UMRAH DAN STRATA MULIA

(UINSGD.AC.ID)-Dalam kesempatan kegiatan mendampingi jamaah melaksakan shalat malam di Masjid Nabawi, pikiran teringat pada cerita Abu Aswad sebagaimana ditulis dalam Buku Madinat Al-Balaghah (1;457). Kata Abu Aswad, suatu hari aku datang ke Rabazah untuk mengunjungi Abu Dzar Al-Ghifari. Ia bercerita kepadaku, bahwa suatu ketika di Masjid Nabawi, Abu Dzar menemui Rasulullah. Kemudia ia berkata, “Ya Rasulullah, demi ayah dan ibuku, atau biarlah aku menjadi tebusanmya. Berilah aku wasiat yang dengan wasiat itu, Allah memberi manfaat bagiku. ‘Baik’, kata Rasulullah, ‘engkau mendapat kehormatan menerima wasiat ini.”

Diantara wasiat yang disampaikan Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari, adalah “Ya Abu Dzar, pada hari kiamat nanti, ada orang yang masuk surga, kemudian Allah memberinya kemuliaan di atas orang lain di surga; sehingga apabila kaum yang lain melihat mereka, kaum tersebut mengenalnya dan berkata, ‘Tuhan, kami beramal pula seperti mereka. Lalu mengapa Engkau memuliakan mereka di atas kami?’. Kemudian dikatakan kepada mereka, ‘sebetulnya mereka sama dengan Kamu. Namun mereka lapar ketika kamu kenyang, mereka haus ketika kamu terpuaskan, mereka berdiri shalat ketika kamu tertidur, dan mereka bangkit ketika kamu berbaring’.

Berdasarkan wasiat ini, bila mendamba mendapatkan strata mulia dihadapan Allah di surga, maka milikilah dua hal. Pertama, simpati dan empatilah atas derita orang lain. Bila orang lain kelaparan, kita tidak kenyang sendirian. Bila orang lain kehausan, kita tidak puas sendirian. Kedua, janganlah larut pada lazimnya kebiasaan umum. Bila umumnya diwaktu malam orang lain tidur pulas, maka kita bangun untuk ruku dan sujud dalam sholat tahajud. Bila umumnya orang lain malas, maka kita bangkit untuk bergerak.

Dalam kesadaran wasiat ini, setiap jamaah umrah senantiasa dikondisikan untuk gemar berbagi dan menjaga shalat malam. Gemar berbagi, disebutkan Allah sebagai indikasi orang yang beriman dan bertaqwa. Hampir dalam setiap ayat yang menjelaskan indikasi orang beriman dan bertaqwa, Allah selalu menyebut, bahwa wujud kongkrit keimanan dan ketaqwaan seseorang adalah memiliki kepribadian dermawan, gemar memberi, dan gemar menjaga hartanya dengan infak dan shadaqah, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit.

Gemar berbagai diekspresikan lazimnya jamaah umrah dalam ragam kegiatan simpatik dan empatik. Ada yang sedekah kepada petugas kebersihan yang berkhidmah menjaga kebersihan Masjidin Nabawi dan Masjidil Haram. Ada yang memberi paket makanan, baik untuk para pekerja konstruksi yang sedang melakukan perluasan Masjidil Haram maupun untuk jamaah yang mebutuhkan. Ada yang menyediakan paket makanan buka puasa untuk jamaah yang puasa sunah. Tidak sedikit pula jamaah yang mewakafan Al-Qur’an agar dibaca oleh mereka yang i’tikap di masjid.

Selain gemar berbagi, dalam perjalanan ibadah umrah setiap jamaah dikondisikan untuk menjadi pejuang malam. Pada sepertiga malam terakhir, lazimnya mereka dibimbing untuk melaksanakan thawaf sunnah berjamaah, berdoa di multazam dan hijir Ismail. Kemudian dilanjutkan shalat tahajud yang ditutup dengan witir. Setelah itu, sembari menunggu tiba waktunya shalat subuh, mereka tilawatil qur’an, khusus berdzikir dan bermunajat.

Perjalanan ibadah umrah mengkondisikan setiap jemaah pada ekosistem kebaikan. Bila hal itu menjadi habituasi, maka ibadah umrah akan menjadi jembatan emas untuk meniti strata mulia di surga. Semoga.

Aang Ridwan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber Pikiran Rakyat 6 Agustus 2022

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *