi ruang belajar, laboratorium, serta percepatan layanan berbasis digital.
Melalui kunjungan ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap evaluasi dari Bappenas menjadi dasar perbaikan dan penguatan perencanaan pembangunan kampus ke depan, sehingga mampu memberikan layanan pendidikan yang semakin unggul, modern, dan berdaya saing tinggi.
