UINSGD.AC.ID (Humas) — Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Moderasi Beragama UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Desa Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, mendorong penguatan toleransi, kepedulian lingkungan, dan kebersamaan masyarakat.
Selama sebulan, mahasiswa berkolaborasi dengan pemerintah desa, tokoh agama, tokoh budaya, Karang Taruna, dan masyarakat melalui program moderasi beragama, ekoteologi, dan Kurikulum Cinta.
Program yang dilaksanakan melalui Rumah Moderasi Beragama UIN Bandung itu ditutup di Aula Desa Pangandaran pada 24 Agustus 2026. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program pengabdian, tetapi berusaha membangun komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., M.A., menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Pangandaran dan seluruh unsur masyarakat yang telah menerima serta mendukung pelaksanaan KKN.
“Terima kasih kepada Kepala Desa Pangandaran beserta jajaran, tokoh agama, tokoh budaya, Karang Taruna, dan tokoh masyarakat yang telah menerima dan mengarahkan peserta KKN,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Ushuluddin ini menegaskan tiga fokus utama KKN meliputi moderasi beragama melalui dialog lintas agama dan literasi keagamaan inklusif, ekoteologi melalui kepedulian terhadap lingkungan, serta Kurikulum Cinta yang menempatkan kasih sayang dan kepedulian sebagai pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat.
Dalam aspek lingkungan, mahasiswa turut mendorong pengelolaan sampah dengan menyiapkan tempat pembuangan sampah.
Sementara dalam bidang pendidikan dan sosial keagamaan, mahasiswa memberikan edukasi kepada siswa di masjid dan sekolah serta mempertemukan tokoh agama, tokoh budaya, dan tokoh masyarakat.
Kepala Desa Pangandaran Adi Fitriadi, S.IP., mengapresiasi kontribusi mahasiswa dalam mendukung program desa.
“Terima kasih kepada peserta KKN yang telah membantu program kerja Desa Pangandaran, terutama dalam pemeliharaan lingkungan dan pengelolaan sampah, serta memberikan pendidikan kepada siswa di masjid dan sekolah,” katanya.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam mempertemukan berbagai elemen masyarakat turut membantu menjaga kondusivitas Pangandaran sebagai daerah wisata.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Grebeg Tumpeng di Dusun Barat Pangandaran pada 27 Agustus 2026. Tradisi tahunan ini menjadi ungkapan syukur masyarakat atas hasil bumi dan laut sekaligus momentum memperkuat silaturahmi dan gotong royong.
Acara diawali doa bersama yang dipimpin Ketua MUI Desa Pangandaran, yang dilanjutkan dengan prosesi Grebeg Tumpeng dan ngariung bersama warga serta pengunjung.
Kepala Dusun Barat Pangandaran, Suryanti, menilai Grebeg Tumpeng tidak hanya menjadi tradisi budaya, tetapi juga memiliki potensi sebagai sarana memperkuat gotong royong dan daya tarik wisata budaya lokal.
“Keterlibatan mahasiswa KKN dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan nilai moderasi beragama dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat,” jelasnya.
Tradisi ngariung yang menutup rangkaian kegiatan memperlihatkan semangat kebersamaan yang menjadi salah satu pesan penting dari pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat.

