Ini Cara Salat Istisqa untuk Meminta Turun Hujan

Ilustrasi gambar AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Kemarau panjang melanda sejumlah wilayah di Indonesia hingga mengakibatkan kekeringan, krisis air bersih, dan juga kebakaran hutan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengingatkan bahwa kondisi musim kemarau 2026 di sebagian wilayah Indonesia cenderung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, serta kebakaran hutan dan lahan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat bahwa kekeringan dan karhutla menjadi bagian dari kejadian yang menonjol di sejumlah wilayah selama musim kemarau 2026. Kondisi tersebut antara lain berdampak pada berkurangnya sumber air masyarakat serta meningkatnya kejadian kebakaran lahan.

Beragam peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menghadapi kekuatan alam. Karena itu, selain melakukan mitigasi, penanganan darurat, pengelolaan sumber daya air, pencegahan kebakaran, serta mengikuti arahan lembaga kebencanaan, umat Islam juga dianjurkan memperkuat ikhtiar spiritual melalui doa, taubat, istighfar, dan Salat Istisqa ketika menghadapi kekeringan dan kebutuhan terhadap turunnya hujan.

Apa itu Salat Istisqa?

Salat Istisqa merupakan salat sunah yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika masyarakat mengalami kekeringan atau tidak mendapatkan curah hujan yang mencukupi dalam waktu yang cukup lama.

Pelaksanaan Salat Istisqa tidak dimaksudkan menggantikan langkah penanganan dan mitigasi yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat. Ikhtiar spiritual harus berjalan beriringan dengan ikhtiar lahiriah, seperti pencegahan karhutla, penghematan dan distribusi air bersih, perlindungan sumber mata air, rehabilitasi lingkungan, serta kepatuhan terhadap informasi dan peringatan dini dari instansi yang berwenang.

Dalam konteks kebakaran hutan dan lahan, masyarakat juga tetap harus menghindari pembakaran lahan, meningkatkan kewaspadaan terhadap titik api, serta mengikuti arahan pemerintah dan petugas di lapangan. Dengan demikian, Salat Istisqa menjadi bagian dari keseimbangan antara ikhtiar manusia dan ketergantungan kepada Allah SWT.

Dianjurkan Berpuasa Sebelum Salat Istisqa

Sebelum pelaksanaan Salat Istisqa, pemerintah daerah, tokoh agama, atau pihak terkait dapat mengajak masyarakat untuk melaksanakan puasa selama tiga hari. Selama masa tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak taubat, istighfar, doa, sedekah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Pada hari keempat, masyarakat berkumpul di lapangan atau tempat terbuka pada pagi hari untuk melaksanakan Salat Istisqa secara berjamaah. Waktu pelaksanaannya sebagaimana waktu Salat Idulfitri dan Iduladha.

Masyarakat dianjurkan menghadiri Salat Istisqa dengan penuh kerendahan hati, menghadirkan kesungguhan dalam berdoa, serta menyadari bahwa hujan merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang sangat menentukan keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Tata Cara Salat Istisqa

Salat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah. Sebelum salat, jemaah berniat melaksanakan Salat Istisqa. Lafal niat yang dapat dibaca adalah:

أُصَلِّي سُنَّةَ الِاسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

“Ushallī sunnatal-istisqā’i rak‘ataini mustaqbilal-qiblati imāman/ma’mūman lillāhi ta‘ālā.”

Artinya: “Saya berniat Salat Sunah Istisqa dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala.”

Pelaksanaan Salat Istisqa pada prinsipnya menyerupai Salat Id. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram dilakukan takbir sebanyak tujuh kali. Selanjutnya imam membaca Surah Al-Fatihah dan surah atau ayat Al-Qur’an, kemudian rukuk, iktidal, sujud, dan menyelesaikan rakaat pertama.

Pada rakaat kedua dilakukan takbir sebanyak lima kali. Setelah itu imam membaca Surah Al-Fatihah dan surah atau ayat Al-Qur’an, dilanjutkan dengan rukuk, iktidal, sujud, tahiyat akhir, dan salam.

Khutbah Ajak Umat Bertaubat dan Perbanyak Istighfar

Setelah pelaksanaan salat, khatib menyampaikan khutbah kepada jemaah. Khutbah Salat Istisqa terdiri atas dua khutbah yang disampaikan dengan berdiri dan diselingi duduk di antara keduanya.

Dalam khutbah, khatib dianjurkan memperbanyak istighfar serta mengajak umat Islam melakukan taubat secara sungguh-sungguh atas segala dosa dan kesalahan. Khatib juga dapat mengingatkan bahwa kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, krisis air, maupun berbagai bencana alam lainnya harus menjadi momentum untuk melakukan introspeksi sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Taubat dalam konteks ini tidak cukup dipahami hanya sebagai ucapan istighfar. Kesadaran spiritual juga perlu diwujudkan melalui perilaku nyata dengan tidak merusak lingkungan, tidak membakar hutan dan lahan sembarangan, menjaga sumber air, menghindari pemborosan air, serta bersama-sama menjaga keseimbangan alam.

Khatib disunnahkan memperbanyak takbir pada awal khutbah, yakni sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua.

Khatib Menghadap Kiblat dan Membalik Selendang

Dalam rangkaian doa Salat Istisqa, khatib disunnahkan menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, serta membalik atau memindahkan posisi selendang yang dikenakannya.

Pembalikan selendang tersebut mengandung pengharapan agar Allah SWT membalikkan keadaan masyarakat dari kekeringan menjadi turunnya hujan, dari kesulitan menuju kemudahan, dan dari kondisi yang berat menuju keadaan yang lebih baik.

Pada saat tersebut, seluruh jemaah memperbanyak doa dan memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang bermanfaat, mencukupi kebutuhan air masyarakat, menyuburkan tanah dan tanaman, membantu memulihkan wilayah yang mengalami kekeringan, serta mendukung upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Hujan yang dimohonkan adalah hujan yang membawa rahmat dan manfaat, bukan hujan yang mendatangkan bencana.

Ikhtiar Spiritual Disertai Mitigasi

Pelaksanaan Salat Istisqa hendaknya sekaligus menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa menghadapi bencana membutuhkan ikhtiar secara menyeluruh.

Dalam menghadapi kekeringan dan karhutla, masyarakat tetap harus melakukan langkah pencegahan, menjaga ketersediaan air, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta mengikuti peringatan dini pemerintah.

Begitu pula ketika menghadapi erupsi gunung api, Salat Istisqa maupun doa tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan rekomendasi keselamatan. Masyarakat harus tetap mengikuti informasi resmi, menjauhi kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya, serta mengikuti arahan evakuasi apabila diperintahkan oleh pihak berwenang.

Ikhtiar lahiriah dan batiniah bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru harus dilaksanakan secara beriringan.

Salat Istisqa pada akhirnya tidak hanya menjadi permohonan agar hujan diturunkan. Lebih dari itu, pelaksanaannya menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali kepada Allah SWT, memperbanyak taubat dan istighfar, meningkatkan solidaritas kepada masyarakat terdampak bencana, serta memperbaiki cara manusia memperlakukan alam.

Di tengah kekeringan, karhutla, erupsi gunung api, dan berbagai ancaman bencana yang terjadi di Indonesia, kesadaran spiritual tersebut diharapkan melahirkan kesadaran sosial dan ekologis: berdoa kepada Allah SWT, membantu sesama, menjaga lingkungan, serta melakukan berbagai langkah nyata untuk mengurangi risiko bencana. (Tim Mimbar Islam / Kontributor)

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *