HomeBeritaBeritaRumah Makan Mimi Encas Jadi Simbol Komunikasi Politik dalam Merawat Konstituen

Rumah Makan Mimi Encas Jadi Simbol Komunikasi Politik dalam Merawat Konstituen

Rumah Makan Mimi Encas Jadi Simbol Komunikasi Politik dalam Merawat Konstituen

UINSGD.AC.ID (Humas) – Jurusan Ilmu Komunikasi sukses menyelenggarakan Diskusi Ilmiah Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung bertajuk “Komunikasi Politik Simbolik Rumah Makan Mimi Encas dalam Menjejaring dan Merawat Konstituen”  yang berlangsung di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Bandung, Kamis (8/10/2026).

Diskusi ini membahas bagaimana aktivitas sosial Rumah Makan Mimi Encas di Majalengka dapat menjadi bentuk komunikasi politik yang membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.

Menariknya, dalam Diskusi Ilmiah ini menghadirkan dua Narasumber Ir. H. Ateng Sutisna, MBA, Anggota DPR RI Fraksi PKS Dapil Jabar IX Komisi XII, dan Dr. H. Cecep Suryana, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi Politik sebagai narasumber yang ahli di bidangnya.

Dalam kegiatan itu, Korps Protokol Mahasiswa Jurusan (KPMJ) Ilmu Komunikasi berperan sebagai tim protokol yang menyiapkan serta mendukung keberlangsungan kegiatan dari awal hingga akhir penyelenggaraan.

Diskusi Ilmiah Mahasiswa UIN Bandung turut di hadiri dan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Prof. Dr. H. Enjang AS., MSi., M.Ag., CICS yang didampingi oleh Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Dr. H. Encep Dulwahab, S.Sos., M.I.Kom.

Dalam sambutannya, Kang Enjang sapaan akrabnya menekankan pentingnya diskusi sebagai ruang untuk membangun empati dan menerima perbedaan pendapat. Menurutnya, kesiapan dalam menghadapi perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang sehat, baik di lingkungan akademik maupun kehidupan sehari-hari.

“Jika tidak siap dengan perbedaan, maka kita akan disebut sebagai orang yang kalah karena tidak siap bersaing dan tidak siap mengakomodasi perbedaan dari orang lain,” ujarnya dalam pembukaan Diskusi Ilmiah Mahasiswa UIN Bandung.

“Komunikasi politik tidak hanya dipelajari di dalam kelas, tetapi dapat dipahami melalui diskusi ilmiah yang menghubungkan teori dengan praktik di tengah masyarakat,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Ateng menjelaskan konsep Rumah Makan Mimi Encas yang menerapkan prinsip “Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya.” Rumah makan ini terbuka bagi berbagai kalangan, mulai dari guru, anak PAUD, kelompok pengajian hingga masyarakat umum. Konsep tersebut memungkinkan masyarakat untuk tetap makan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Bagi Ateng, kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan. Sebagian hasilnya digunakan untuk kegiatan sosial seperti sumbangan ke masjid dan anak yatim. Rumah makan kebanggaan urang Sunda ini melibatkan relawan sebagai tenaga kerja serta menggunakan beras yang berasal dari sawah sendiri.

“Jadi budget per hari 150 kg beras, untuk tenaga kerja adalah relawan dan beras dari sawah sendiri. Dengan modal awal 600 ribu,” jelas Ateng.

Selain konsep makan seikhlasnya, Ateng memperkenalkan “warung jujur” yang hanya mencantumkan harga makanan dan mengandalkan kejujuran dari pembeli. “Berbagai kegiatan itu menjadi bagian dari upaya berdakwah, membangun kebersamaan sekaligus menunjukkan bahwa hubungan antara anggota dewan dengan masyarakat tidak semata-mata bersifat transaksional,” ujarnya.

Cecep menjelaskan bahwa aktivitas Rumah Makan Mimi Encas dapat dipahami melalui perspektif komunikasi politik simbolik. Ia menilai bahwa politik saat ini tidak cukup hanya disampaikan melalui spanduk, tetapi melalui tindakan yang menunjukkan kepedulian dan kehadiran seorang politisi di tengah masyarakat. “Simbolnya saya peduli, saya hadir, saya bagian dari kalian,” ujarnya.

Melanjutkan pembahasan, Cecep memaparkan beberapa simbol yang terdapat di Rumah Makan Mimi Encas, seperti konsep makan gratis atau seikhlasnya, nama “Mimi Encas”, dan keberadaan kotak infak. “Kehadiran simbol-simbol itu dapat menciptakan keterikatan emosional antara masyarakat dengan figur politik, layaknya hubungan masyarakat dengan rumah makan yang mereka anggap dekat dengan kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Meski demikian, komunikasi politik melalui aktivitas sosial memiliki tantangan tersendiri. Cecep menekankan pentingnya keberlanjutan dan transparansi agar simbol-simbol tersebut tidak hanya dipandang sebagai bentuk pencitraan.

Diskusi Ilmiah ini diikuti oleh mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Hubungan Masyarakat, Manajemen Dakwah serta Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) yang menunjukkan antusiasme terhadap isu mengenai komunikasi politik dan Rumah Makan Mimi Encas. Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar peserta khususnya Generasi Z dapat memahami berbagi perspektif sehingga mampu membawa dampak yang baik bagi masyarakat. (Rima Khoerunnisa / Kontributor)

Warung Mimi Encas Majalengka. (Foto: Istimewa detik Jabar)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *