HomeBeritaBeritaMadrasah Unggulan Didorong Perkuat Integrasi Keilmuan dan Kolaborasi dengan UIN Bandung

Madrasah Unggulan Didorong Perkuat Integrasi Keilmuan dan Kolaborasi dengan UIN Bandung

Madrasah Unggulan Didorong Perkuat Integrasi Keilmuan dan Kolaborasi dengan UIN Bandung

UINSGD.AC.ID (Humas) — Pengembangan madrasah unggulan perlu diarahkan pada penguatan integrasi keilmuan yang memadukan ilmu agama dan sains secara utuh. Kolaborasi madrasah dengan perguruan tinggi keagamaan, khususnya UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menjadi salah satu langkah strategis untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kurikulum, pembelajaran, riset, dan pengembangan kompetensi peserta didik.

Pernyataan ini mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) tindak lanjut hasil visitasi Program Madrasah Unggulan di Jawa Barat yang digelar di Aula Kanwil Kementerian Agama Jawa Barat, Rabu (7/10/2026).

FGD yang menghadirkan Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Reformasi, dan Tata Kelola Kementerian Agama RI, Hj. Nona Gayatri Nasution, S.Si., Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Hj. Hasniah Aliah, M.Si., Ketua Program Studi Doktor Pendidikan Islam, Prof. Dr. H. Badruddin, M.Ag., SIIQA, CEAM.

Prof. Hasniah Aliah menekankan bahwa integrasi keilmuan penting untuk membangun profil lulusan yang tidak memisahkan agama dan sains. Menurutnya, tradisi keilmuan Islam memiliki sejarah panjang dalam melahirkan ilmuwan yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus menjadikan nilai-nilai agama sebagai bagian dari kerangka berpikirnya.

Gagasan ini dapat diterjemahkan dalam praktik pembelajaran. Salah satu pengalaman yang dapat menjadi rujukan adalah pengembangan Pesantren Saintek Darul Hikam melalui kerja sama penyusunan modul Integrasi Saintek Islam. Modul untuk kelas 1 telah diselesaikan, sedangkan pengembangan kelas 2 terus dilakukan, termasuk pada mata pelajaran MAFIKIBio. Pengembangan modul itu disertai pendampingan implementasi bagi guru.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa integrasi keilmuan tidak cukup berhenti pada konsep atau slogan. “Integrasi harus hadir dalam perangkat pembelajaran, cara guru mengajar, pengembangan riset, serta pengalaman belajar peserta didik. Oleh karena itu, madrasah unggulan memiliki ruang besar untuk membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan model pembelajaran yang menghubungkan keilmuan keagamaan dengan sains dan teknologi,” tegasnya.

Kolaborasi ini dapat diperluas melalui pengembangan komunitas dan program akademik. Dengan memberikan contoh perintisan PKM Komunitas Pesantren sebagai bentuk implementasi integrasi keilmuan di bidang saintek. “Model semacam ini membuka peluang bagi UIN Bandung untuk berperan melalui kepakaran dosen, penelitian, pendampingan guru, pengembangan modul, serta program penguatan kompetensi siswa dan madrasah,” jelasnya.

Dalam konteks pengembangan delapan madrasah unggulan Jawa Barat, kolaborasi dengan perguruan tinggi karena itu perlu diarahkan menjadi kerja sama yang substantif dan berkelanjutan. “UIN Bandung tidak hanya ditempatkan sebagai mitra kegiatan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pengembangan madrasah melalui penguatan kurikulum, integrasi keilmuan, riset, inovasi pembelajaran, pengembangan sumber daya manusia, hingga pembinaan peserta didik,” tuturnya.

Dorongan untuk memperkuat kolaborasi ini disampaikan Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Reformasi, dan Tata Kelola Kementerian Agama RI, Hj. Nona Gayatri Nasution, S.Si. Dengan menekankan pentingnya madrasah bergerak cepat setelah proses visitasi dan pemetaan dilakukan.

“Sekarang harus gerak cepat. Kepala madrasah harus visioner, kemudian kerja sama dengan komite harus kuat, dan guru BK juga harus masuk dalam tim,” ujarnya.

Stafsus menegaskan kepala madrasah harus menjadi penggerak perubahan dengan melibatkan guru, guru Bimbingan dan Konseling, komite, alumni, serta mitra strategis. Guru BK dinilai memiliki posisi penting karena berinteraksi dekat dengan peserta didik dan memahami potensi, kebutuhan, maupun persoalan yang mereka hadapi.

Untuk mendorong agar madrasah unggulan mengintegrasikan prinsip satuan pendidikan ramah anak sehingga menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik. Selain itu, Kementerian Agama berkomitmen membantu mengawal kebutuhan sarana dan prasarana melalui akses bantuan pemerintah sesuai mekanisme yang berlaku.

Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa madrasah unggulan tidak cukup dibangun melalui pencapaian akademik. Keunggulan harus tercermin dalam ekosistem pendidikan yang memadukan prestasi, spiritualitas, karakter, literasi, inovasi, dan jejaring kolaborasi.

“Madrasah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk pribadi yang berakhlak, beradab, serta mampu memberi kontribusi bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Dudu menekankan pentingnya membangun budaya literasi di lingkungan madrasah. Guru tidak hanya dituntut menjalankan fungsi pembelajaran, tetapi aktif menulis, menghasilkan karya, mengembangkan gagasan, serta memanfaatkan ruang digital sebagai sarana edukasi dan penyebarluasan nilai-nilai keagamaan.

“Literasi harus menjadi budaya. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berkarya, menulis, dan membangun tradisi intelektual yang berkelanjutan,” katanya.

Pengembangan madrasah perlu dibangun melalui jejaring yang lebih luas dengan perguruan tinggi, dunia industri, dan mitra strategis. Kolaborasi tersebut penting untuk membuka ruang pengembangan kompetensi, riset, inovasi, maupun peluang pendidikan bagi peserta didik.

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat, Dr. H. Badruzaman, S.Ag., M.Pd., mengatakan hasil visitasi menjadi momentum untuk memastikan pengembangan madrasah unggulan dibangun berdasarkan kondisi dan potensi nyata masing-masing madrasah.

“Kami ingin madrasah unggulan di Jawa Barat ini menjadi yang terbaik dan mampu memberikan dampak luar biasa. Investasi pendidikan ini sangat luar biasa, karena lulusan madrasah unggulan Jawa Barat diharapkan dapat menjadi pemimpin pada masa yang akan datang,” ujarnya.

Badruzaman menjelaskan pengembangan madrasah unggulan mencakup tata kelola dan kepemimpinan, kurikulum dan pembelajaran, pembinaan prestasi akademik dan non akademik, penguatan keagamaan dan karakter, kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, digitalisasi, serta kemitraan dan jejaring. Seluruh aspek tersebut harus dikembangkan secara terpadu agar madrasah memiliki ekosistem pendidikan yang kuat.

Ketua Tim pada Fungsi Kelembagaan dan Sistem Informasi Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat, H. Ade Ruhiat, S.Sos., M.M., menjelaskan bahwa pengembangan delapan madrasah unggulan diawali dengan proses seleksi dan visitasi untuk memperoleh gambaran kondisi secara objektif.

Dari 77 madrasah negeri yang menjadi sasaran, sebanyak 29 madrasah mengajukan proposal. Setelah melalui telaah dan seleksi, diperoleh 13 calon madrasah unggulan, kemudian ditetapkan delapan madrasah sebagai fokus program pengembangan.

“Semua tahapan sudah kami lalui. Mulai dari pengajuan proposal, telaah, sampai seleksi. Dari 29 proposal yang masuk, kemudian menjadi 13 calon madrasah unggulan, dan akhirnya ditetapkan delapan madrasah yang akan menjadi bagian dari program ini,” jelas Ade.

Hasil visitasi menjadi bahan penting dalam menyusun program karena memberikan gambaran mengenai keunggulan dan aspek yang masih perlu diperkuat di masing-masing madrasah. Pemetaan mencakup tata kelola dan kepemimpinan, kurikulum dan pembelajaran, program akademik dan pembinaan kompetisi, keagamaan dan karakter, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, digitalisasi, kemitraan dan jejaring, serta capaian dan kebermanfaatan madrasah.

“Proses pemetaan tidak hanya mengandalkan informasi dari kepala madrasah, tetapi juga melibatkan guru dan unsur lainnya agar hasil yang diperoleh benar-benar menggambarkan kondisi lapangan,” ungkapnya.

Ade menegaskan bahwa hasil pemetaan akan menjadi dasar penentuan bentuk pendampingan dan intervensi sesuai kebutuhan masing-masing madrasah. Setiap madrasah memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda sehingga pengembangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam.

Delapan madrasah yang menjadi fokus pengembangan tersebut yakni MAN 1 Subang, MAN 2 Kabupaten Cirebon, MAN 1 Bogor, MAN 2 Kota Bogor, MAN 2 Kota Sukabumi, MAN 1 Kota Bandung, MAN 2 Kota Bandung, dan MAN 2 Tasikmalaya.

Melalui FGD ini, hasil visitasi diharapkan tidak berhenti sebagai pemetaan kondisi, tetapi diterjemahkan menjadi program konkret, terukur, dan berkelanjutan. Pengembangan madrasah unggulan diarahkan untuk memperkuat tata kelola, kualitas sumber daya manusia, karakter, integrasi keilmuan, digitalisasi, sarana prasarana, serta jejaring kemitraan.

Untuk itu, kolaborasi madrasah dengan UIN Bandung menjadi penting. Madrasah memiliki ruang strategis untuk mengembangkan peserta didik, sementara perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik, kepakaran, riset, dan inovasi yang dapat memperkuat proses tersebut. Sinergi keduanya diharapkan mampu melahirkan model madrasah unggulan yang tidak hanya berprestasi, tetapi menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu agama dan sains secara terpadu, berkarakter, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memiliki daya saing nasional.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *