Transformasi Perpustakaan Digital Berbasis Nilai Kemanusiaan di Era Society 5.0
UINSGD.AC.ID (Humas) — Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang masif menuntut perpustakaan perguruan tinggi untuk berevolusi. Bukan sekadar menyediakan koleksi fisik, perpustakaan kini dituntut menghadirkan layanan informasi yang terintegrasi, mudah diakses, dan mampu menjawab kebutuhan peradaban digital tanpa kehilangan ruh kemanusiaannya.
Tantangan dan transformasi ini menjadi fokus utama dalam Studium Generale Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berlangsung di Aula Anwar Musaddad, Kampus I, Senin (28/9/2026).
Mengangkat tema “Konvergensi Informasi dan Transformasi Layanan Perpustakaan Digital di Era Society 5.0”, kegiatan ini menghadirkan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., dan Kepala Bagian Umum Perpusnas RI, Chaerul Umam, S.S., M.L.I.M., Ph.D., sebagai narasumber. Acara ini dipandu oleh akademisi FAH, Ajeng Intan Legi Novita Sarip, S.I.Pus., M.I.Kom.

Kolaborasi Manusia dan Kecerdasan Buatan
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Pendidikan Adab, Humaniora, dan Perpustakaan di Era Masyarakat 5.0: Quo Vadis, Faina Tadzhabun?”, Prof. E. Aminudin Aziz menjelaskan perkembangan zaman membawa disrupsi besar di dunia kerja sebagaimana ramalan Jeremy Rifkin (1995) tentang hilangnya pekerjaan rutin serta laporan World Economic Forum mengenai pekerjaan yang bertumbuh cepat (fastest growing) dan menyusut (fastest declining) menuju tahun 2030.
Di era saat ini, ledakan kecerdasan buatan (KB) dan banjir informasi digital mengubah cara manusia berpikir, bekerja, dan berinteraksi sosial. “Untuk menghadapi pergeseran tersebut, manusia dituntut beradaptasi agar tetap relevan, bermakna, dan berdaya melalui pengembangan keahlian baru di bidang teknologi dan analitis,” jelasnya.
Evolusi menuju masyarakat 5.0 (Society 5.0) bukan bertujuan membatasi atau mengurangi teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi berpusat pada nilai kemanusiaan, budaya, dan kesejahteraan bersama. Masa depan tidak hanya ditentukan oleh satu disiplin ilmu saja. “Inovasi yang hakiki lahir ketika humaniora yang memberi makna dan konteks berpadu dengan sains, teknologi, dan kecerdasan buatan. Pendekatan berpikir lintas disiplin (interdisciplinary thinking) menjadi krusial agar permasalahan kompleks dapat dilihat dari berbagai sudut pandang secara utuh,” ujarnya.
Kecerdasan buatan memiliki kemampuan luar biasa dalam membangkitkan (generate), meringkas, menerjemahkan, dan meramalkan data. Akan tetapi, kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan peran fundamental manusia dalam memaknai, mengambil keputusan, beretika, dan menentukan tujuan hidup. “Hubungan masa depan antara manusia dan kecerdasan buatan bukanlah kompetisi, melainkan kolaborasi saling melengkapi di mana individu yang unggul adalah mereka yang mampu menguasai keduanya secara bertanggung jawab,” paparnya.
Di tengah melimpahnya konten dari mesin pencari, media sosial, dan teks otomatis yang rawan disinformasi, tantangan utama bergeser dari akses informasi menjadi kemampuan memilah, memverifikasi, dan memaknainya. “Literasi harus bertransformasi dari sekadar literasi membaca konvensional menuju literasi informasi dan kecerdasan buatan. Tahapan literasi kini menuntut alur komprehensif mulai dari membaca (read), menemukan sumber yang tepat (find), menilai kredibilitas (evaluate), memeriksa kebenaran (verify), menciptakan wawasan baru (create), hingga penggunaan yang beretika (use responsibly),” bebernya.
Konsep perpustakaan kini bertransformasi dari sekadar ruang fisik penyimpanan buku yang pasif menjadi ekosistem hidup yang mengintegrasikan pengetahuan, masyarakat, dan teknologi. Sejalan dengan itu, stigma negatif terhadap pustakawan dipatahkan melalui pembaruan citra (jenama baru) mulai dari pustakawan diposisikan sebagai garda terdepan ilmu pengetahuan, rujukan masyarakat berbasis inklusi sosial, pewaris peradaban, hingga influencer positif di tengah komunitasnya.
“Keberadaan perpustakaan tidak dapat digantikan oleh teknologi karena fungsinya yang vital dalam memandu literasi kecerdasan buatan, verifikasi sumber, etika digital, dan literasi riset,” tuturnya.
Penajaman keterampilan manusia dan arah kebijakan strategis. Fokus utama kapabilitas manusia bertumpu pada Human Agency, yaitu kemampuan untuk memilih, memberi makna, dan bertanggung jawab yang didukung oleh berpikir kritis, kreativitas, komunikasi empatik, kolaborasi, adaptabilitas, serta etika moral.
Sebagai langkah konkret, dirumuskan lima agenda strategis: Human-Centred Education, Kecerdasan Buatan dan Literasi Informasi, Revitalisasi Humaniora, Perpustakaan Transformatif, dan Kedaulatan Pengetahuan (Knowledge Sovereignty). “Keberhasilan Indonesia dalam menyongsong Society 5.0 bertumpu pada upskilling, reskilling, serta adaptasi kurikulum yang menempatkan humaniora dan perpustakaan sebagai fondasi utama infrastruktur peradaban bangsa,” jelasnya.

Peluang Profesi dan Integritas Akademik
Chaerul Umam, S.S., M.L.I.M., Kepala Bagian Umum Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), membahas peran Perpusnas dalam mendukung studi, riset, dan masa depan profesi. Perpustakaan mendukung setiap tahap perjalanan akademik mahasiswa dan lulusan, mulai dari memahami materi perkuliahan, menyusun tugas, menemukan topik riset, hingga menyusun skripsi dengan bukti dan rujukan yang dapat diperiksa. Setelah lulus, perpustakaan dapat menjadi sumber untuk memperoleh pengetahuan baru serta mengembangkan kecakapan yang dapat ditunjukkan melalui portofolio.
Untuk menghadapi era AI, Chaerul menekankan pentingnya mempertahankan integritas akademik. “AI memang membantu menemukan kata kunci atau merangkum informasi di tahap awal, namun manusia yang harus menilai ketepatan sumber, makna, dan konteksnya. Bukti dan konteks tetap menjadi dasar pertanggungjawaban ilmiah,” jelasnya.
Chaerul memetakan luasnya peluang lulusan ilmu perpustakaan dan humaniora di masa depan. Profesi ini akan bergeser dan berkembang menjadi pendamping riset, pengelola repositori dan metadata, kurator data, hingga spesialis digital humanities yang bertugas mengevaluasi keluaran AI dan mendokumentasikan memori budaya.
Dengan adanya kegiatan akademik ini, FAH UIN Bandung berharap sivitas akademika dapat merespons konvergensi informasi dengan tepat. Perpustakaan di era Society 5.0 tidak boleh berhenti pada tahap digitalisasi koleksi, tetapi harus terus bergerak menjadi pusat layanan pengetahuan yang mencerahkan, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan peradaban.
Dekan FAH UIN Bandung, Dr. H. Dedi Supriadi, S.Ag., M.Hum., berharap bahwa transformasi digital telah mengubah cara sivitas akademika dalam memproduksi dan memanfaatkan pengetahuan.
“Perpustakaan tidak lagi hanya dipahami sebagai ruang penyimpanan buku, tetapi berkembang menjadi ekosistem hidup yang mendukung pembelajaran dan riset. Melalui Studium Generale ini, kami mendorong mahasiswa untuk melihat perpustakaan digital bukan semata sebagai perubahan teknologi, melainkan perubahan budaya pengelolaan pengetahuan yang lebih adaptif di era Society 5.0,” tuturnya.






