UINSGD.AC.ID (Humas) — UIN Sunan Gunung Djati Bandung mencatatkan prestasi membanggakan sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia yang berhasil melaju ke babak final Genera-Z Berbakti 2026, program pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Bakti BCA.
Pada babak battle pertama, Tim UIN Sunan Gunung Djati Bandung berhadapan dengan Tim Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperebutkan kesempatan melaksanakan program pengabdian di Desa Wisata Kreatif Terong, Kepulauan Bangka Belitung.
Kehadiran UIN Bandung di panggung final menjadi bukti bahwa PTKIN mampu bersaing sejajar dengan berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia melalui inovasi, riset, dan gagasan yang berdampak bagi masyarakat.
Genera-Z Berbakti 2026 menghadirkan tantangan yang tidak hanya menguji kualitas ide, tetapi kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, mental, dan kesiapan implementasi program. Di hadapan panelis Nicholas Saputra, Cinta Laura Kiehl, dan Tri Mumpuni, setiap tim dituntut mampu membuktikan bahwa inovasi yang mereka tawarkan dapat diterapkan secara nyata di desa binaan Bakti BCA.
Sebelum battle dimulai, seluruh finalis diminta menuliskan komitmen mereka terhadap masyarakat Desa Terong. Ripki Albabila (Rifki) dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan bahwa semangat pengabdian menjadi landasan utama timnya.
“Khoirunnas anfa’uhum linnas. Ilmu yang didapatkan akan lebih bermakna jika dimanfaatkan. Hal ini menjadi fondasi untuk menjalankan setiap program yang akan dilakukan di Desa Terong,” tulis Rifki.
Sementara itu, Tim UGM menunjukkan komitmen yang kuat untuk menjaga kekompakan dalam mengemban misi pengabdian.
Pada Stage One: Idea Pitch, kedua tim menawarkan konsep yang berbeda. Tim UGM mengusung proposal bertajuk Optimalisasi Potensi Lokal Desa melalui Sustainable Tourism dan Inovasi Berbasis Green-Blue Economy untuk Meningkatkan Kesejahteraan, sedangkan Tim UIN menghadirkan inovasi DESA HIDUP: Smart Eco-Tourism untuk Transformasi Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Lingkungan dan Digital.

Tri Febriansah dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Adrian Putra/Liputan6.com)
Meski sempat diliputi rasa gugup, Tri Febriansah berhasil mempresentasikan konsep yang dikembangkan timnya dengan penuh keyakinan. “Saya bisa lebih bagus nggak ya? Saya mampu nggak ya dapat seperti itu? Tapi saya optimis. Saya yakin,” ungkapnya.
Memasuki Stage Two: Think Tank, para panelis menguji kedalaman konsep, keberlanjutan program, hingga kesiapan teknologi yang diusulkan. Salah satu momen paling menegangkan terjadi ketika Tessa Rahayu dari UIN harus mendemonstrasikan prototipe yang dikembangkan timnya.
“Aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari panelis, dan aku bisa mengintegrasikan program yang kita bawa dengan jawaban-jawaban aku,” ujarnya setelah sesi berlangsung.
Selanjutnya pada Stage Three: Head to Head, kedua tim saling mengkritisi sekaligus mempertahankan gagasan masing-masing berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan. Debat berlangsung dinamis dan menunjukkan kualitas argumentasi kedua tim yang sama-sama kuat.
Menjelang penentuan hasil, panelis Tri Mumpuni mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga sejauh mana teknologi tersebut dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
“The best technology is technology that you can bring as close as possible sesuai dengan kemampuan rakyat,” jelasnya.
Keberhasilan UIN Sunan Gunung Djati Bandung menembus babak final Genera-Z Berbakti 2026 menjadi pencapaian yang membanggakan, tidak hanya bagi sivitas akademika UIN Bandung, tetapi juga bagi seluruh PTKIN di Indonesia. Sebagai satu-satunya PTKIN yang tampil pada kompetisi nasional ini, UIN Bandung menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki kapasitas yang kuat dalam melahirkan inovasi sosial, solusi berbasis riset, serta program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Stage Two: Think Tank antara Tessa Rahayu dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Nauval Rajwaa Raysendria dari UGM. (Adrian Putra/Liputan6.com)
Genera-Z Berbakti merupakan program yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menciptakan inovasi sosial melalui Desa Bakti BCA. Setelah melalui tahapan seleksi proposal dan penjurian final, peserta terpilih akan mengikuti bootcamp sebelum melaksanakan implementasi program pengabdian yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Juli hingga 6 Agustus 2026.
Menanggapi capaian tersebut, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Dan Alumni, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Husnul Qodim, S.Ag., M.A., menyampaikan apresiasi atas perjuangan mahasiswa yang berhasil membawa nama baik UIN Bandung di ajang nasional.
“Keberhasilan Tim UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang tampil pada babak final Genera-Z Berbakti 2026 merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Capaian ini menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Bandung memiliki daya saing, kapasitas akademik, kepedulian sosial, serta kemampuan menghadirkan solusi inovatif yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Menurut Prof. Husnul Qodim, partisipasi mahasiswa dalam kompetisi nasional seperti Genera-Z Berbakti bukan sekadar mengejar prestasi, tetapi juga menjadi media aktualisasi nilai-nilai keilmuan dan pengabdian yang menjadi karakter UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
“Kami berharap para mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Membawa nama baik UIN Bandung di tingkat nasional adalah sebuah amanah yang harus dijaga dengan integritas, kerja sama, dan dedikasi terbaik,” tegasnya.
Guru Besar Fakultas Ushuluddin ini menegaskan bahwa universitas akan terus memberikan dukungan terhadap mahasiswa yang aktif berprestasi dan berkontribusi melalui berbagai ajang akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.
“Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk terus berkarya, berinovasi, dan memperluas kontribusi bagi bangsa. Kami optimistis mahasiswa UIN Bandung mampu menjadi agen perubahan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat sekaligus mengharumkan nama institusi di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.

