UMRAH DAN CINTA KELUARGA

(UINSGD.AC.ID)-Dalam sisi gelap pertemuan antara digitalisasi dan kontestasi politik di negeri ini, telah melahirkan mesin kekerasan yang memproduksi ragam ketakutan bahkan kebencian. Bagian dari mesin kebencian yang paling kontras dan tumbuh subur laksana cendawan di musim hujan adalah hoax.

Hoax adalah muslihat dari entitas amoral yang diproduksi, direproduksi, dan didistribusikan secara masif melalui kanal media sosial. Sebagai musllihat, informasi yang didistribusikan sama sekali tidak berdasarkan fakta. Melainkan konten tipuan dengan kepentingan mengagitasi, membangkitkan kebencian dan membangun ketakutan.

Hari ini, di negeri, hoax telah mempengaruhi secara akut nalar kritis publik. Karena itu post truth era, sebuah kurun dimana hoax lebih dpercayai publik ketimbang fakta sesungguhnya, menjadi kenyataan yang tak terbantahkan.

Dalam horison demikian, sehebat dan sedahsyat apapun kurikulum didesain pada dunia pendidikan. Apalagi kalau kurikulum tersebut tidak hebat, karena kurikulum kerap kali menjadi gorengan politik hingga harus dibongkar pasang atas nama ambisi dan kekuasaan. Maka pendidikan dengan desain kurikulum hebatnya itu, tetap saja tidak akan berdaya ketika berhadapan dengan mesin kekerasan yang memproduksi ragam ketakutan.

Dihadapan kenyataan seperti ini, yang termat penting adalah menyelematkan institusi primordial yang bernama keluarga. Sebagai institusi sosial terkecil, keluarga menjadi soko guru bagi tegaknya peradaban suatu bangsa. Anak-anak dalam keluarga adalah titipan masa depan. Melalui anak-anak konstribusi langsung untuk masa depan bisa diukur dan dihitung. Kalau anak-anak menjadi perampok, maka setiap orang tua telah berkonstribusi terhadap masa depan bangsa yang ditandai dengan perampokan.

Sekaitan dengan keluarga, diantara dimensi sosial dari ibadah umrah adalah visi menyelamatkan keluarga. Tiga situs utama yang berada di Masjidil Haram, tepatnya di area kaki Ka’bah al-mustarrofah, yakni; Maqom Ibahim, Hajar Aswad dan Hijir Ismail adalah simbol dari instrumen keluarga.

Maqom Ibrahim, tempat pijakan kaki Nabi Ibrahim as ketika memperbaiki Ka’bah, adalah simbol dari peran seorang ayah. Hajar Aswad sebagai titik awal dan akhir perjalanan thawaf adalah simbol dari peran seorang ibu. Sementara Hijir Ismail, sebuah lokus yang dicintai untuk bermunajat adalah simbol dari peran seorang anak.

Kepribadian Nabi Ibrahim as sebagai kekasih Allah yang tunduk patuh atas perintah-Nya, sejatinya bisa diinternalisasi menjadi kepribadian seorang ayah. Kepribadian Siti Hajar sebagai seorang ibu yang tangguh menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, sejatinya bisa diinternalisasi menjadi kepribadian seorang ibu. Begitupun kepribadian Nabi Ismail as sebagai seorang anak yang sami’na wa’athona bila kaifa, mendengarkan, mentaati tanpa basa basi dan argumentasi atas petunjuk orang tua, sejatinya bisa diinternalisasi menjadi kepribadian seorang anak.

Dalam balutan kesadaran internalisasi kepribadian tiga komponen keluarga panutan tadi, keluarga akan menjadi pelabuhan terakhir dimana seorang ayah, ibu dan anak sebagai awak kapal akan melakukan perbaikan diri secara total dan radikal. Disamping menjadi pelabuhan, keluarga akan menjadi sebuah institusi dimana sikap demokratis, kejujuran, keterbukan dan kekompakan dalam menghadapi segala aral yang melintang akan dipraktikan secara elegan.

Fakta tentang deru mesin kebencian dan ketakuatan yang terus diproduksi oleh pihak berkepentingan, ceritanya akan berubah, bila institusi keluarga menjadi kolam cinta yang penuh keteladan dan kesejukan sebagai buah internalisasi pribadi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail. Semoga.

Aang Ridwan, Pembimbing Haji Plus dan Umroh Khalifah Tour dan Dosen FDK UIN Bandung

Sumber, Pikiran Rakyat 14 Februari 2023

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *