(UINSGD.AC.ID) — Untuk waktu yang tidak terlalu lama, bahkan gemuruhnya sudah kita rasakan hari ini, kita akan menyongsong babak-babak pertarungan “perebutan kekuasaan”. Pada periode itu, warga akan disuguhi kalimat-kalimat hipnotis, janji-janji manis keadilan, iming-iming kesejahteraan, bahkan bujuk rayu tentang ketimpangan dan kemiskinan yang segera akan dituntaskan.

Yang “berseteru” dan “berbaku hantam” memperebutkan kursi kekuasaan itu bisa tampil seumpama pengkhotbah dengan kata-kata dan tampilan yang seolah-olah meyakinkan. Dinukillah kata-kata bijak untuk mempertegas niat dan maksud yang diinginkan. Disitirlah pesan-pesan agama seumpama ia kepanjangan dari titah Tuhan tentang bagaimana kehidupan seharusnya disempurnakan.

Yang berrebut suara, simpati dan dukungan terbanyak warga itu, bisa tampil seolah-olah ahli tata negara yang menyampaikan dalil-dalil tak terbantahkan tentang bagaimana “welfare state” (negara kesejahteraan) diciptakan. Bahwa hukum harus ditegakkan seadil-adilnya. Bahwa ketimpangan harus dibereskan. Bahwa prinsip utilitarian harus menjadi prioritas dalam menciptakan kemakmuran. Bahwa korupsi adalah perilaku menyimpang dan kejahatan yang harus diperangi tuntas.

Perseteruan dan pertarungan itu tidak selamanya tampil dalam balutan kata-kata manis menghipnotis. Di media sosial “pertarungan” itu bisa terlihat brutal dan garang. Kata-kata menghunjam menistakan mudah kita baca. Kalimat-kalimat menohok menghinakan bersliweran melalui status atau komentar yang tanpa kewarasan mencacah sendi-sendi kemanusiaan.

Media sosial berubah menjadi “medan kurusetra” yang mempertontonkan watak asli manusia sebagai “homo homini lupus”, yang dengan tanpa ampun menikam lawan secara kejam. Tak banyak kata-kata bijak yang meneduhkan. Sedikit ditemukan tuturan yang menyejukkan. Seolah kalimat harus dibuat padat dan ringkas sebagai palu godam yang melumpuhkan.

Politik kekuasaan bukanlah jalan cinta. Ia adalah jalan yang penuh tipu daya, muslihat dan siasat mencelakakan. Di jalan politik mereka yang tak sama dalam kepentingan dan tujuan adalah “the other”, lawan, atau musuh yang harus ditundukkan dan dikalahkan.

Jalan politik memang bukan jalan cinta, sebab mata lalatlah yang dipakai. Pandangannya hanya diarahkan hanya untuk mencari dan mengetahui sesuatu yang busuk dan kotor (kekurangan dan kesalahan) dari lawan. Jalan politik memang bukan jalan cinta, sebab sebagaimana dikatakan Jalaluddin Rumi “pada jalan cinta, teman dan orang asing adalah satu dan sama”.

Dr. Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *